
Fabian mencengkeram kerah baju yang dipakai Aksa ketika dia memberikan ancaman. "Awas kalau kamu macam-macam pada April."
"Kak Fabian, Mas Aksa," panggil April ketika keduanya terlihat tidak akur. "Kalian lagi ngapain?" April mendekat seraya membawa minum yang dia taruh di atas nampan.
Fabian pura-pura mengusap baju Aksa. "Ini ada ketombe di bajunya," ledek Fabian.
"Sialan! Rambutku bersih, nih, nih." Aksa mengacak rambutnya di depan Fabian.
"Sudah-sudah ayo minum dulu. Aku juga siapin camilan," kata April.
"Camilannya bawa masuk aja, Dek. Nanti dia betah di sini lama-lama," gerutu Fabian yang tidak suka Aksa tinggal di rumahnya.
"Nggak bisa, Kak. Aku mau minta Mas Aksa buat ngajarin aku. Besok aku ada ulangan yang nggak aku ngerti," balas April. Fabian kesal pada adiknya.
"Kenapa nggak minta tolong kakak aja?" protes Fabian.
"Kakak kan lagi sakit. Jadi sebaiknya kakak istirahat saja di kamar," usir April secara halus. Fabian mengerucutkan bibir. Kemudian dia bangkit dari tempat duduknya. Aksa tersenyum mengejek dan menjulurkan lidah ke arah Fabian.
"Mas Aksa kapan mulai masuk kuliah?" tanya April.
"Masih dua minggu lagi," Jawab Aksa.
Ada perasaan lega di hati April. "Kamu kenapa senyum-senyum gitu?" tanya Aksa curiga.
"Nggak apa-apa," jawab April.
"Bohong!" Aksa menggelitiki tubuh April hingga gadis itu merasa kegelian.
__ADS_1
"Ampun! ampun!" seru April. Sesaat kemudian siku April terbentur ujung meja. April meringis. Aksa kemudian melihat siku gadis itu dan meniupnya.
Jantung April berdebar kencang saat melihat wajah Aksa dari dekat. Ketika Aksa mendongak, dia tak sengaja menabrak bibir April. April membulatkan mata. Sedangkan Aksa tersenyum tipis hingga April tak bisa menyadarinya.
Interaksi mereka tertangkap basah oleh Erik. "Ehem." Erik berdehem untuk memberi tahu tentang keberadaannya.
Aksa dan April pun merasa canggung. "Om," sapa Aksa dengan gugup.
"Sudah selesai belum belajarnya?" tanya Erik.
"Sudah, Om. Kalau begitu saya permisi," pamit Aksa seraya menyalami tangan Erik. Setelah Aksa pulang, April pamit ke kamarnya.
Keesokan harinya, Erik mengadu pada David. "Dave, sebaiknya minta Aksa jaga jarak dulu dengan April."
David mengerutkan kening. Dia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi sehingga Erik melarang putranya berhubungan dengan putri Erik satu-satunya. "Ceritakan apa yang terjadi?" tanya David pada sahabatnya itu.
"Aku hanya ingin April fokus pada sekolahnya. Lagipula dia akan ujian tahun ini, jadi aku tidak mau konsentrasinya terganggu."
"Aku hanya khawatir sebagai seorang ayah. Dia putriku satu-satunya. Aku harap aku bisa menjaga kehormatan putriku hingga dia menikah nanti."
David menghela nafas. "Baiklah. Aku akan bicara pada anakku."
Sesampainya di rumah, David memanggil Aksa. "Bu, Aksa mana?" tanya David.
"Ada di kamar Lovely, Yah. Dia sedang mambantu Lovely mengerjakan PR," jawab mama Sofia.
"Tolong panggil dia ke sini sebentar!" Sofia mengangguk patuh. Dia melihat wajah serius suaminya.
__ADS_1
Sofia membuka engsel pintu kamar Lovely secara perlahan. "Mas Aksa dipanggil ayah."
"Ada apa, Bu?" tanya Aksa penasaran. Sofia menggedikkan bahu. Aksa pun turun dari lantai dua rumah mereka.
"Aksa, sini ayah mau bicara sebentar." David menepuk kursi di sebelahnya yang kosong.
"Ada apa, Yah?" Aksa tampak serius menunggu jawaban ayahnya.
"Sebentar lagi kamu akan masuk ke universitas bukan? Mulai sekarang kamu harus fokus belajar. Ayah mau kamu menggantikan ayah nanti menjadi direktur rumah sakit kita."
Aksa mengerutkan kening. Baru kali ini dia melihat David sebagai seorang yang ambisius. "Tapi bukankah itu masih lama, Yah. Lagipula aku ingin mandiri," tolak Aksa.
"Aksa dengarkan ayah! Kamu tahu bukan kakek menyerahkan rumah sakit itu pada ayah. Jadi siapa lagi yang akan meneruskan perusahaan kalau bukan kamu. Mulai sekarang aya mau kamu belajar serius. Fokus sama sekolah kamu! Mulai sekarang kurangi acara main yang tidak jelas."
Ucapan David yang tegas membuat Aksa mau tak mau menuruti kemauan orang tuanya. "Baik, Yah." Pada dasarnya Aksa adalah anak yang penurut jadi David dengan mudah mengarahkan Aksa untuk mengalihkan perhatiannya pada April. Dia ingin Aksa sibuk hingga lama kelamaan melupakan gadis itu tanpa sadar.
"Ya sudah kamu boleh beristirahat." David meminta putranya pergi.
Setelah itu Sofia mendekati suaminya. "Yah, sebenarnya ada apa ini? Ini bukan sikap kamu, Mas."
David menghela nafas panjang. "Erik meminta aku menjauhkan Aksa dari April. Aku tidak tahu alasannya. Tapi dia bilang April harus fokus pada sekolahnya."
"Apa anak kita berbuat sesuatu yang tidak kita ketahui?" tuduh Sofia. David menggedikkan bahu.
"Aku harap anak kita bukan laki-laki breng*sek, Bu," jawab David.
Sementara itu di dalam kamar, Aksa berbaring sambil melihat langit-langit kamarnya. "Kenapa ayah jadi seperti itu? Apa ini ada hubungannya dengan Om Erik?"
__ADS_1
Banyak pertanyaan yang berputar-putar di kepala Aksa. Meski dia bisa menebak tapi rasanya tak rela jika dia harus menjaga jarak dengan April.
Bagaimana dengan gadis itu jika dia merasa diabaikan?