
Sudah sebulan lebih David dan Sofia tinggal di apartemen yang dibeli David. Pagi ini Sofia tiba-tiba demam. Wajahnya terlihat pucat. "Sayang sebaiknya kamu istirahat saja di rumah," saran David pada istrinya.
"Hanya demam biasa setelah minum obat nanti juga sembuh," jawab Sofia.
"Apa kamu merasakan hal lain mungkin ingin mual muntah?" tanya David.
Sofia tersenyum. "Tidak, Mas. Aku hanya kecapekan."
"Tapi kamu perlu periksa sayang. Bagaimana kalau kita tes pakai alat tes kehamilan?" desak David. Dia berharap istrinya itu benar-benar hamil.
"Aku belum masak, Mas. Ini sudah mendekati jam kerja sebaiknya Mas David bersiap-siap," kata Sofia.
David mengerucutkan bibirnya. "Jangan cemberut gitu, Mas. Nanti gantengnya ilang," ledek Sofia.
Setelah itu David pun menyambar handuknya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Sofia dia memasak nasi goreng kesukaan suaminya. Dia merasakan mual ketika mencium aroma bawang tapi dia tahan agar dia tetap bisa membuat nasi goreng untuk sarapan.
"Nasi gorengnya sudah siap, Mas. Aku mandi dulu ya. Mas David sarapan duluan aja. Aku mau siap-siap," kata Sofia. David tak menjawab. Dia menuju ke meja makan setelah selesai berpakaian.
"Tumben ini nasi gorengnya asin," gumam David yang merasa nasi goreng istrinya kebanyakan garam.
Tak lama kemudian Sofia berjalan mendekat ke arah suaminya. "Ayo, Mas. Aku sudah siap."
"Lho kamu nggak sarapan sayang?" tanya David.
Sofia merasa eneg ketika melihat nasi goreng tersebut sehingga dia hanya memakan sereal pagi ini. "Aku sudah sarapan tadi sehabis masak," jawabnya. David sedikit heran kalau istrinya sudah sarapan berarti dia tahu kalau nasi gorengnya keasinan. Meski merasa janggal David tak mau membahasnya. Dia tidak mau istrinya merasa sedih.
"Mas, hari ini aku kunjungan ke rumah sakit jiwa. Tolong antarkan aku ke sana," kata Sofia.
"Baiklah, hubungi aku jika sudah selesai," pesan David pada istrinya.
"Aku cuma sebentar mungkin aku akan naik taksi saja pulangnya. Kamu pasti belum selesai praktek."
__ADS_1
"Ya sudah hati-hati pulangnya." Sofia mengangguk paham.
Setelah menurunkan Sofia di depan rumah sakit jiwa, David menuju ke rumah sakit tempat dia bekerja.
"Dok, pasien sudah banyak yang mengantri," lapor asisten David.
"Semua persiapan sudah?" tanya David.
"Sudah, Dok."
"Ya sudah kita buka praktek sekarang. Oh ya, nanti sore yang mau operasi sesar ajukan jadwalnya siang ini habis jam makan siang."
"Baik, Dok. Nanti akan saya infokan ke bagian ruangan."
Setelah itu David bersiap menerima pasien pertama. "Silakan duduk!" Perintahnya dengan ramah.
David mengamati wanita yang duduk di depannya terlihat masih muda. "Apa ini kali pertama anda memeriksakan kandungan?" tanya David pada pasiennya yang tak lain adalah Fania.
Pagi ini Fania melakukan tes urin dan hasilnya positif. Dia pun bergegas untuk pergi ke rumah sakit guna memastikan kondisi kehamilannya.
David tersenyum. "Anda masih kelihatan muda. Saya hanya asal menebak saja," jawabnya.
"Silakan berbaring di sana." David memerintahkan Fania tiduran untuk diperiksa dengan alat USG.
Usai pemeriksaan Fania mendapatkan foto hasil USGnya. Dia pun berniat memperlihatkan itu pada Leo. Ya, Fania hanya tidur dengan satu laki-laki yang sejak dulu dicintainya. Dia bukan wanita murahan. Hanya saja dia selalu menuruti kemauan Leo untuk tidur dengannya.
