
Dara menaiki taksi hingga ke rumahnya. Dia benar-benar kesal pada Sofia. "Dia benar-benar jadi penghalang besar untukku," gumam Dara kesal.
Ketika Dara baru turun dari taksi dia menerima telepon dari kakeknya. "Hallo, Kek."
"Dara ini bukan kakek kamu. Ini pak Somat. Kakek kamu sedang sakit parah sebaiknya kamu kembali ke desa." ucapnya melalui sambungan telepon.
Dara terkejut. "Apa? Baiklah aku akan ke sana hari ini juga," ucap Dara setelah itu menutup teleponnya.
Dara menjadi panik. Dia tak tahu harus meminta bantuan siapa. "Ah ini bagus untuk kujadikan alasan agar aku bisa pergi berdua dengan Mas David. Jadi aku akan memisahkan dia dengan istrinya yang menyebalkan itu," gumam Dara menyeringai licik.
Sesampainya di rumah, Dara menelepon kepala sekolah tempat dia bekerja. "Maaf Bu Martha saya izin beberapa hari karena akan ke kampung. Kakek saya sakit parah," ucap Dara dengan jujur.
"Baiklah, saya kasih izin kamu tiga hari."
"Baik, Bu."
Setelah itu Dara mengemasi barang-barangnya. Dia berpikir untuk mengabari David. Dara mencoba menelepon David berulang kali tapi tak mendapatkan jawaban. "Hish Mas David ke mana sih?" gerutunya.
Dara malah tertidur ketika menunggu telepon dari David. Dia berharap laki-laki itu akan menelepon balik. Tapi ternyata sampai malam David tidak menelepon. "Oh astaga aku kemalaman," ucapnya ketika terjaga dari tidurnya.
Dara kembali menghubungi ponsel David. Dia tidak mau telat sampai di rumah kakeknya. "Alhamdulillah, Mas," ucapnya syukur ketika David mengangkat teleponnya.
"Ada apa Dara?" tanya David.
"Maaf mengganggu malam-malam. Kakek sakit keras aku harus segera sampai ke sana, Mas. Tapi aku sudah cari bis hanya saja tidak ada yang beroperasi malam ini," terang Dara panjang lebar.
"Bagaimana kalau naik taksi saja, Dara. Nanti aku bayarkan uang transportnya. Kamu jangan khawatir."
"Tapi Mas. Jika umur kakek tidak panjang bagaimana? Dia berpesan padaku ingin bertemu dengan Mas walau hanya sekali. Mas bisa kan memenuhi permintaan terakhirnya," bujuk Dara.
"Ada apa, Mas?" tanya Sofia.
"Dara memintaku untuk menemani dia pulang kampung. Katanya kakek Firman sedang sakit keras," ungkap David menjelaskan pada istrinya.
__ADS_1
"Mas, Mas David," panggil Dara. David meminta pendapat istrinya sebelum menjawab pertanyaan Dara. Sofia mengangguk.
"Baiklah, aku akan mengantarmu," jawab David. Setelah itu dia menutup teleponnya.
"Kamu yakin Yang ngizinin aku nganter Ara pulang kampung?" tanya David ragu. Dia takut istrinya cemburu.
"Bantu aja, Mas. Lagian nggak enak kalau nolak orang kamu dulu pernah ditolong apa salahnya kalau nolong dia sekarang,"jawab Sofia.
"Ya udah aku siap-siap dulu," kata David.
"Eh, Mas. Biar aku aja yang siapin semuanya," kata Sofia. David pun tersenyum.
"Ya sudah aku tunggu di luar ya. Nggak usah bawa baju ganti mungkin aku akan langsung pulang setelah mengantar dia." Sofia tersenyum.
Namun, tidak seperti bayangan David ternyata Sofia membawa satu koper yang telah disiapkan. "Sayang kok bawa koper segala sih, kan aku nggak akan menginap?"
