Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Bukan wanita lemah


__ADS_3

Di pagi hari Sofia merasakan mual. Dia berlari ke toilet untuk memuntahkan isi perutnya. Karena curiga Sofia mengambil alat tes kehamilan. Matanya berkaca-kaca ketika melihat garis dua di alat tes kehamilan tersebut.


Haruskah dia sedih atau bahagia? Jika saja David ada di rumah pasti dia akan segera memberi tahu suaminya.


Sofia menangis pilu ketika mendapati kenyataan dia hamil tapi suaminya tidak ada bersamanya. Namun, Sofia mencoba mengontrol diri agar Aksa tidak melihatnya ketika bersedih. Sofia mengusap air matanya. Dia berjalan keluar kamar mandi untuk membangunkan putranya.


Hari ini Aksa tidak sekolah karena dia diskors. "Mas Aksa sholat subuh dulu yuk! Nanti boleh balik tidur lagi," bujuk Sofia membangunkan anaknya secara halus.


Pada dasarnya Aksa anak yang penurut. Mendengar perintah ibunya dia langsung bangun tanpa rewel.


Usai menyelesaikan sholat subuh, Aksa ingin kembali tidur tapi matanya tidak bisa terpejam. "Bu, Aksa boleh bantu beres-beres rumah tidak?" tanya anak laki-laki itu.


"Mas Aksa nggak mau tidur lagi? Hari ini kan nggak sekolah?"


Aksa menggeleng. "Aksa tidak bisa tidur. Mending bantuin ibu boleh ya Bu?" rengek Aksa.


"Boleh, alhamdulillah kalau Mas Aksa mau bantu. Kalau gitu kerjain yang mudah saja. Bisa tidak siram tanaman yang ada di depan rumah?" pinta Sofia. Dia meminta putranya mengerjakan sesuatu yang ringan saja.


"Boleh, Bu." Aksa melakukan apa yang ibunya suruh. Aksa tak terlihat sedih walau dia tidak bersekolah hari ini. Anak itu berpikir lebih baik di rumah mengabiskan hari bersama ibunya dari pada bersama teman-temannya yang menghina dia.


Hari ini pekerjaan Sofia lebih ringan karena dibantu oleh anaknya. Usai menyelesaikan pekerjaan rumah, Sofia berencana menemui Yudha. Dia pun mengajak serta putranya ke rumah sakit.


"Mas Aksa jika ada orang lain yang membicarakan ayah di rumah sakit nanti bertindaklah seolah Mas Aksa tuli. Jangan hiraukan mereka. Biarkan mereka berbuat sesuka hati mereka. Yang terpenting Mas Aksa tidak disakiti secara fisik," pesan Sofia panjang lebar pada putranya.


Aksa mengangguk patuh. "Aksa mengerti, Bu."


"Anak pintar," puji Sofia sambil mengelus puncak kepala anaknya.

__ADS_1


Setelah itu Sofia menemui Yudha di ruangannya. "Assalamualaikum, Pa."


"Waalaikumsalam. Apa yang membawamu ke sini?" tanya Yudha.


Sofia mengeluarkan uang dan memberikannya pada Aksa. "Mas Aksa bisa ke kantin sebentar tidak buat beliin ibu dan kakek minum," perintah Sofia pada putranya. Aksa mengangguk patuh.


"Aku ingin tahu bagaimana perkembangan kasus Mas David, Pa. Apa papa sudah menemukan titik terang?" tanya Sofia.


"Papa sedang bingung karena di ruangan UGD tersebut tidak terpasang CCTV. Kita tidak tahu apa yang menyebabkan pasien itu meninggal," terang Yudha.


"Bagaimana dengan autopsi?" tanya Sofia.


"Keluarganya menolak keras. Mereka tidak mau mereka membongkar makam putrinya," jawab Yudha.


Yudha agak kesulitan untuk menemukan penyebab. "Apa tidak ada cara lain? Papa sudah menanyai siapa saja yang bertugas saat itu? Mungkin ada salah satu dari mereka yang melakukan kesalahan tanpa sengaja," desak Sofia.


