
"Mas Jino apa betul kamu mencintai Dara?" tanya Sofia.
Jino menunduk malu. "Betul, tapi dari mana anda tahu?" tanya Jino pada wanita yang sedang hamil itu.
"Saya tidak sengaja mendengar pembicaraan anda dengan Dara," jawab Sofia sambil tersenyum.
Jino tiba-tiba menghela nafas. "Dia tidak mau sama saya. Saya pernah menyatakan cinta tapi dia menolak dengan alasan akan mencari laki-laki yang dia sukai," ungkap Jino. Raut wajahnya tiba-tiba berubah.
"Saya paham perasaan Mas Jino. Mas Jino tahu siapa yang disukai oleh Dara?" tanya Sofia. Dia ingin Jino berpikir.
"Saya tahu tapi saya tidak akan menyebutnya di depan anda," jawab Jino. Ya, melihat Sofia yang begitu baik dan ramah dia tidak mau menyakiti wanita hamil itu.
"Apa yang anda maksud adalah suami saya?" tebak Sofia. Jino mengangguk pelan.
"Apakah anda sudah tahu dari dulu? Jangan marah pada Dara. Saya akan menyadarkan dia supaya dia menjauh dari suami anda," janji Jino.
"Saya memang ingin meminta bantuan pada anda soal itu. Dara sengaja mengajak suami saya ke sini agar bisa berduaan di jalan dengan suami saya. Tapi saya punya akal untuk menghindari niatnya itu. Dia tidak benar-benar mencintai suami saya jika niatnya memisahkan saya dengan suami saya. Itu lebih ke obsesi negatif," terang Sofia panjang lebar.
"Saya tahu, tapi bagaimana cara kita menghentikan dia tanpa melukai perasaannya? Delapan tahun saya menunggu Dara tapi sampai saat ini dia masih menutup hatinya." Jino merasa bingung.
"Coba sekali lagi Mas Jino. Siang ini kakek akan dibawa ke kota. Apa anda mau ikut?" tanya Sofia.
"Tapi saya punya pekerjaan di sini. Saya tidak bisa seenaknya bolos bekerja," jawab Jino.
"Bagaimana kalau cuti sehari. Temani Dara selama di sana. Saya janji akan bantu Mas Jino sebisanya," bujuk Sofia. Sofia membuka tas lalu memberikan kartu nama miliknya. Ini kartu nama saya simpanlah.
Tak lama kemudian David keluar. Dia khawatir dengan istrinya maka dia menyusul Sofia. Tapi dia melihat Sofia berbicara dengan Jino. David tidak cemburu karena dia tahu Sofia tidak mungkin selingkuh dengan orang yang baru saja dia temui.
"Sayang," panggil David. Sofia pun datang mendekat. "Ya Mas." Sofia berjalan ke arah suaminya.
"Ngomongin apa sih?" tanya David penasaran.
"Nanti akan aku ceritakan jika kita sudah sampai di kota," jawab Sofia.
Saat keduanya masuk mereka melihat Dara menyuapi Aksa dengan telaten. "Mau nambah lagi apa tidak?" tanya Dara dengan lembut. Aksa menggeleng.
__ADS_1
"Terima kasih Dara sudah menyuapi Aksa," ucap Sofia. Dara tersenyum tapi setengah terpaksa karena tak mau terlihat jelek di mata David.
Kemudian pada pukul sebelas siang, ambulans datang ke rumah Kakek Firman. Banyak warga yang berkumpul di halaman rumah Kakek Dara itu karena mereka ingin melihat ketika kakek Firman dibawa ke kota.
"Pak, kami berangkat ke rumah sakit dulu," pamit David pada Pak Somat. Sofia juga berpamitan pada laki-laki itu. Ketika Dara akan memasuki mobil David, Pak Somat menegurnya.
"Dara apa kamu tidak menemani kakekmu?" tanya Pak Somat. Dara pun urung memasuki mobil David. Dia masuk ke dalam mobil ambulans untuk menemani kakeknya. Dia sangat kesal. Sofia diam-diam mengulas senyum.
Sebelum berangkat dia menoleh ke arah Jino. Dia harap Jino mengerti maksud Sofia. Sofia ingin Jino menyusul Dara ke kota.
"Sayang, tidurlah! Aku tahu kamu kurang istirahat," kata David pada istrinya.
