
Pagi ini Fabian menjemput Lidia di rumahnya. Ketika sampai di depan rumah Lidia, Fabian membunyikan klakson mobilnya. Lidia dan Diva keluar dari rumah setelah berpamitan dengan orang tua mereka.
Entah kenapa Lidia pagi ini kelihatan cantik. Fabian sampai bengong melihatnya.
"Ayo, berangkat!" seru Lidia.
Suara Lidia membuyarkan lamunan Fabian. Pemuda itu pun mulai mengendarai mobil menuju ke sekolahan April dan Diva terlebih dulu.
"Laper banget nih, Kak. Gara-gara nggak sempat sarapan tadi," kata Diva seraya memegang perutnya.
"Kamu sih, Dek. Semalam dibilangin jangan nonton drakor sampai malam masih aja bandel," omel Lidia.
"Tenang aja, Div. Aku bawa bekal, nanti bekal aku buat kamu aja." April memberikan bekal yang dia bawa untuk Diva. Diva menerimanya.
"Makasih, Pril."
Fabian melirik ke arah Lidia. "Lo mau juga, Lid?" tanya Fabian.
"Nggak, gue udah makan," tukasnya.
"Owh, padahal tadi gue mau ngasih bekal gue ke elo." Wajah Lidia bersemu merah ketika mendengar ucapan Fabian. April dan Diva menahan senyum.
Setelah sampai di depan sekolah April, terlihat Aksa berdiri di depan mobilnya. Dia sedang menunggu kedatangan April. April cepat-cepat turun setelah Fabian menghentikan mobil. Gadis itu menghampiri Aksa, sang kekasih.
"Kirain nggak datang," kata April sambil memeluk Aksa. Semalam mereka sudah janjian untuk bertemu sebelum bel masuk di depan sekolah April. Menurut April dan Aksa di sekolah adalah tempat yang paling aman untuk bertemu.
"Kenapa nggak datang?" Sesaat kemudian Aksa mengurai pelukannya.
"Yang semangat ya, Aprilku sayang. Belajarnya yang rajin biar kita bisa satu kampus nanti." Aksa memberikan semangat pada kekasihnya.
"Iya, Mas Aksaku sayang. Aku masuk dulu ya," pamit April malu-malu.
Sementara itu dia dalam mobil Fabian masih mengawasi adiknya. Diam-diam Lidia mengamati wajah Fabian. "Lo nggak rela kalau adik lo sama dia?" tanya Lidia.
Fabian menoleh sekilas pada Lidia. "Berisik lo!" Setelah itu dia melajukan mobil.
"Woi, Fab. Tadi gue tanya kenapa lo diem aja pas April sama Aksa ketemuan di depan sekolah?"
"Gue nggak bisa larang mereka. Kasian April. Cuma Dafi yang bisa bikin semangat April balik lagi," jawab Fabian.a AQ
"Baik juga ya lo," puji Lidia. Entah kenapa Fabian merasa senang luar biasa dipuji oleh Lidia.
"Ngapain lo senyum-senyum sendiri? Kesambet lo," ledek Lidia.
"Jadi cewek kasar banget sih lo, Lid?" protes Fabian.
__ADS_1
"Suka-suka guelah," jawab Lidia ketus. "Lo nggak keberatan 'kan nganterin gue?" tanya Lidia.
"Kampus lo di mana?" tanya Fabian.
"Di kampus Persada," jawab Lidia.
Fabian tiba-tiba mengerem mendadak. "Apa? Kenapa bisa sama. Elo kuliah di sana, gue juga," kata Fabian menunjuk dirinya sendiri.
"Dih, bakal ketemu lo tiap hari dong gue?" cibir Lidia.
"Cih, siapa juga yang mau ketemu elo. Gue bakal pura-pura nggak kenal kalau ketemu lo di kampus," kata Fabian dengan yakin.
"Terserah."
Sesaat kemudian Fabian menghentikan mobilnya karena mereka sudah sampai di kampus. "Makasih, Fab," ucap Lidia sebelum turun.
Lidia pergi begitu saja setelah mengucapkan terima kasih. Fabian hanya menggelengkan kepalanya.
