Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Nempel terus


__ADS_3

Aksa berdiri ketika bel tanda istirahat berbunyi. "Woi, Daf kamu mau ke mana?" tanya Imam.


Dia menunjukkan kotak yang dia pegang lalu pergi. "Aku heran sama dia, sebenarnya buat siapa sih bekal yang dia bawa itu? Aku nggak pernah lihat Dafi makan bekalnya tapi dia selalu bawa bekal dari rumah," gumam Axel.


Imam hanya menggedikkan bahu. Sedangkan Fabian yang tahu untuk siapa bekal itu diberikan memilih diam. Dia berdiri dan berjalan meninggalkan kelas.


"Woi, Fab mau ke mana? Tungguin kita," teriak Axel. Imam dan Axel mengekori langkah Fabian. Fabian membawa mereka ke kelas April di sanalah rasa penasaran Axel dan Imam terjawab.


Aksa menghampiri April ke kelasnya. Dia ingin memberikan bekal makanan yang biasa dia berikan pada April setiap pagi sebelum masuk ke kelas. Pagi tadi dia lupa memberikannya. Namun, saat Aksa akan memasuki kelas itu Nesya menghadangnya.


"Daf, kantin yuk!" ajaknya seraya hendak meraih tangan Aksa tapi Aksa lebih dulu menghindar.


"Sorry aku nggak bisa. Kalian duluan aja," tolaknya. Aksa menerobos masuk ke dalam kelas April hingga membuat Nesya menghentakkan kakinya karena kesal.


"Pril kantin yuk!" ajak Diva.


"Aku nitip aja boleh nggak? Kakiku masih sakit," jawabnya.


"Boleh," kata Diva.


"Gorengan sama air mineral aja kek biasanya," pinta April pada sahabatnya itu.


"Nggak usah repot-repot Div, aku bawa bekal buat dia. Tolong beli minuman aja," pinta Aksa pada Diva seraya memberikan uang lima puluh ribuan padanya.


"Pakai uangku dulu aja kak," tolak Diva.


"Ambil aja, kamu juga boleh jajan dengan uang ini," kata Aksa.


"Dalam rangka apa?" tanya Diva heran.


"Pajak jadian," bisiknya. Diva terkejut hingga menutup mulutnya sendiri. Sedangkan Aksa tersenyum melihat reaksi Diva. April sendiri menunduk sedari tadi karena wajahnya sudah merah merona.


Aksa duduk di depan April. "Mau sampai kapan kamu menunduk terus seperti itu?" ledek Aksa.


"Kak," sapanya dengan senyum terpaksa. Aksa mencubit pipi April karena gemas. "Ini pipi atau tomat sih merah banget," godanya pada April. Beberapa teman yang mendengar ucapan Aksa menertawakan dirinya.

__ADS_1


Fabian, Imam dan Axel tidak menyangka kalau Aksa berubah karena seorang gadis sederhana. Fabian mengepalkan tangan karena kesal. Dia masih menyimpan perasaan untuk April dan berharap suatu saat gadis itu akan membalasnya. Tapi pupus sudah harapannya ketika melihat kedekatan sahabatnya Aksa dan April duduk berhadapan dan mengobrol seperti itu. Fabian pun memilih pergi ke kantin.


Sementara itu Wanda yang tak sengaja mendengar penuturan suaminya jika anaknya yang dibuang telah ketemu menjadi geram. Wanda pun menelepon orang suruhannya. "Temukan seseorang untukku."


Dia memerintahkan orang suruhannya untuk mencari tahu keberadaan April. Dia tidak rela jika anak yang telah dibuangnya itu kembali lagi pada suaminya.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Erik pada petugas laboratorium tersebut.


"Hasilnya baru keluar lusa," jawab petugas laboratorium tersebut.


"Apa tidak bisa dipercepat?" tanya Erik yang tidak sabar mengetahui hasilnya.


David menepuk bahu Erik. "Rik, sabar pasti ada prosesnya. Kamu harus tunggu," tutur David memberi pengertian.