"Mas jika Mas David capek kita berhenti di rest area saja," usul Sofia. David mengangguk setuju.
Sementara itu Aksa menatap ke luar. Dia antusias ketika melihat jalanan yang mereka lewati. "Ternyata sangat jauh ya kampung halaman Bu Dara," ucapnya polos.
"Sayang, kamu nggak tidur?" tanya Sofia.
"Belum ngantuk," jawabnya. "Bu, adek lagi apa di perut ibu? Sudah lama aku tidak menciumnya," kata Aksa. David dan Sofia terkekeh.
"Iya, kapan dia akan lahir, Yah?" tanya Aksa tidak sabar.
"Masih kurang dua bulan lagi," jawab David. Ya, usia kandungan Sofia saat ini menginjak tujuh bulan.
"Mas, mama bilang mau adain acara tujuh bulanan. Acaranya pengajian aja di rumah mama," terang Sofia.
"Boleh sayang. Kapan-kapan kita ke rumah mama ya." David mengusap kepala istrinya. David memang sesayang itu pada keluarganya.
Sepanjang perjalanan Sofia dan Aksa tertidur. David berusaha terjaga agar mereka bisa selamat. Enam jam berkendara akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Mobil ambulan itu berhenti tepat di depan ruang UGD.
David membangunkan istri dan anaknya. "Sayang, kita sudah sampai," ucapnya memberi tahu.
Setelah itu mereka turun. David memberi tahu pihak rumah sakit agar memberikan pelayanan kesehatan terbaik untuk Kakek Firman.
"Mas David terima kasih banyak ya sudah menolong. Aku tidak akan melupakan kebaikan Mas David," kata Dara.
__ADS_1
"Aku hanya membantu sebisaku Dara. Jadi kamu tidak perlu sungkan," jawab David.
Ketika David akan pergi, Dara mencekal tangannya. "Mas boleh aku bicara jujur padamu?" tanya Dara meminta izin.
Sofia melihat Dara sedang mendekati suaminya. Dia tidak mau Fara mengungkapkan perasaannya di depan David. Dia takut David berpaling darinya. Maka Sofia pun berjalan agak cepat ke arah suaminya. Namun, rupanya dia terlambat.
"Mas sebenarnya aku menyukaimu," ungkap Dara. Dia sengaja menatap mata David. Tapi David memalingkan wajahnya. Di saat yang bersamaan dia melihat sang istri berdiri mematung di seberang sana.
"Astaghfirullah Dara apa yang kamu ucapkan ini tidak benar."
"Mas aku rela mencarimu selama delapan tahun. Kini aku menemukanmu tapi kamu tidak menghargai usahaku."
"Dara kamu tahu dari awal kalau aku sudah menikah."
"Aku tahu Mas. Aku rela jadi istri kedua kamu," balas Dara dengan keinginannya yang kuat.
Plak
Sofia menampar Dara. "Aku sudah bersabar tapi kamu malah tambah kurang ajar. Bagaimana caraku untuk menyadarkan kamu Dara? Apa kamu tidak punya malu memaksa lelaki yang beristri untuk menikahi kamu?" banyak Sofia.
Kesabarannya sudah habis karena Dara sangat keterlaluan. "Yang, sudah Yang." David coba menenangkan istrinya.
Aksa yang melihat ibunya menampar Dara seketika menangis. David kemudian mengendong Aksa dan menjauhkannya. Dia membiarkan Sofia menghadapi Dara. Selama ini David tahu kalau diam-diam Dara memberi perhatian padanya. Tapi David menjaga diri agar tidak terjerumus ke gerbang perselingkuhan.
Dia yang memperjuangkan Sofia sejak lama tak mungkin meninggalkan istrinya. Terlebih Sofia tengah mengandung anak keduanya.
"Jahat kamu Sofia." Dara berpura-pura menangis.
Sofia tersenyum sinis. "Orang-orang di sini tidak akan masuk perangkap kamu yang menggunakan trik murahan itu. Kamu pikir dengan berpura-pura menangis mereka akan iba padamu? Jangan membuang air matamu sia-sia."
...♥️♥️♥️...
Mana dukungannya?
jujur mau ngusir Dara ini susah jadi othor melupakan kemarahan Sofia
__ADS_1