Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Niat jahat


__ADS_3

"Kamu ngapain merem?" tanya Aksa pada April. April pun membuka mata. Wajahnya memerah karena malu.


"Alhamdulillah ternyata dugaanku nggak bener," batin April.


"Kita berangkat sekarang?" April mengangguk.


Selama di perjalanan April hanya diam saja. Dia lebih banyak melihat ke arah luar jendela. "Pril," panggil Aksa dengan halus.


April yang melamun tak mendengar panggilan Aksa. Gadis itu baru tersadar saat pemuda itu menggenggam tangannya. "Eh?" Dia kaget.


"Kamu ngelamunin apa, sih?" tanya Aksa.


"Nggak ada, Kak. Aku cuma lihat luar jendela aja," jawabnya.


"Ini kenapa tangannya nggak dilepas ya," gumam April di dalam hatinya. Jantung April berdebar ketika Aksa menggenggam tangannya.


"Mulai sekarang aku tidak akan melepaskan tanganmu. Jadi saat kamu butuh sesuatu bicaralah padaku. Aku akan dengan senang hati menolongmu," ucap Aksa tanpa melihat ke arah April. Gadis itu merasa terharu.


April membiarkan tangan Aksa terus menggenggam tangannya. "Kenapa kakak baik sekali padaku?" tanya April.


"Karena aku ingin melindungi kamu," jawab Aksa.


"Dari apa? Apakah kamu melihat bahaya di sekitarku?" tanya April masih tidak mengerti.


Aksa menoleh sesaat kemudian kembali fokus ke jalanan. "Jangan bicara seperti itu. Walau tidak ada bahaya aku senang bisa berada di sampingmu. Apa kamu keberatan?" tanya Aksa.


Wajah April memerah. Belum pernah ada yang memperhatikan dia seperti ini. "Apa aku pantas diperhatikan?" tanya April seraya menundukkan kepala.


"Kamu gadis yang istimewa. Kamu pantas mendapat kasih sayang dari orang-orang di sekitarmu. Berjanjilah mulai saat ini jangan simpan masalah sendirian. Berbagilah denganku karena aku bersedia mendengarkan keluhanmu kapan pun dan di mana pun."


Hati April menghangat. Sungguh dia merasa jadi gadis yang paling istimewa. "Terima kasih." Aksa mengangguk lalu mengusap lembut kepala kekasihnya.


"Kita sudah sampai," kata Aksa memberi tahu. April turun dari mobil.


"Apa kakak mau turun?" tanya April. Aksa menggeleng.


"Ibu bawa mobil sendiri jadi aku hanya akan mengantarmu. Apa nanti malam mau aku jemput?" tanya Aksa.


"Tidak, jangan lakukan itu. Aku tidak enak kalau Bu Sofia tahu," tolak April.


"Aku akan memberi tahu ibu kalau kita sudah resmi pacaran," goda Aksa.

__ADS_1


"Kak, please jangan ya. Nanti aku dipecat," mohon April seraya mengatupkan kedua telapak tangannya. Aksa terkekeh mendengarnya.


"Aku hanya becanda. Ya sudah aku pulang dulu ya," pamit Aksa lalu dia melambaikan tangan.


April pun masuk ke dalam toko dengan wajah sumringah. "Pril kamu diantar sama Mas Aksa ya?" tanya salah seorang pegawai.


"Eh, iya. Kebetulan kami satu sekolah dan dia menawarkan tumpangan Mbak."


"Itu aja?" tanya teman April yang tidak yakin. April mengangguk cepat.


"Ya sudah ganti baju lalu bantu Mbak ya," perintahnya pada April.


Di tempat lain beberapa orang sedang memukuli Jamal. "Bayar hutang kamu!"


"Ampun, Bang. Uang saya habis," jawab Jamal dengan wajah babak belur habis dipukuli.


"Kalau tidak punya uang jangan berjudi," bentak laki-laki itu sambil memukul kepalanya.


"Sudah cukup!" perintah pimpinan anggota mereka.


Laki-laki itu berjongkok lalu mencengkeram dagu Jamal. "Apa kamu mau hutangmu lunas dengan cepat?" Jamal menganggukkan kepala.


