Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Niat terselubung


__ADS_3

"Dara, kok anak saya bisa sama kamu?" tanya David.


"Hah? Jadi mereka anak dan istri Mas David?" batin Dara terkejut. Sofia bisa menangkap hal tak di balik tatapan Dara ke suaminya.


"Mas kamu kenal dia?" tanya Sofia pada suaminya. David tersenyum.


David tersenyum. "Dia adalah orang yang telah menolongku ketika aku tenggelam di sungai waktu kecelakaan dulu," jawab David.


"Owh. Mas bagaimana kalau kita ke rumah sakit sekarang?" usul Sofia. "Bu Dara maaf kami harus ke rumah sakit sekarang," pamit Sofia seraya merangkul Aksa. Dia tidak mau suaminya lama-lama mengobrol dengan wanita itu.


"Tapi sepertinya Aksa sudah lebih baik," sahut Dara.


"Kami ke rumah sakit bukan untuk memeriksakan Aksa tapi aku akan memeriksa kehamilan istriku," jawab David.


"Hah? Istrinya hamil lagi?" batin Dara menjerit. Kenapa setelah sekian lama menanti lalu bertemu dia malah semakin jauh dengan pujaan hatinya.


"Oh, baiklah. Hati-hati," kata Fara tak bersemangat.


David dan keluarganya masuk ke dalam mobil. Mereka meninggalkan area sekolah. Sementara itu Dara hanya bisa memandang mobil David yang semakin menjauh.


"Mas, Bu Dara cantik ya?" tanya Sofia meminta pendapat.


"Semua wanita tentu cantik sayang. Meskipun dia cantik tapi di mataku hanya istriku yang paling cantik di dunia ini," jawab David. Sofia merasa lega mendengar jawaban suaminya. Diam-diam dia mengulas senyum.


David melirik istrinya. "Kenapa sayang? Kamu cemburu?" tebak David.


"Tidak, Mas. Aku hanya bertanya saja," elak Sofia. Dia menoleh ke belakang rupanya Aksa tengah tertidur.


"Kasian Mas Aksa, tadi dia sakit perut karena apa ya?" tanya Sofia pada suaminya.


"Nanti kita periksa dia juga di sana," usul suaminya. Sofia mengangguk setuju seraya mengelus perutnya yang masih rata.


Sesampainya di rumah sakit, David turun lebih dulu. Setelah itu dia membukakan pintu untuk istrinya. Sementara itu Aksa masih tertidur. David pun terpaksa menggendong anaknya.

__ADS_1


Sepanjang jalan menuju ke ruangan David, semua orang mengangguk hormat pada David dan keluarganya. Bagaimana pun Sofia pernah menjadi dokter yang bekerja di sana.


Kasa terbangun ketika merasakan tubuhnya bergerak. "Ayah aku ingin turun," pintanya. David pun menuruti perintah putranya itu.


"Eh, Aksa mau ikut lihat ibu periksa ya," tegur Safa ketika bertemu dengan keponakannya. Aksa mengangguk.


"Bagaimana kalau Aksa ikut aku sambil menunggu kamu memeriksa istrimu," izin Safa pada David. David mengangguk.


"Aksa kita beli permen yuk!" ajak Safa. Dia menggandeng tangan keponakannya itu.


David menggandeng tangan istrinya lalu mengajak dia periksa. "Aku akan memeriksa kondisimu sayang," kata David. Saat ini dia sudah tidak ada pasien jadi dia bisa memeriksa istrinya dengan teliti.


"Berta badannya cukup, dia juga berkembang sangat baik di sini, Alhamdulillah semuanya bagus sayang," kata David saat membaca layar monitor.


Sofia berdiri lalu dia merapikan kembali bajunya. "Apa kamu ada keluhan?" tanya David.


"Tidak ada, Mas. Aku juga tidak begitu mual dan muntah seperti kebanyakan wanita hamil lainnya," jawab Sofia.


"Syukurlah kamu di dalam sana baik-baik saja," ucap David mengajak bicara anak yang ada di dalam kandungan istrinya. Setelah itu dia mencium perut Sofia.


