
David meminta asisten rumah tangga Safa untuk membereskan pecahan beling yang berserakan. Kemudian mereka berpindah ke ruang makan. Setelah mengobati luka Willa, Sofia mengajak anak itu makan kue yang dia bawa. "Tunggu di sini sebentar bibi akan ambilkan piring kecil untukmu." Sofia mengambil piring dan garpu untuk menaruh kue yang akan dia potong.
Selain memotongkan kue untuk Willa, Sofia juga tak lupa membaginya pada David. "Terima kasih. Apa anda yakin di dalam kue ini tidak ada racunnya?" tuduh David.
"Saya heran pada anda kenapa selalu berpikiran buruk pada saya? Apa saya punya salah dengan anda?" tanya Sofia tidka mengerti.
"Ada, salah anda adalah belum menerima saya sebagai pacar," bisik Ruli tapi masih terdengar di telinga Willa.
"Jangan berbicara hal yang berbau dewasa di depan anak-anak, Dok," protes Sofia untuk mengalihkan pembicaraan. "Cepat makan keburu dimakan lalat," ledek Sofia sambil terkekeh kecil.
David pun menyendok kue yang ditaruh di piring kecil itu. "Saya hanya memastikan di dalam kue ini tidak ada racun yang membuat saya kecanduan pada anda." Sofia membuka lebar matanya mendengar ucapan mengejutkan yang keluar dari mulut David.
"Sayang bagaimana rasa kuenya?" Tanya Sofia pada Willa.
"Enak, Bi," jawab Willa sambil mengacungkan jempolnya.
Setelah cukup lama berada di sana, Sofia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sayang, bibi mau pamit karena sudah terlalu sore," ucap Sofia pada Willa. Dia berdiri untuk mengambil tas selempangnya yang ada di ruang tengah.
"Kenapa nggak nunggu sampai orang tuanya datang?" tanya David.
"Sampaikan saja salamku pada mereka. Aku ingin sampai di rumah sebelum malam," jawab Sofia. David mengangguk paham. Mereka mengantar Sofia hingga keluar.
"Yagh, lupa beli mainan." Tiba-tiba Willa menagih mainan ketika melihat hujan telah reda.
"Bagaimana kalau kapan-kapan kita beli mainan bersama bibi Sofia?" usul David. Willa mengangguk cepat. Dia sudah tak sabar untuk mendapatkan mainan baru dari David. Sedangkan David sudah tidak sabar satu mobil lagi dengan Sofia.
Sesampainya di rumah, Sofia terkejut saat di rumahnya terdapat mobil yang tidak dia kenali. "Ada tamu ya Pak?" tanya Sofia pada Satpam yang membukakan pintu.
"Iya, Non. Tamunya bapak."
Sofia pun lewat bagian samping rumahnya. Karena dia merasa tidak sopan jika melewati tamu yang sedang berbincang dengan orang tuanya.
Saat Sofia akan menaiki tangga, wanita berhijab itu terkejut ketika ada laki-laki yang tak dia kenal berada di rumahnya. "Anda siapa?" tanya Sofia curiga.
Lalu dia berpikir sejenak dan memindai penampilan laki-laki yang usianya masih tergolong muda itu. "Oh apakah anda tamunya papa?" Laki-laki itu mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Laki-laki yang bekum diketahui namanya itu mengangguk. Setelah tak ada lagi yang patut dicurigai Sofia kembali menaiki tangga. Sedangkan laki-laki itu kembali ke tempat duduknya di rumah tamu setelah selesai ke toilet.
Hari ini Julian kedatangan tamu yang tak lain adalah teman bisnisnya. "Saya tidak menyangka anda memiliki putra yang sangat tampan?" Puji Julian pada teman bisnisnya yang bernama Adrian.
"Anda terlalu memuji, Pak," jawab Adam. "Apakah anda punya anak perempuan?" tanya Adam penasaran. Benarkah bidadari yang dia jumpai di bawah tangga itu anak dari Julian?
"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Julian penasaran.
"Saya tidak sengaja berpapasan dengannya ketika keluar dari toilet," jawabnya dengan jujur.
"Apa dia sudah menikah?" Kini Adrian penasaran. Dia tahu maksud anaknya yang ingin mendekati anak Julian.
"Belum. Dia terlalu menutup diri," ungkap Julian dengan wajah sendu.