"Ya, Dave. Aku melupakan hal itu. Aku harap hasilnya sesuai perkiraanku," ucapnya.


"Ya sudah aku mau praktek dulu," kata David kemudian.


"April, papa pasti akan menjemput kamu," ucap Erik penuh harap.


"Wanda." Wanita itu tersenyum.


"Long time no see. Apa kabar kamu?" tanya Wanda basa-basi.


"Sedang apa kamu di sini?" tanya Erik pada wanita yang masih berstatus istrinya itu.


"Aku ingin minta maaf. Apa kita tidak bisa mengakhiri pertikaian kita?" tanya Wanda.


Erik tersenyum sinis. "Kenapa baru kamu lakukan sekarang?" tanyanya dengan nada dingin.


"Aku mau kita kembali seperti dulu. Fabian sangat merindukanmu. Apa kamu tidak ingin dekat dengan dia?" tanya Wanda setengah mengiba.


"Pintu rumahku selalu terbuka untuknya," ucap Erik lalu pergi meninggalkan wanita itu. Wanda menggeram kesal.


"Dasar bren*sek," umpat Wanda kesal.

__ADS_1


Pukul dua siang ketika bel pulang sekolah, April dan Diva berjalan keluar kelas. Aksa mengikuti dari belakang. April heran karena setiap orang yang dia lewati memandang ke arahnya. "Pril, sekarang Lo punya bodyguard ya?" ledek salah seorang teman April yang baru lewat.


April pun menoleh. Di belakangnya sudah ada Aksa, Axel, dan Imam. "Hai," sapa mereka secara bersamaan.


April dan Diva terkejut. "Ngapain mereka ngikutin kita?" tanya Diva pada April dengan berbisik. April menggedikkan bahu.


"Pril, pulang bareng yuk! Aku antar," tutur Aksa dengan lembut.


"Cie, cie," ledek Axel dan Imam bersamaan. "Udah Pril jangan nolak. Lumayan ngirit ongkos pulang," sahut Axel.


"Iya, Pril. Kalau ada Dafi kamu bisa dijagain," tambah Imam.


"Dijagain dari apa? Aku bisa jaga diri sendiri," jawab April.


"Daf, antar aku pulang ya," rengek Nesya yang datang secara tiba-tiba. Dia melingkarkan tangan ke lengan Aksa tapi dia menepisnya.


"Sorry aku mau nganter pacar aku pulang," tolaknya. Setelah itu dia menarik tangan April.


"What? Mereka jadian?" tanya Nesya tak percaya.


"Terima nasib aja Nes," ledek Axel.


"Kalau Dafi nggak mau aku mau kok jadi pacar kamu," seru Imam. Nesya meraup muka Imam. "Mimpi Lo," ejek Nesya. Axel menertawakan Imam karena ditolak mentah-mentah oleh Nesya. "Berisik Lo!"


"Kak, aku bisa naik angkot. Nggak enak sama yang lain," tolak April seraya melepas pegangan tangan Aksa.


"Kamu mau kerja di toko roti ibu kan?" tanya Aksa pada April. Gadis itu mengangguk.


"Ya udah bareng aja. Mau jemput Lovely sekalian nggak di tempat les," kata Aksa.


"Mau," jawabnya lirih. Aksa pun membukakan pintu mobil untuk kekasihnya. "Ayo masuk!" April dengan ragu-ragu masuk ke dalam mobil. Aksa bahkan menutup bagian kepala April agar tidak terbentuk ujung pintu.


Setelah memastikan April masuk, Aksa menutup pintu mobilnya secara perlahan. Kemudian dia memutari mobil menuju ke kursi kendali setir. Aksa melihat sabuk pengaman April belum terpasang. Aksa pun mendekat.


"Mau apa dia?" batin April ketika Aksa menepis jarak di antara mereka. April memejamkan mata.

__ADS_1


Aduh mau ngapain ya Mas Aksa? Bikin othor deg-degan deh


__ADS_2