Mereka mencari keberadaan Aksa. Rupanya Aksa sedang bersama beberapa orang perawat yang sedang istirahat. "Mas Aksa ayo pulang!" seru Sofia memanggil anaknya. Aksa pun berlari ke arah ibunya.


"Bu, aku tadi dibeliin banyak snack oleh bibi Safa. Lihat deh." Aksa menunjukkan seplastik jajan yang dia bawa.


"Nanti dimakan di rumah, tapi apa perutnya sudah tidak sakit lagi?" tanya David.


"Tidak, Yah," jawab Aksa. David mengacak rambut anaknya lalu mengajaknya berjalan ke parkiran mobil.


Di tempat lain, Dara menaiki motornya menuju ke rumah yang baru saja dia tempati. Dara sengaja mengontrak rumah yang lokasinya tak jauh dari tempatnya bekerja.


Ketika sampai di halaman rumahnya, dia melepas helm kemudian menutup gerbang rumahnya. Saat dia akan memasuki rumah seorang ibu-ibu menyapanya. "Neng, penghuni baru ya di sini?" tanya ibu itu pada Dara. Gadis itu pun mengangguk.


Dia berjalan mendekat untuk menyapa tetangganya. "Saya Dara, Bu. Saya baru pindah rumah karena saya baru pindah kerja," ungkapnya.

__ADS_1


"Oh, kerja di mana Neng?"


"Guru di sekolah dasa internasional yang tak jauh dari sini," jawab Dara.


"Wah hebat ya. Kapan-kapan mampir ya Neng ke rumah ibu. Itu rumahnya," tunjuk ibu itu ke rumah yang berjarak dua rumah dari rumah Dara.


"Baik, Bu. Sekarang saya masuk dulu. Mau istirahat," pamit Dara masuk ke dalam.


"Ya, Neng. Ibu juga mau pergi belanja ke warung depan," jawabnya.


Ketika masuk ke dalam rumah, Dara membuang tasnya. Setelah itu Dara menjatuhkan pantatnya dengan kasar. Dia sedikit kesal karena pertemuannya dengan David tak berjalan lancar. Mereka hanya berjumpa sebentar itupun bersama anak dan istrinya.


"Apa aku harus mengubur perasaan ini dalam-dalam?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Padahal Dara sudah banyak berjuang sampai detik ini. Dia dengan segenap tenaga membujuk kakeknya agar mau menjual sawah di desa untuk membiayai kuliahnya.


"Kek tolong jual saja salah satu sawah kakek. Lagi pula aku tidak bisa mengelola sawah sebanyak itu, Kek. Lebih baik jika kakek membiayai kuliahku dengan uang hasil penjualan sawah," rengek Fara pada Kakek Firman.


"Kenapa harus kuliah ke kota? Di desa ini banyak pemuda yang menginginkan kamu untuk menjadi istrinya. Menikahlah dengan salah satu di antara mereka," perintah sang kakek.


Dara berdiri. "Tidak, aku tidak ingin selamanya hidup di desa terpencil ini. Di sini fasilitas tidak ada yang memadai. Lagi pula usiaku masih sangat muda. Aku tidak ingin cepat-cepat memiliki suami," tolak Dara.


"Lalu siapa yang akan merawat kakek di sini?" tanya Kakek Firman.


"Kakek masih sehat, aku yakin kakek bisa jaga diri sendiri. Aku mohon biarkan aku mewujudkan cita-citaku, Kek. Apa kakek tega membuat hatiku sedih?" bujuk Dara.


"Baiklah, akan kakek jual salah satu sawah kakek untukmu. Tapi ingat jangan boros dalam menggunakan uangnya. Kamu harus pandai mengatur uang selama hidup di kota," pesan sang kakek pada cucunya.


"Dara janji akan mengingat nasehat kakek. Dara akan bersungguh-sungguh agar cepat lulus dan membuat kampung kita ini lebih maju," ucapnya.


Dara mengingat kembali awal mula dia bisa melanjutkan pendidikannya di kota.


...♥️♥️♥️...

__ADS_1



__ADS_2