Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
David selamat


__ADS_3

Di suatu tempat di tepi sungai, seseorang yang sedang mencuci menemukan tubuh yang mengambang di atas sungai. Gadis itu menarik tubuh laki-laki yang mengambang itu. "Ki, aki ada orang yang tenggelam," teriaknya.


Kemudian kakek-kakek itu mendekat ke arah cucunya. Dia pun menyelamatkan pria yang mengambang itu. Laki-laki tua itu menyeret tubuh David. "Dia masih hidup," ucapnya setelah memeriksa pernafasan dari hidungnya.


"Ayo kita bawa pulang."


Kakek dan cucu perempuannya merangkul David untuk dibawa pulang. "Ambilkan obat untuk mengobati lukanya dulu," titah kakek bernama Firman itu pada cucunya Dara.


"Baik, Kek."


Sesaat kemudian David bangun dari pingsannya. "Ada di mana ini?" tanya David yang baru bangun sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing. Tempat itu sangat asing baginya.


"Kamu aman di sini," jawab Kakek Firman.


"Saya harus pulang." David menurunkan kakinya tapi dia merasakan sakit yang luar biasa.


"Sepertinya kakimu terkilir." Kakek Firman memeriksa kaki David. "Bengkaknya cukup parah. Desa ini jauh dari rumah sakit. Kalau kemungkinan patah kami tidak bisa membawamu ke rumah sakit," terang laki-laki berumur enam puluh tahun tesebut.


"Tidak apa-apa. Bolehkah saya meminjam handphone? Saya harus menghubungi keluarga saya."


"Tapi kami tidak memiliki handphone," jawab Kakek Firman.


"Dia," tunjuk David pada Dara.


"Apa dia punya?" tanya David lagi. Dia berharap bisa mengabari keluarganya saat ini.


"Saya tidak punya handphone. Di sini tidak ada sinyal," jawab Dara.


"Oh, ya ampun. Bagaimana keadaan Sofia sekarang. Seharusnya aku mengazani anakku yang baru lahir," batin David menjerit. Dia memejamkan mata sejenak. Mungkin dia akan tinggal di sini dulu sampai kakinya sembuh.


"Minumlah teh hangat ini agar kamu lebih baik," perintah Kakek Firman pada pria yang belum diketahui namanya itu.

__ADS_1


"Siapa nama kamu?" tanya Kakek Firman. Sepertinya dia tidak hilang ingatan seperti di film-film.


"David, terima kasih sudah menyelamatkan saya," ungkapnya.


"Sama-sama. Tinggallah dulu di sini sampai kakimu sembuh." David mengangguk setuju.


Setelah itu Data memberikan pakaian ganti untuk David. "Ini pakaian milik ayah saya. Anda bisa memakainya."


David menerima pakaian dari tangan Dara. Dia pun membuka kemejanya di tempat itu. Otot David yang kotak-kotak membuat Data ingin meneteskan air liurnya. "Bisakah anda berbalik badan?" pinta David pada Dara.


Dara pun salah tingkah. Sedangkan Kakek Firman menggelengkan kepala. "Dara akan merawatmu di sini. Apa kamu sudah menikah?" David mengangguk.


"Saya dalam perjalanan menuju ke rumah menjemput istri saya yang akan melahirkan. Tiba-tiba rem mobil saya blong kemudian mobil saya terbang dari jembatan. Setelah itu saya tidak ingat."


Dara menguping pembicaraan dari balik tembok. Dia agak kecewa mendengar laki-laki tampan nan gagah itu sudah beristri.


"Istirahatlah, katakan jika butuh sesuatu," kata Kakek Firman.


Di tempat lain, Sofia yang semakin penasaran bertanya pada Zidan. "Suamimu mengalami kecelakaan tapi jasadnya belum ditemukan," ungkap Zidan. Ada rasa bersalah karena baru mengatakan hal itu pada kakaknya.


"Sejauh ini sudah tapi belum ada perkembangan. Aku mohon kuatkan dirimu demi anak yang baru saja kamu lahirkan, Kak." Zidan mencoba memberi dukungan pada kakaknya.


