
Aksa menyusul April dan Diva. Tak lama kemudian Fabian pun menyusul. "Pril," panggil Aksa dan Fabian secara bersamaan. April dan Diva pun menoleh.
"Kalian ngapain ngikutin aku?" tanya April.
"Mau makan bareng," jawab Aksa dan Fabian bersamaan. April mengerutkan kening.
Dia melihat Nesya mengawasi dari kejauhan. "Mending kalian jaga jarak deh dari aku. Nanti aku yang kena getahnya kalau aku dekat-dekat sama kalian," ungkap April.
"Maksud kamu apa Pril?" tanya Fabian tidak mengerti. April menunjuk Nesya dengan dagunya.
Aksa dan Fabian pun sadar jika Nesya memandang tidak suka pada April. "Jangan hiraukan dia." Aksa menarik tangan April hingga ke kantin. Fabian mengepalkan tangan karena Aksa lebih dulu bertindak. Meskipun kesal dia tetap mengikuti Aksa dan April ke kantin. Diva geleng-geleng kepala ternyata sahabatnya diperebutkan oleh dua orang cowok most wanted di sekolahnya.
"Mau pesan apa?" tanya Aksa.
"Nggak usah, aku cuma mau beli minum terus balik ke kelas lagi," kata April.
"Pesen aja aku yang bayar," seru Fabian.
April tersenyum. "Nggak usah makasih, aku nggak lapar, beneran."
Tiba-tiba Aksa memberikan banyak jajan ke tangan April. "Bawa pulang aja," perintah Aksa lalu dia pergi meninggalkan April. Aksa tak mau memaksa April untuk menemaninya makan jadi dia memilih membayar jajanan lalu pergi.
Sedangkan Fabian setia menunggu April. "Alamat jadi obat nyamuk nih," gumam Diva. Namun, tak lama Imam dan Axel menyusul. "Hai," sapa kedua pemuda itu secara bersamaan.
"Aku Imam," ucapnya sambil mengulurkan tangan pada Diva. Imam merasa senasib dengan Diva.
"Diva," jawabnya sambil membalas uluran tangan Imam.
"Dia Axel," tunjuk Imam pada Axel dengan dagunya. Axel melambaikan tangan.
Mereka berkumpul di kantin kecuali Aksa. Tak ada pembicaraan yang berarti. Saat bel masuk berbunyi mereka masuk ke kelas masing-masing. "Kamu ngerasa nggak sih kalau Dafi sama Fabian naksir kamu?" tanya Diva.
__ADS_1
"Aku rasa dia lebih cocok sama kamu, namanya Dafi kamu Diva serasi kan?" Ledek April.
"Bisa aja kamu Pril," balas Diva.
Sesaat kemudian guru mata pelajaran masuk ke kelas mereka. Usai jam pelajaran hari ini selesai, April jalan duluan dan berpamitan pada Diva.
"Kok buru-buru?" tanya Diva.
"Mau mampir ke sekolah Azriel buat bayar iuran sekolah," jawab April.
"O ya udah hati-hati ya," pesan Diva pada sahabatnya.
April pun berjalan menuju ke parkiran sepeda tapi dia terkejut ketika melihat ban sepedanya kempes. "Tadi pagi masih baik-baik aja," gumam April. Mau tak mau di pun meninggalkan sepedanya di sekolah.
Setelah itu April menaiki angkot. Sebelum dia ke sekolah Azriel dia akan ke toko perhiasan lebih dulu untuk menjual antingnya.
"Laku berapa ini Pak?" tanya April ketika menunjukkan antingnya.
"Butuh uang buat bayar sekolah, Pak," jawab April dengan jujur.
"Beneran ini punya kamu?" tanyanya lagi. .
April menunjukkan telinganya yang polos tanpa perhiasan. "Saya tidak memiliki surat-suratnya karena saya menjualnya tanpa sepengetahuan orang tua saya Pak. Tapi beneran uangnya akan saya gunakan untuk membayar uang sekolah saya dan ibu saya."