Jamal tak menolak yang penting dia tidak lagi berurusan dengan para rentenir itu. "Baik, Bos. Dia akan saya bawa kemari nanti malam," janji Jamal.


"Bagus! Kalau sampai kamu gagal membawa anakmu kemari maka nyawamu yang akan jadi taruhannya," ancam laki-laki bertato dan bertubuh besar itu.


Jamal pun pulang ke rumahnya. "Bu, ibu," teriak Jamal dari luar rumah.


"Ada apa, Pak?" tanya Bu Dini.


"Obati lukaku ini!" perintah Jamal pada istrinya.


"Ya ampun, Pak. Kenapa bisa babak belur seperti ini? Apa bapak dipukuli orang?" cecar Bu Dini pada suaminya.


"Jangan banyak tanya! April mana?" tanya Jamal yang tak melihat anak perempuannya.


"Jam segini dia masih kerja. Tumben mencari April. Apa bapak mau merampas uangnya lagi?" tuduh Bu Dini.


"Tidak. Aku hanya tanya," jawab Jamal.


Di tempat yang berbeda Wanda bertanya pada orang suruhannya. "Bagaimana hasilnya?" tanya Wanda.

__ADS_1


Orang itu menyerahkan foto April. "Itu orang yang Anda cari."


"Gadis ini tidak boleh muncul di hadapan suamiku. Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan?"


"Baik, Bos. Serahkan pada kami!" Wanda menarik ujung bibirnya lalu pergi. Dia kembali ke rumahnya.


"Fabian," panggil Wanda ketika baru sampai di rumah. Dia menghampiri Fabian yang baru saja selesai makan.


"Dari mana, Ma?" tanya Fabian.


"Mama ada urusan di luar. Oh ya mama menemui papamu. Dia bilang kamu boleh main ke rumahnya. Tidakkah kamu ingin merindukan papamu?" tanya Wanda pada putra semata wayangnya.


Fabian jadi ingat kejadian tadi pagi ketika ayahnya mengantar April ke sekolah. "Nanti Fabian pikirkan lagi, Ma," jawab pemuda itu ketus.


Dia pun mengambil handphone dan memainkannya. Sesaat kemudian Axel mengirim pesan. 'Nongkrong yuk!'


"CK, males," kata Fabian seraya membalik handphone miliknya. Dia berjalan menuju ke kamar. Namun, saat dia akan membuka pintu dia melihat foto April tergeletak di lantai.


"Kenapa bisa ada foto April di sini?" gumam Fabian seraya memungut foto tersebut. Ada perasaan tidak enak yang menyelimuti dirinya. Fabian pun memutuskan untuk keluar.


Hari pun berganti malam. April selesai bekerja. Dia naik ojek menuju ke rumahnya. "Makasih, Bang," ucapnya seraya memberikan uang pada tukang ojek tersebut.


"Pril," panggil Jamal. Dia sengaja menjemput April di pinggir jalan sebelum gadis itu memasuki gang menuju rumahnya.


"Bapak ngapain di sini?" tanya April heran.


"Ibumu masuk ke rumah sakit," bohong Jamal dengan wajah pura-pura sedih.


"Hah, apa? Kenapa bisa?" tanya April yang syok.


"Dia tadi jatuh dari motor ketika bapak bonceng pakai motor pinjaman."


"Bapak kalau tidak bisa bawa motor jangan sok-sokan deh. Ayo kita ke sana! Azriel mana?" April menanyakan adiknya.


"Dia menunggui ibumu. Ayo berangkat sekarang!"


Sesaat kemudian sebuah mobil berhenti di depan April dan Jamal. "CK, siapa mereka? Jangan-jangan orang yang suka menjual wanita. Aku harus selamatkan April agar dia bisa menyelematkan nyawaku," gumam Jamal di dalam hatinya.


Jamal melawan sekelompok orang yang akan membawa April. "Pril ayo lari, ajak Jamal. Dia menarik tangan April sambil berlari. April pun mengikuti langkah bapaknya hingga terseok-seok.


Setelah itu Jamal membawa April sampai ke sebuah tempat. "Pak di mana ini?" tanya April yang memiliki firasat buruk.

__ADS_1


__ADS_2