"Bagaimana kalau kita jodohkan anak-anak kita? Kebetulan Adam juga belum memiliki pasangan," usul Adrian.
Julian tersenyum lebar. Dia menyetujui usulan rekan bisnisnya itu. Sebenarnya Julian takut jika anak perempuannya itu akan menjadi perawan tua jika tidak segera menikah.
"Aku setuju saja. Tapi aku tidak bisa memutuskan. Semua tergantung Sofia."
"Jadi namanya Sofia?" tanya Adam. Julian mengangguk.
Setelah lama mengobrol, akhirnya Adrian dan Adam pamit pulang. Julian mengantar sampai keluar. "Semoga kita bisa benar-benar berbesan," harap Adrian. Dia memeluk Julian sebelum masuk ke dalam mobil.
"Aku pun berharap yang sama," balas Julian. Setelah itu Julian masuk dan memanggil istrinya. "Ma, bisakah kamu panggilkan Sofia. Ada hal penting yang mau papa bicarakan dengannya." Raina mengangguk paham.
Tok tok tok
"Sofia kamu sedang apa, Nak?" tanya Raina dari luar.
"Masuk saja Ma. Pintunya tidak dikunci."
Raina membuka pintu kamar putrinya. "Apa kamu sibuk?"
"Tidak, Ma. Aku baru saja selesai sholat. Ada apa Ma?" tanya Sofia penasaran.
__ADS_1
"Papa ingin bicara sama kamu katanya ada sesuatu penting yang ingin dia sampaikan," ucap Raina dengan lembut.
"Baiklah, Ma. Aku akan segera turun."
Raina turun lebih dulu lalu Sofia mengikutinya. "Ada apa, Pa?" tanya Sofia.
"Duduklah!" Julian menepuk kursi di sebelahnya yang kosong.
"Kamu tahu kan tadi ada teman bisnis papa yang datang ke sini?" Sofia mengangguk.
"Lantas?"
"Dia ingin kamu dan putranya mengenal satu sama lain." Sofia tahu kalau arah pembicaraan papanya adalah mencarikannya jodoh.
"Apa papa berniat menjodohkan aku dengan anak teman papa itu?" tanya Sofia memastikan.
"Apa salahnya mencoba? Setidaknya temuilah dia walau sekali," mohon Julian. Dia berharap putrinya itu mau menerima perjodohan ini. Julian hanya mengkhawatirkan nasib anak perempuannya kelak.
Sofia berpikir sejenak. Dia menduga kalau laki-laki yang ditemuinya di bawah tangga adalah orang yang dia temui di bawah tangga tadi. Sofia adalah gadis yang baik dia juga penurut. Sofia tidak tega menolak permintaan orang tuanya. Sehingga dia menyetujui perjodohan tersebut.
Julian tersenyum lebar. Tapi tidak dengan Raina. Dia tahu kalau putrinya itu tertekan. "Baiklah, papa akan mengatur jadwal pertemuan kamu dengan Adam." Sofia mengangguk pasrah.
Sementara itu Adam yang sedang berada di dalam mobil memuji ayahnya. "Bagaimana ayah tahu kalau aku ingin mengenal anak Pak Julian lebih lanjut?" tanya Adam.
"Ayah juga pernah muda Adam," Adam tersenyum malu.
"Aku jatuh cinta pada pandangan pertama, Yah," ungkap Adam seraya mengingat wajah Sofia yang begitu teduh. Jantungnya berdebar kencang.
"Memang secantik apa anak Pak Julian itu?" Tanya Adrian penasaran.
"Yang jelas dia lebih cantik dari mantan pacarku yang dulu. Ayah pasti akan menyukai Sofia."
"Kamu bahkan sudah hafal dengan namanya padahal Pak Julian hanya menyebut nama anaknya sekali," ledek Adrian pada putranya.
"Bukankah ayah pernah muda?" Balas Adam. Mereka pun tertawa.
__ADS_1
"Tapi ingat Adam. Jika mereka menerima lamaran kamu. Pernikahan ini bukan hanya pernikahan biasa tapi pernikahan bisnis. Karena otomatis mereka akan menjalin hubungan dengan perusahaan kita." Adrian terlihat ambisius. Tapi tidak dengan Adam. Dia tak menghiraukan keinginan ayahnya. Yang jelas saat ini bagaimana caranya mengenal Sofia lebih dekat.
"Aku menantikan saat kita bisa mengobrol bersama Sofia," batin Adam sambil tersenyum.