Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Aman


__ADS_3

Setibanya di rumah Wanda, Erik melihat sebuah mobil asing yang terparkir di depan rumahnya. "Apa dia membeli mobil baru naru?" gumam Erik.


Tak mau banyak berpikir, dia pun menerobos masuk karena di saat yang bersamaan asisten rumah tangganya sedang membuka pintu. "Pak, anda siapa? Kenapa main nyelonong saja?" tanya wanita itu. Dia tidak mengenal Devon karena dia bekerja belum ada setahun di rumah Wanda.


"Wanda, Wanda!" teriak Erik mencari keberadaan mantan istrinya.


"Hah? Itu suara Mas Erik. Kamu sembunyi dulu!" perintah Wanda pada lelaki yang semalam bersamanya. Wanda keluar dari dalam kamar.


"Kamu sudah lupa caranya bersopan santun, Mas?" ledek Wanda.


"Katakan di mana Fabian?" Erik bertanya dengan nada tinggi.


"Fabian tidak di sini," jawab Wanda dengan jujur.


"Bohong! Temannya bilang dia ada di sini." Erik mengungkapkan alasannya datang ke rumah Wanda.


"Untuk apa aku berbohong? Semalam dia sempat datang ke sini tapi dia tidak mau tinggal. Dia hanya mengunjungi aku sebentar."


Erik tak percaya lalu dia menggeledah rumah Wanda. "Kamu apa-apaan sih, Mas."


Saat Erik akan memasuki kamarnya, Wanda menghalangi mantan suaminya itu. "Minggir!" Wanda tak mau berpindah.

__ADS_1


Erik menerobos masuk. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat seorang pemuda yang sedang menghisap rokok duduk bersandar di atas ranjang. Erik menatap tajam ke arah mantan istrinya. Dia tersenyum miring. "Apa jangan-jangan Fabian kecewa dengan kelakuan kamu ini sehingga dia malu untuk pulang ke rumah?" tebak Erik.


"Jangan asal bicara kamu, Mas. Aku dan dia akan menikah sebentar lagi. Jadi kamu tidak berhak menghakimi aku."


Sayangnya laki-laki yang tengah merokok itu tiba-tiba berdiri dan memakai bajunya. "Aku pergi," pamit laki-laki itu pada Wanda. Dia berlalu begitu saja meninggalkan wanita yang semalam tidur dengannya itu.


Wanda melotot tak percaya. Ternyata laki-laki yang dia bayar itu tak mau bekerja sama untuk mengelabui mantan suaminya. Wanda menjadi malu di depan Erik. Erik tertawa lepas. "Wanda-wanda. Aku baru tahu selama ini kamu haus akan belaian laki-laki."


"Aku normal, Mas. Tidak seperti kamu!" umpat Wanda. Erik mencengkeram dagu wanita itu.


"Jaga mulut kamu Wanda! Jika bukan karena kamu membuang anakku aku tida akan mencampakkan dirimu," ucap Erik penuh penekanan.


"Cih, kamu sudah mencampakkan aku sebelum anak itu aku buang." Mata wanda berkaca-kaca ketika dia merasa kesakitan.


Kening Erik berkerut ketika dia melihat mobil Fabian terparkir di sana. Lelaki itu menghampiri mobil anaknya. Tapi ketika dia melihat ke dalam, tidak ada seorang pun. Waktu itu Fabian sedang menggunakan toilet umum yang tersedia di sana. Dia sengaja mandi agar badannya tak tercium bau alkohol ketika dia pulang ke rumah.


Fabian menghentikan langkahnya saat melihat sang papa berdiri di samping mobilnya. "Fabian," panggil Erik. Jantung Fabian berdegup kencang. Dia tidak tahu akan menjawab apa saat Erik bertanya nanti. Pikirannya sungguh kosong saat ini.


"Maaf, Pa. Semalam aku tidak pulang ke rumah," ucap Fabian sambil menunduk.


Fabian merasa heran ketika Erik malah tersenyum saat menanggapi ucapannya. "Papa mengerti kenapa kamu pergi dari rumah. Sudahlah ayo kita pulang. April sangat mengkhawatirkan kamu." Erik mengusap kepala putranya dengan sayang.

__ADS_1


Fabian merasa lega yang terpenting ayahnya tidak marah apapun alasannya. Fabian pun mengendarai mobil kemudian menuju ke rumah Erik. Berkali-kali dia bersyukur karena Erik tak mencium bau alkohol di tubuhnya. "Ada gunanya juga mandi pagi-pagi," gumam Fabian di dalam mobil.


Setelah menemukan Fabian, Erik berangkat kerja ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah, Fabian mengisi daya handphonenya yang mati. Setelah satu jam dia mengirim pesan pada April yang masih berada di sekolah. 'Mau dijemput nggak, Dek?'


April belum juga membalas. Fabian pikir dia masih belajar di kelas. Oleh karena itu, dia berniat untuk menjemput April tanpa disuruh. "Aku mau bikin surprise ke April," gumam Fabian.


Sayangnya ketika dia akan berbelok mobilnya menyenggol mobil lain. Fabian kurang hati-hati saat itu. Lalu dia pun menghentikan mobilnya dan keluar untuk mengecek kondisi mobil yang dia tabrak.


Tampak seorang wanita yang memakai kaca mata hitam turun dari mobil tersebut. "Mas, bisa bawa mobil nggak sih?" omel gadis itu.


"Sorry, Mbak. Saya buru-buru tadi," ucap Fabian yang merasa bersalah.


Gadis itu membuka kaca matanya. Sesaat Fabian kagum melihat kecantikan gadis yang belum diketahui namanya itu. "Mbak, mbak emang saya asisten kamu?" ucapnya ketus.


"Jadi maunya apa?" tantang Fabian.


"Ganti rugilah!"


Fabian mengambil pulpen yang ada di dashboard mobilnya. Lalu dia menulis nomor teleponnya di tangan gadis itu. "Eh, eh apaan nih?" protesnya.

__ADS_1


"Nama gue Fabian. Lo bisa hubungi gue kalau butuh ganti rugi. Sekarang gue mau jemput adik gue di sekolahan." Fabian pergi begitu saja setelah menulis nomor teleponnya di lengan gadis bernama Lidia itu.


"Sialan tuh cowok. Seenaknya dia corat-coret tangan gue"


__ADS_2