Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Perhatian


__ADS_3

Aksa sengaja memberikan bekal yang dia bawa dari rumah untuk April. "Kak Dafi."


"Nih makan!" Dia mendorong kotak berisi makanan lengkap nasi dan lauknya.


"Tidak usah, Kak. Nanti aku beli saja di kantin," tolaknya.


"Kalau begitu bawa pulang saja. Aku hanya sayang membuang makanan itu. Kamu tahu tidak kalau ibuku selalu memberikan aku bekal makanan tapi sebenarnya aku tidak ingin," ucapnya.


"Agar aku tidak menyakiti hatinya aku selalu membawa bekal dari ibu tapi aku buang isinya. Jika ibuku melihat isi kotak bekalku habis dia akan senang," imbuhnya.


"Wah ternyata Kak Dafi menyayangi ibunya. Buktinya dia ingin menyenangkan ibunya dengan memberikan kita makan yang kosong. Dengan begitu ibunya berpikir dia menyukai makanannya," pikir April dengan polos. Padahal Aksa hanya mengarang cerita.


"Kalau begitu tiap hari aku mau memakan isi kotak bekalmu kak. Ehem. Bukannya aku rakus tapi sayang kalau dibuang isinya," ucap April. Aksa mengulas senyum tipis.


Dengan begitu April pun mau menerima kotak bekal dari Aksa. "Oke, besok aku akan berikan kotak bekalku ke kamu." April tersenyum senang.


Dia mulai membuka kotak makanan itu. Betapa takjubnya dia melihat makanan enak yang terdapat di sana. "Wah aku belum pernah makan makanan enak seperti ini. Andai saja bisa kuberikan pada Azriel," gumam April dalam hatinya.


"Ayo dimakan! Kenapa? Kamu pengen makan sendiri, oke aku pergi. Ingat besok tunggu di tempat parkiran, aku akan memberikan kotak makanku di sana." April mengangguk cepat.


Pemandangan itu tak luput dari mata Nesya. Dia mengepalkan tangan karena geram melihat Aksa yang memberikan perhatian pada April. "Kenapa dia selalu mencuri perhatian semua orang. Apa dia tidak kapok?" ucapnya kesal.


April menyimpan kotak makanan yang telah dia makan setengahnya itu di dalam laci mejanya. Setelah itu dia ke ruangan guru untuk mengikuti ulangan susulan.


"Sebaiknya nanti saja setelah pulang sekolah. Bukankah waktunya sangat singkat jika dikerjakan sekarang," kata Pak Restu guru mata pelajaran matematika.


"Maaf, Pak. Nanti siang saya harus kerja jadi sebaiknya sekarang saja. Saya janji akan menyelesaikan ulangannya dengan cepat," mohon April.


Hari ini rencananya dia akan kembali bekerja di toko Roti milik Sofia. Dia tidak mau libur karena kemaren dia sudah tidak masuk sehari.

__ADS_1


"Baiklah, akan bapak ambilkan dulu soalnya."


Pak Restu memberikan April kertas ulangan. Dia juga berbaik hati mengizinkan ke guru mata pelajaran yang akan mengajar di kelas April usai jam istirahat. "Bu Indri saya mohon April dikasih waktu setengah jam di sini untuk menyelesaikan soal ulangannya ya Bu."


"Baik, Pak." Kebetulan Bu Indri adalah guru baru yang sangat baik. Dia mengizinkan April tinggal di ruang guru sampai menyelesaikan ulangannya.


"Terima kasih banyak, Pak, Bu," ucap April pada guru-gurunya.


Mereka tahu April berasal dari keluarga yang tidak mampu. Jadi mereka paham jika sepulang sekolah April harus bekerja. Wali kelasnya sudah mengusulkan beasiswa bagi keluarga yang tidak mampu hanya saja keputusannya belum keluar.


Belum ada setengah jam dia berhasil menjawab seluruh ulangan matematika yang diberikan pada Pak Restu. "Wah kamu hebat Pril. Kemaren kenapa tidak masuk sekolah?" tanya Pak Restu penasaran.


