
"Katakan! Apa yang kamu lakukan pada putriku?" tanya Erik yang emosi setelah Aksa bilang dia akan bertanggung jawab.
"Bertanggung jawab bagaimana?" tanya David.
"Aku tidak sengaja melihat April ganti baju." Aksa mengaku pada ayahnya.
"Dave, anak kamu ini kurang ajar sekali," protes Erik. David mengusap wajahnya kasar.
"Oke, tenang! Aksa kamu tidak sengaja bukan?" tanya David memastikan.
"Iya, Yah. Aku tidak sengaja. Aku lupa mengetuk pintu," jawab Aksa.
"Benar itu, April?" April mengangguk saat menjawab pertanyaan David. Erik, David, dan Sofia bernafas lega.
"Ya sudah ini hanya sala paham. Jadi maafkan Mas Aksa ya April." Sofia mewakili anaknya meminta maaf. April mengangguk.
"Saya ganti baju dulu," pamit April.
"April, setelah ini papa mau bicara," kata Erik. April mengangguk. Kali ini dia memilih untuk menurut.
Erik menunggu April di ruang tamu. April sudah siap mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh ayah kandungnya. "Duduk sini!" Erik menepuk sofa kosong di sebelahnya. April pun duduk.
__ADS_1
"April, mulai saat ini kamu akan tinggal di rumah papa. Percayalah aku ini papa kandung kamu. Saat itu papa ingin mengkonfirmasi kebenarannya dengan Bu Dini. Sayangnya Tuhan berkehendak lain. Lalu diam-diam papa melakukan tes DNA dan hasilnya tidak mungkin salah."
"Aku mau tinggal sama Om, eh pa-pa." April menyebut Erik dengan panggilan papa secara ragu.
Erik tersenyum senang. David dan yang lainnya juga merasa lega. Erik pun segera mengajak April pulang ke rumahnya. "Bu Sofia saya pamit," ucap April pada wanita yang selama ini menjadi atasannya itu.
"Kamu baik-baik ya di sana. Menurutlah apa kata papamu. Dia akan memperlakukan kamu dengan baik," pesan Sofia pada gadis itu.
Setelah berpamitan pada semua orang April masuk ke dalam mobil. Sebenarnya Aksa dan Lovely tidak rela saat April bilang pindah. Namun, mereka tidak mungkin menahan gadis itu.
Lovely menangis setelah mobil yang ditumpangi April menjauh. "Sayang, besok kan masih bisa main sama kak April." David memberi pengertian pada anak bungsunya.
"Boleh ya, Yah?" tanya Lovely.
"Besok Mas antar," sahut Aksa. Tapi David dan Sofia malah memelototi putranya itu. Aksa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Di tempat lain, mobil Erik memasuki halaman rumahnya. Erik mengajak April masuk. Dia menunjukkan di mana kamar anaknya. "Apa kak Fabian juga tinggal di sini?" tanya April.
Erik tersenyum. "Tidak, dia ikut ibunya. Di sini hanya ada kita berdua dan asisten rumah tangga. Kalau kamu perlu apa-apa bilang sama papa atau asisten ya." April mengangguk paham.
Erik mengusap rambut April dengan sayang. "Percayalah papa akan selalu menyayangimu." April tersenyum menanggapi ucapan ayah kandungnya.
__ADS_1
Fabian mendatangi rumah ayahnya. Dia mendobrak pintu rumah itu dengan kasar. "Papa," teriak Fabian.
Erik dan April pun keluar. "Ada apa ini Fab?" tanya Erik.
"Jadi papa lebih memilih dia ketimbang aku?" tuduh Fabian.
"Fab, maksud kamu apa? Papa nggak ngerti."
"Kenapa papa menyia-nyiakan aku dan mama hanya karena dia," tunjuk Fabian. April merasa bersalah karena telah menjadi pengganggu di keluarga Erik.
"Papa tidak pernah menyia-nyiakan kalian. Ibumu sendiri yang pergi dari rumah. Kamu tidak tahu kalau dialah yang membuang April ketika masih bayi," ungkap Erik.
Fabian mematung. Begitu juga dengan April dia tidak menyangka kalau ada orang yang tega seperti ibunya Fabian. "Papa bohong! Mama tidak mungkin melakukan itu," elak Fabian tak terima.
"Itu kenyataannya Fab. Kalau kamu tanya pada mamamu pasti dia akan menyangkal. Mamamu juga menyuruh orang untuk memalsukan hasil tes DNA yang papa lakukan. Untungnya papa tidak kehabisan akal. Papa melakukan tes untuk kedua kali dan hasilnya tidak bohong."
Fabian terdiam mendengar ucapan ayahnya. Dia tak menyangka ibunya sejahat itu. Erik menepuk bahu Fabian. "Papa sangat menyayangi kamu Fab. Tapi papa juga tidak bisa mengabaikan April. Dia adikmu yang selama ini papa cari selama belasan tahun. Kamu sudah tahu bukan hidupnya selalu menderita. Papa ingin membahagiakan dia mulai saat ini."
April tak banyak bicara. Dia menangis terharu mendengar ucapan ayahnya. Fabian tiba-tiba memeluk April. "Maafkan aku."
"Sudahlah, bukankah kita saudara?" April begitu bijak menanggapi sikap Fabian. Fabian mengacak rambut April.
__ADS_1
"Aku juga akan menjagamu mulai saat ini," kata Fabian. Lalu bagaimana dengan Wanda? Apakah dia akan terima jika Fabian mengakui April sebagai adiknya?