Pemilik toko emas itu menelisik penampilan April yang sederhana. Sepatu yang dikenakan pun cenderung lusuh. Bersih hanya saja ada bagian yang sudah robek.
"Ya sudah tunggu sebentar." Pemilik toko perhiasan itu memeriksa keaslian anting emas yang dipakai April.
Sesaat kemudian dia memberikan uang lima ratus ribu. April sudah cukup puas meski harga antingnya tak seberapa. Yang penting uangnya bisa digunakan untuk membayar iuran sekolah adiknya sejumlah dua ratus ribu. Sedangkan sisanya nanti akan dia gunakan untuk kebutuhan sekolahnya.
"Terima kasih banyak, Pak. Semoga diberi kelancaran rejeki." Pemilik toko itu terharu ketika mendengar doa April. Baru kali ini dia mendapat pelanggan seperti April yang bersedia mendoakan dirinya.
__ADS_1
April pun kembali menaiki angkot lalu menuju ke sekolah Azriel. Saat dia tiba di sana semua orang sudah pulang kecuali guru Azriel yang diminta untuk tetap tinggal.
"Maaf kakak telat," ucap April sambil terengah-engah. Dia berlari ke kelas Azriel untuk menemui gurunya.
"Alhamdulillah akhirnya kakak datang juga," ucap Azriel bersyukur. Ternyata kakaknya menepati janji.
"Maaf tadi mampir ke toko emas dulu," jawab April. Azriel mengangguk paham. Setelah itu April menyerahkan uangnya pada guru Azriel.
"Baik, saya terima uangnya. Iurannya lunas ya," kata guru perempuan tersebut.
Setelah itu April menyuruh adiknya pulang duluan. "Habis ini kakak mau kerja, Dik. Kamu pulang duluan ya. Ini uang untuk bayar angkot." Gadis itu memberikan sejumlah uang untuknya.
"Tambahin dikit kak buat beli makan siang ini" pinta Azriel. April pun memberi uang tambahan pada adiknya.
"Beliin ibu makanan sekalian. Bapak nggak usah," ucapnya ketus saat menyebut bapaknya. Azriel mengangguk setuju.
Anak-anak itu sudah sangat menderita karena ulah bapaknya yang tidak mau bekerja. Dia tahunya hanya berjudi dan mabuk-mabukan. Sejak dulu ayahnya hanya bergantung pada ibunya. Namun, sejak sang istri mulai sakit-sakitan tidak ada yang mencari nafkah. Uang untuk makan dan bayar sekolah pun harus April sendiri yang cari.
Mulai dari tukang semir sepatu, penjual koran, tukang sapu jalan bahkan pelayan. Sudah banyak pekerjaan yang dia lakukan padahal usianya belum menginjak tujuh belas tahun.
Tapi bagi April berkorban pun tidak masalah. Baginya ibu dan adiknya adalah orang yang sangat dia sayangi maka tidak masalah untuk mencari uang demi memenuhi kebutuhan mereka.
Namun, dia sangat membenci ayahnya karena sedikitpun tidak pernah sadar dan terus membuatnya bekerja keras. Seperti siang ini dia akan kembali bekerja di toko roti milik keluarga Sofia.
"Maaf, Bu. Saya telat karena tadi mampir ke sekolah adik saya dulu," ucapnya memberi alasan.
Sofia tersenyum. Dia tidak keberatan kalau April terlambat karena dia paham jika tidak ada acara ke sekolah adiknya pun kemungkinan dia akan sibuk dengan kegiatan sekolah lainnya. Untuk itu Sofia memberikan kelonggaran.
Akan tetapi menjadikan April anak emas membuat karyawan lain iri padanya. "Enak sekali dia datang terlambat tapi dia tidak ditegur," protesnya pada teman yang ada di sampingnya.
"Bu Sofia memang sebaik itu. Dia tidak pernah marah pada siapa pun," jawab temannya.
__ADS_1
"Tapi aku rasa anak itu memang pandai menjilat," cibirnya tidak suka.