Akan tetapi setiap kali mereka berhubungan Leo selalu menggunakan pengaman. Tapi tidak di malam setelah Leo banyak minum karena patah hati ditinggal nikah Sofia.
Fania ingin Leo bertanggung jawab. "Ini akan jadi alasan untuk mengikatmu honey," gumam Fania seorang diri. Dia tersenyum licik membayangkan reaksi Leo.
Fania pun nekad datang ke kantor Leo. "Bisa bertemu dengan Leo?" tanya Fania pada resepsionis yang bertugas.
__ADS_1
"Pak Leo sedang tidak ada di ruangannya. Beliau ada tugas di luar kota sejak kemaren," jawabnya.
"Berapa hari? Kapan dia akan kembali?" tanya Fania penasaran.
"Kami belum tahu, Bu. Kalau ada sesuatu yang penting bisa sampaikan pada saya, nanti saya akan teruskan pada Pak Leo."
"Tidak usah. Saya akan menyampaikannya sendiri," tolak Fania. Dia pun pulang dengan perasaan kecewa. Rencananya untuk memberi tahu Leo gagal. Fania pun tak putus asa. Dia mencoba menghubungi Leo lewat telepon. Meski tersambung tapi Leo enggan mengangkatnya.
Fania ingin membanting ponselnya saking geramnya. "Dasar laki-laki sialan. Aku akan menunggumu Leo. Jika kamu tidak mau menerima anak ini, maka aku akan mengejarmu."
Sementara itu Sofia yang selesai melakukan pekerjaannya kini sedang menunggu taksi online yang telah dia pesan. Matahari lumayan terik hari ini. Baru berdiri sebentar kepala Sofia sudah terasa pusing. Beruntung taksi yang dia pesan sampai tepat waktu.
"Antarkan saya ke rumah," ucapnya pada sopir taksi tersebut. Sofia memilih pulang karena merasa badannya tidak enak. Tapi dia lupa mengabari suaminya.
Sedangkan David ada operasi sesar yang harus dia tangani siang ini. Meski sudah diajukan jamnya tapi dia tidak bisa langsung meninggalkan rumah sakit. Dia harus mengunjungi pasien-pasien lainnya yang sedang dirawat di ruangan.
"Selamat sore, Bu," sapa David ramah.
"Sore, Dok."
"Bagaimana hari ini apa ada keluhan?" tanya David pada pasiennya yang dirawat karena kehamilannya bermasalah.
"Tidak ada, Dok. Sudah membaik."
"Syukurlah," jawab David. Dia selalu bersikap ramah dan banyak tersenyum di hadapan semua pasiennya. Melihat wanita itu dia berharap perut istrinya juga cepat membesar.
Ngomong-ngomong soal Sofia, hari ini dia tidak banyak melakukan aktivitas mengingat tubuhnya yang begitu lemah. Dia menunggu kedatangan suaminya tapi tak kunjung tiba.
Sofia merasa haus. Namun, kepalanya mendadak pusing. Tapi kali ini begitu hebat hingga dia menjatuhkan gelas yang dia pegang. Di saat yang bersamaan tubuh Sofia tergeletak di lantai.
David merasa janggal ketika istrinya tidak kembali ke rumah sakit tempatnya bekerja. Dia pun pulang dengan mengendarai mobil dengan kecepatan penuh. Sesampainya di apartemen David membuka kunci apartemennya. Namun, dia tak melihat istrinya.
__ADS_1
David pun menyusuri setiap sudut rumahnya untuk mencari keberadaan sang istri. Betapa terkejutnya dia ketika mendapati istrinya tergeletak di lantai dapur.
David berjongkok. "Sayang, bangun!" Dia menepuk pipi Sofia tapi tak ada respon. David pun mengangkat tubuh Sofia. Dia akan membawanya ke rumah sakit agar segera mendapatkan pertolongan.