"Ini isinya baju aku, baju kamu sama baju Aksa. Kita akan ikut Mas David ke sana. Aku ingin berterima kasih secara langsung pada Kakek yang telah menolong Mas David," ucapnya sambil tersenyum.
David terkekeh mendengarnya. "Ya ampun ternyata bumil cemburu ya kalau suaminya selingkuh?" ledek David.
"Kamu yakin nggak akan kecapekan sayang?" tanya David sedikit cemas.
"Kan ada Mas David dokter pribadiku," jawab Sofia sambil memeluk suaminya.
David balas mencium kening istrinya. "Iya, ya kamu ikut. Aksa mana? Ajak dia juga. Aku kabari Mama dulu kalau besok dia nggak bisa sekolah." Sofia mengangguk kemudian dia berjalan menuju kamar Aksa.
"Mas Aksa ikut ibu sama ayah yuk!" ajak Sofia ketika anaknya sedang belajar.
"Ke mana Bu?" tanya Aksa.
"Ketemu kakek," jawab Sofia. Aksa hanya menurut. Dia pikir akan ketemu ayah dari orang tuanya. Namun, ternyata mobil David berhenti di sebuah rumah kontrakan.
"Inikah rumahnya kakek, Bu?" tanya Aksa polos. Sofia hanya tersenyum.
__ADS_1
David turun untuk menjemput Dara. Dara menyeret kopernya. "Ayo Mas berangkat sekarang," ajak Dara.
Ketika Dara membuka pintu bagian depan, dia terkejut. "Lho, Mas?" tanyanya bingung.
"Istriku ingin ikut. Dia ingin menengok kakek kamu yang lagi sakit sekaligus berterima kasih karena dulu dia pernah menolongku," terang David.
Dara tak habis pikir. Rencananya selalu gagal. Dia kesal bukan main. "Ya sudah aku duduk di belakang," ucapnya.
Ketika dia membuka pintu, Dara kembali terkejut ketika melihat Aksa ada di kursi bagian belakang. "Hallo, Bu Dara," sapa Aksa dengan sopan.
Dara tersenyum pada anak muridnya itu. "Owh Aksa mau ikut juga ya? Mau ketemu kakek ya? Nanti ibu kenalin ya sama kakek," ucap Dara dengan mengusap rambut anak kecil itu.
Sofia mendengar itu merasa lucu. Dara seolah ingin mengambil anak dan suaminya. "Rupanya benar dugaanku Dara ini bercita-cita jadi pelakor," gumam Sofia kesal.
"Sayang, siap berangkat sekarang?" tanah David pada istrinya. Sofia mengangguk sambil tersenyum. David balas tersenyum. Sedangkan Dara yang melihat kemesraan pasangan suami istri itu menjadi panas. Dia mengepalkan tangan karena menahan marah.
"Ingin sekali aku menarik kerudungnya itu," gumam Dara dalam hati.
Perjalanan ke kampung halaman Dara lumayan jauh, mereka harus menempuh enam jam perjalanan menggunakan mobil. Kemudian pada akhirnya mereka sampai pada pagi menjelang subuh.
Salah seorang tetangga Dara yang menunggui Kakek Firman pun menjemput rombongan yang baru turun dari mobil. "Dara akhirnya kamu pulang," seru Pak Somat. "Mereka siapa?" tanya Pak Somat ketika melihat David dan Sofia beserta anaknya.
"Itu Mas David orang yang pernah aku tolong dulu," jawab Dara.
"Owh ajak mereka masuk, kakekmu sudah menunggu," balas Pak Somat.
Dara pun mencari keberadaan kakeknya. Dia menemukan kakeknya di kamar sedang terbaring lemah. "Kakek," panggil Dara seraya berlari ke arahnya.
"Dara," ucapnya lemah. Lalu matanya mengarah ke arah lelaki yang berjalan di belakang Dara. Dia masih ingat wajah tampan laki-laki yang pernah dia tolong.
"David, setelah sekian lama akhirnya Dara menemukan kamu."
...♥️♥️♥️...
__ADS_1