Sofia menangis. Tentu saja tidak ada yang bahagia jika ditinggal suami. "Ada di mana kamu, Mas?" gumam Sofia lirih.


Keesokan harinya dia diperbolehkan pulang bersama anaknya. "Sementara kamu tinggal di rumah mama ya," pinta Raina pada putrinya. Sofia mengangguk lemah.


Dadanya terasa sesak memikirkan suaminya tapi dia harus tegar demi merawat anaknya yang masih bayi.


"Sayang, akan kamu namai siapa anak ini?" tanya Julian pada putrinya.


"Aku belum tahu, Pa. Biarlah ayahnya yang akan menamainya," jawab Sofia. Ucapannya menyiratkan keyakinan bahwa David masih hidup.

__ADS_1


"Sofia ikhlaskan suamimu. Tim SAR sudah mencari tapi hasilnya nihil," kata Julian.


"Aku percaya pada Tuhanku. Dia yang lebih tahu mana yang baik untukku," jawab Sofia. Dia akan memohon pada Yang Maha Esa agar suaminya kembali dalam keadaan selamat.


"Sudahlah jangan ajak Sofia berdebat. Ayo nak mama antar ke kamarmu," ajak Raina dengan lembut.


Ketika berada di dalam kamar, Sofia menumpahkan perasaan sedihnya pada sang ibu. "Mama bantu doa ya siapa Mas David segera kembali," kata Sofia sambil bersandar di bahu ibunya.


Sebagai seorang ibu Raina menangis di dalam hatinya ketika melihat cobaan yang menimpa anaknya begitu besar. Dia tidak menyangka menantunya pergi dengan cara yang tragis.


"Tentu, mama akan berdoa semoga David bisa segera kembali ke rumah ini."


"Hidup atau mati," batin Mama Raina di dalam hatinya. Raina berharap setidaknya jasad menantunya bisa ditemukan.


"Istirahatlah. Tenangkan pikiranmu jangan sampai ASI mu berkurang karena kamu stres. Ingat pesan mama." Sofia menghapus air matanya lalu mengangguk.


"Mama keluar dulu. Jika ada yang kamu butuhkan panggil saja siapapun yang ada di rumah ini."


Setelah ibunya keluar anaknya menangis karena haus. "Maafkan ibu, nak. Ibu belum bisa mempertemukan kamu dengan ayahmu."


Sofia menyusui anaknya dengan berderai air mata. Seharusnya saat ini David ada di sampingnya untuk membantu Sofia jika ada yang dibutuhkan mengingat Sofia belum bisa banyak bergerak.


Di tempat lain, Dena sangat terkejut saat mendengar berita di televisi mengenai mobil yang masuk sungai. "Jadi yang jatuh saat itu beneran David?" Dena berderai air mata.


Dia menyesal telah menyuruh orang mengotak-atik mobil Yudha. "Seharusnya ayahmu yang mati kenapa kamu yang mati Dave," teriak Dena. Dia menangis tersedu-sedu. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Kini dia ketakutan karena khawatir dia akan menjadi DPO. Perannya sebagai dalang dalam insiden kecelakaan yang menimpa David dapat membuat masa depannya hancur.


Dena mengusap air matanya dengan kasar. Dia memiliki ide untuk pergi ke luar negeri segera. "Aku tidak boleh ketahuan, aku harus kabur," gumamnya lirih.


Dia pun mengemasi barang-barangnya lalu dia menarik koper tersebut. Di saat yang bersamaan Martha mendatangi putrinya untuk memberi tahu rencana pernikahannya yang batal.


"Dena kamu mau ke mana?" tanya Martha.

__ADS_1


"Aku akan pergi, Ma," jawab Dena sambil memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil taksi.


"Kenapa mendadak sekali?" tanya Martha tak mengerti. Dena tak menjawab. Dia meninggalkan ibunya begitu saja. Gadis itu sudah memesan tiket pesawat keberangkatan ke Kanada malam ini.


__ADS_2