Fabian memasuki gedung tempat dia akan mendapatkan kuliah. "Fab, cewek yang turun dari mobil lo tadi siapa?" tanya teman sekelas Fabian.
"Teman," jawab Fabian singkat.
"Temen apa demen?" ledek teman Fabian.
"Berisik lo!"
"Ambil!" Fabian membanting tasnya.
"Set, kaya nggak rela aja lo."
Setelah selesai kuliah, Fabian menunggu Lidia di parkiran mobil. Ketika Lidia lewat di depannya, Fabian memanggil. "Lidia."
Lidia menoleh. "Apaan?" tanya Lidia.
"Elo bareng gue apa nggak?" tanya Fabian.
"Nggak gue mau ambil mobil di bengkelnya Axel," jawab Lidia.
"Ck, kalau nggak mau bareng paling nggak ngabarin." Fabian masuk ke dalam mobil lalu menyalakan mesin mobil. Dia terlihat sewot ketika Lidia menolak ajakannya.
Hari ini Lidia datang ke bengkel Axel. Dia baru saja turun dari taksi. Exel tentu senang cewek yang menjadi incarannya datang ke bengkel. "Selamat datang tuan putri." Axel menyambut kedatangan Lidia.
"Apaan sih lo? Lebay," cibir gadis berambut panjang itu.
"Mau ambil mobil 'kan?" tanya Axel.
__ADS_1
"Hm," jawab Lidia sekenanya.
"Masuk dulu yuk! Kita ngopi-ngopi," ajak Axel.
"Nggak, gue mesti ke kampus. Mobil gue udah jadi kan?" tanya Lidia.
"Ya elah Lid, elo nggak kangen apa sama gue."
"Dih, yang sopan ya lo. Umur gue lebih tua dari lo," sarkasnya.
"Umur nggak penting. Yang penting perasaan gue ke elo. Elo mau nggak jadi pacar gue? Nanti gue gratisin tiap kali elo bengkelin mobil di sini."
Beberapa karyawan Axel mendengarnya. Lidia menjadi malu karena Axel menembak tidak tahu tempat.
Lidia tertawa terbahak bahak. "Gila aja lo. Ngajak jadian kaya nawarin voucher promo aja. Kalau mau promo bukan gitu caranya, Bro. Pasang iklan di medsos, di televisi pasti laku."
"Nggak penting. Mau ya jadi pacar gue?" Axel sedikit memaksa.
"Jangan becanda mulu deh. Berapa total semuanya? Gue mau buru-buru balik ke kampus, ada kuliah tambahan," desak Lidia.
"Noh bayar ke kasir aja," tunjuk Axel dengan dagunya.
Lidia menepuk bahu Axel. "Yang sabar ya, Bro. Semoga elo bisa dapat cewek yang lebih baik dari pada gue," ledek Lidia diiringi tawa mengejek.
"Sialan lo Lid," umpat Axel kesal.
Lidia mengambil mobil setelah membayar tagihannya. Dia harus sampai ke kampus sebelum jam tiga sore ini. Sore ini jadwal dosen killer yang mengisi kelas. "Bisa malu kalau sampai Pak Eko menghukum gue."
Bukan tanpa alasan, dosen itu selalu menyuruh mahasiswanya berdiri di depan kelas sambil memegang telinga seperti anak kecil. Lidia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Tapi apesnya dia kena macet.
"Buset dah, napa ada acara macet segala sih?" Lidia memukul kendali setirnya karena kesal.
"Ah, udah. Aku nggak masuk kelasnya Pak Eko ini. Tamat udah nilaiku." Lidia rasanya ingin menangis.
"Coba aja tadi nggak pakai ambil mobil pasti gue nggak akan telat kek gini. Hua..."
Setengah jam kemudian Lidia baru sampai di kampus. Kuliah yang diisi oleh dosen bernama Pak Eko baru sudah dimulai sepuluh menit yang lalu.
"Masuk, nggak, masuk, nggak." Lidia jalan mondar-mandir di depan kelas.
Brug
Gadis itu tak sengaja menabrak seseorang. "Bangun!" Suara bariton itu sangat dikenali oleh Lidia.
Kira-kira siapa gays?
__ADS_1
...♥️♥️♥️...