"Saya sakit, Pak. Tapi tidak ada yang saya titipi izin. Maaf ini karena saya tidak punya handphone," jawab April berbohong. Dia tidak bisa menceritakan kalau dia terkunci di dalam gudang karena urusannya akan panjang.


"Baiklah, lain kali kalau kamu memang tidak berangkat karena sakit, tidak apa-apa kalau tidak izin hari ini. Kamu bisa bilang keesokan harinya pada wali kelas kamu," pesan Pak Restu pada muridnya tersebut.


April memeriksa laci mejanya tapi dia tidak menemukan kotak bekal yang diberikan oleh Aksa. "Kamu cari apa, Pril?" tanya Diva.


"Kamu nggak lihat kotak makan yang ada di sini?" tanya April pada Diva.


"Enggak Pril, aku nggak lihat," jawab Diva. April merasa bersalah pada Aksa karena telah menghilangkan kotak makannya.


Usai pulang sekolah, April menuju ke toko roti tempatnya bekerja. "Pril kamu sudah baikan?" tanya salah seorang temannya.


"Alhamdulillah, mbak," jawab April.


Lalu Tuti melintas di depan April tapi wanita itu terlihat cuek. Tuti merasa kesal karena April kembali lagi bekerja di tempat yang sama. Dia pikir April akan menjadi pusat perhatian lagi ketimbang dirinya.


Meski April menyadari sikap Tuti yang berbeda tapi dia tak mau mengadu kalau di saat kejadian kemaren Tuti bersamanya. April tidak mau memperpanjang masalah karena akan semakin menambah musuh.

__ADS_1


April bekerja seperti biasa. Dia selalu jadi karyawan yang rajin sehingga Sofia sangat menyukai dirinya. Namun, sebenarnya Sofia merasa kasian padanya karena di usia sekolah dia harus banting tulang untuk mencari nafkah.


"Apa dia masih memiliki orang tua? Kenapa mereka membiarkan April bekerja siang malam seperti ini?" gumam Sofia seorang diri.


Keesokan harinya sesuai kesepakatan April menunggu Aksa di parkiran. Dia kini tak lagi bisa berjualan koran semenjak sepedanya hilang. April berdiri sambil memainkan kakinya di parkiran seorang diri.


"April," panggil Aksa. April pun tersenyum ketika Aksa menyodorkan kotak makan itu pada dirinya.


"Terima kasih banyak, Kak."


"Sama-sama," ucapnya lalu berlalu.


"Tunggu, Kak." Langkah Aksa terhenti ketika April memanggilnya.


"Aku tidak bisa membalas kebaikan kakak, dengan apapun kecuali doa. Aku doakan kakak selalu sehat dan apa yang kakak cita-citakan bisa terwujud." Ucap April dengan tulus.


Aksa merasa terharu. Baru pertama kali orang lain mendoakan dirinya seperti itu. "Terima kasih untuk doanya. Semoga kamu pun lebih beruntung dari pada aku," balas Aksa. April merasa terharu. Jantungnya berdegup kencang ketika Aksa menatap matanya dengan intens.


"Dafi." Suara itu membuyarkan lamunan keduanya.


Axel, Imam dan tentu saja Fabian berjalan bersama menghampiri sahabatnya. April segera pergi dari sana. Aksa melihat punggung April yang semakin menjauh. Setelah itu dia bergabung dengan teman-temannya. Fabian menatap tak suka ketika melihat Aksa memperhatikan April seperti itu.


"Aku pasti bisa merebut hati April. Aku tidak akan membiarkan Dafi menembak April lebih dulu. Sebaiknya aku cari waktu untuk mengungkapkan perasaanku pada April," gumam Fabian dalam hati.


♥️♥️♥️


Aku udah Doble up nih kalian jangan lupa kasih dukungan ya kembang kopi dan vote


makasih buat yang udah kasih semoga dikasih kelancaran rejeki

__ADS_1


__ADS_2