"Kalau begitu izinkan aku masuk direksi rumah sakit, Pa. Aku perlu kekuasaan untuk menyelidiki secara langsung. Jika aku tidak punya status maka akan sulit bagiku untuk mengungkap kejahatan yang membuat suamiku jadi tersangka," ucap Sofia dengan menggebu.


Yudha mengulas senyum tipis. Dia melihat tekad kuat yang ada pada diri menantunya itu. "Aku pemilik rumah sakit ini. Mana mungkin aku tidak bisa membuat menantuku masuk jajaran direksi rumah sakit. Aku akan menempatkan kamu pada posisi yang kamu mau."


Tak lama kemudian Aksa kembali. "Terima kasih Mas Aksa yang baik."


"Sama-sama, Bu," jawab Aksa sambil tersenyum.


"Kakek sudah dengar cerita dari nenekmu kalau kamu diskors. Tenanglah kakek tahu kamu tidak sepenuhnya bersalah." Yudha berjongkok menyamakan tingginya dengan tinggi cucunya. "Ingatlah jangan membalas perbuatan mereka dengan cara yang sama. Lakukan dengan cara lain yang bisa membuat mereka menyesal di kemudian hari karena telah mengejekmu," pesan Yudha pada cucunya.


Walaupun belum mengerti tapi Aksa yakin apa yang disampaikan oleh kakeknya pastilah baik untuknya. Maka dia menganggapinya dengan mengangguk.

__ADS_1


"Wajahmu pucat. Apa kamu sakit?" tanya Yudha pada menantunya.


Sofia tersenyum. "Aku hanya kurang tidur, Pa," bohong Sofia. Dia tidak mau mengungkapkan kehamilannya saat ini. Dia tidak mau terlihat lemah di depan orang lain. Itu akan menghambat proses penyelidikan yang akan dia kerjakan.


Apa yang Yudha janjikan pada Sofia langsung dipenuhi. Keesokan harinya Sofia langsung diperkenalkan oleh Yudha sebagai wakil dewan direksi rumah sakit. "Mulai sekarang Sofia akan membantu saya menghandle rumah sakit. Jadi tolong turuti apa yang dia perintahkan," pesan Yudha pada bawahannya ketika sedang mengadakan meeting.


Sofia tersenyum smirk. Kini dia bisa dengan leluasa melakukan penyelidikan. "Tolong berikan daftar nama orang-orang yang bekerja ketika kejadian waktu itu, tolong berikan rekam medis pasien yang meninggal itu juga pada saya," perintah Sofia pada bawahannya.


Tak butuh waktu lama, bawahannya tu langsung memberikan daftar nama orang-orang yang ikut menangani pasien tersebut. "Panggil mereka ke ruangan saya sekarang!" perintah Sofia dengan nada datar.


"Ada lima orang yang membantu persalinan saat itu. Tapi kenapa hari ini hanya empat orang yang hadir ke ruangan saya?" tanya Sofia dengan tegas. Sikapnya tidak lagi lemah lembut melainkan tegas dan tidak bertele-tele.


"Wina mengundurkan diri beberapa hari yang lalu, Bu," lapor satu di antara keempat perawat yang hadir.


"Wina? Bukankah dia asisten Dokter David?" tanya Sofia.


"Katanya dia akan ikut suaminya pindah ke luar Jawa," kata perawat itu memberi tahu.


"Selidiki dia!" Sofia memerintahkan asistennya untuk mencari keberadaan Wina. Sofia yakin Wina ada hubungannya dengan kasus yang menyeret suaminya.


Sofia meminta bantuan ayahnya, Julian, untuk mengirim para pesuruhnya. Dia ingin mereka mencari keberadaan Wina.


"Temukan dia dalam keadaan hidup!" perintah Sofia pada anak buah suruhan ayahnya.


Kini Sofia bener-benar harus sedikit bersabar untuk menemukan titik terang. Dia akan menggali kebenaran agar suaminya bebas dan bisa berkumpul lagi dengan keluarganya.


"Wina, aku yakin kamu kunci kasus yang menimpa suamiku. Di manapun kamu berada akan kukejar kamu sampai ketemu," gumam Sofia sambil meremat kertas yang dia pegang.

__ADS_1


__ADS_2