
Amira meninggal sebelum Erik tiba di ruang ICU. Dokter dan perawat telah melakukan yang terbaik tapi tekanan darah Amira tiba-tiba meninggi dan wanita itu mengalami sesak nafas.
"Tam, gimana istri gue?" tanya Erik pada Tamara.
Tamara menggelengkan kepalanya. "Gue turut berduka atas meninggalnya istri Lo," ucap Tamara dengan berat hati.
Erik menggeleng tak percaya. "Bohong Lo Tam. Minggir gue bisa selamatin istri gue. Gue juga dokter." Erik ingin menerobos masuk tapi Tamara melarangnya.
"Rik, sadar Rik sadar. Lo emang dokter tapi ini bukan wilayah Lo," bentak Tamara. Erik pun terduduk lemas. Dia menangis meraung-raung ketika istrinya meninggal. Wanita yang belum lama membuatnya bahagia kini sudah diambil oleh Yang Kuasa.
"Jangan pergi, sayang," gumam Erik di sela-sela tangisannya. Setelah itu Erik memakamkan Amira di hari yang sama. Sementara itu anak mereka masih ditinggal di rumah sakit.
Wanda mendengar kalau istri kedua suaminya telah meninggal. Tapi ketakutan Wanda teramat berlebihan. Dia takut Erik membawa pulang anak itu ke rumah mereka. Ya, itu sudah dapat dipastikan karena Erik adalah ayahnya. Wanda pun menyuruh orang untuk membuang anak Erik dan Amira.
Seusai memakamkan istrinya, Erik kembali ke rumah sakit dalam keadaan kacau. Dia ingin mengambil anaknya dan akan dia bawa pulang. Tapi betapa terkejutnya dirinya ketika mendengar kabar bayi yang belum dinamai itu hilang entah di mana.
"Kalian ini sangat ceroboh. Bagaimana mungkin anak bayi bisa berjalan sendiri. Cari anak saya sampai dapat! Kalau tidak saya akan menuntut rumah sakit ini," ancam Erik.
Tamara mendengar berita hilangnya bayi Erik merasa bersalah karena tak bisa membantu menjaga anak temannya itu. "Semoga kamu segera menemukan anakmu, Rik," gumam Tamara dari kejauhan. Saat ini dia memilih untuk memberikan ruang pada Erik. Karena dia tahu bagaimana perasaan Erik. Setelah kehilangan istrinya kini dia harus kehilangan anaknya pula.
Sementara Erik menunggu kabar bayinya, dia pulang ke rumahnya. "Ingat pulang juga kamu, Mas," sindir Wanda seraya menggendong Fabian.
Fabian merentangkan tangan seolah ingin meminta Erik memeluknya tapi Wanda tak memperbolehkan suaminya memeluk Fabian. "Aku mau bawa dia ke kamar," kata Wanda.
Erik memaklumi jika Wanda merajuk karena telah mengetahui kenyataan jika dirinya telah mendua. Erik yang merasa frustasi berjalan ke kamarnya. Wanda memilih tidur bersama anaknya.
__ADS_1
"Amira, maaf aku tidak bisa menjaga anak kita," gumam Erik yang merasa bersalah. Matanya masih basah karena menangis.
Di tempat lain, Bu Dini yang sedang berjalan seusai pulang dari pengajian mendengar suara bayi yang menangis. Dia pun mencari sumber suara itu. "Ya Allah tega sekali orang yang membuang bayi di sini."
Bu Dini segera mengambil bayi yang hanya terbungkus kain bedong itu di bawah pohon pisang di dekat rumahnya. Saat itu keadaan sangat sepi dia tidak melihat seorang pun ada di sana. Akhirnya Bu Dini membawa pulang bayi yang dia temukan itu.
"Kamu bawa pulang anak siapa itu, Bu?" tanya suaminya.
"Aku menemukannya di jalan. Mungkin ini jawaban atas doaku selama ini, Pak," ucap Bu Dini dengan wajah sumringah.
"Ah, untuk apa merawat anak yang tidak jelas asal usulnya?" tolak sang suami.
"Astaghfirullah, Pak. Bagaimana bisa bapak setega itu pada bayi sekecil ini?" Bu Dini tetap merawat anak itu meski tanpa persetujuan dari suaminya.
"Aku akan menamai kamu Dian April Maharani. Seperti namamu yang indah semoga kelak kamu tumbuh dan menjalani hari-hari yang indah seperti namamu."
Sementara itu, Erik yang telah bertahun-tahun mencari keberadaan anaknya tidak menemukan titik terang sama sekali. Dia hanya menemukan fakta bahwa Wandalah yang memerintahkan orang untuk membuang bayinya.
"Kenapa kamu melakukan itu Nda?" tanya Erik.
"Karena aku membenci kalian. Aku tidak ingin anak itu merusak kebahagiaan keluarga kita," jawab Wanda.
"Dasar wanita egois. Bagaimana bisa kamu setega itu pada bayi yang belum bisa berjalan dan menemukan makanannya sendiri?" Erik sangat geram pada istrinya.
"Egois katamu? Aku begini karena ulah siapa?" Wanda berbalik memojokkan Erik.
__ADS_1
"Tapi kamu sangat keterlaluan, Nda. Bayi itu tidak bersalah. Seharusnya kamu menghukummu bukan membuang dia," ucap Erik sambil terisak.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan padaku, Mas? Setelah mengetahui kalau aku yang membuang anakmu. Apa kamu akan membuangku dan Fabian?" Wanda meminta Erik untuk mengambil keputusan.
"Jika kamu ingin pergi silakan. Tapi jangan bawa Fabian," ucap Erik dengan nada dingin.
"Cih, kamu pikir Fabian mau tanpa ibunya? Memang kamu bisa mengurusnya? Kamu tahunya hanya membuat anak saja, Mas."
Plak
Erik menampar pipi Wanda. "Baik, ini aku anggap sebagai salam perpisahan darimu," kata Wanda seraya menarik tangan anaknya. Dia tidak terima mendapatkan perlakuan kasar dari Erik.
Wanda pun memilih keluar dari rumah itu dengan membawa putra semata wayangnya. "Wanda berhenti! Wanda, Wanda!" terima Erik tapi sang istri tak menghiraukannya.
Wanda keluar tanpa membawa barang-barang miliknya. Dia hanya membawa Fabian dan sebuah mobil yang dia gunakan untuk keluar dari rumah.
"Istri sialan," teriak Erik. Dia sangat kacau. Semua orang yang dia kasihi meninggalkan dirinya.
Erik menjalani hari-harinya seorang diri tanpa ada yang menemani dirinya. Dia tetap bekerja di rumah sakit tapi dia pindah ke rumah sakit tempat Amira melahirkan. Dia ingin mencari tahu pada orang yang telah membuang anaknya. Erik berharap dia akan menemukan putrinya cepat atau lambat.
Dan, akhirnya setelah sekian tahun lamanya Erik menemukan tanda lahir yang dia lihat sama persis seperti milik anaknya yang hilang. "Tanda apa ini?" tanya Erik seraya mengorek informasi pada April.
"Ini tanda lahir, Om," jawab April pada laki-laki di depannya itu.
"Apa dia benar-benar anakku yang hilang?" gumam Erik dalam hatinya. Diam-diam dia bahagia karena setelah sekian lama hari-hari yang dirindukan akan segera terwujud.
__ADS_1
Erik memperhatikan wajah April yang mirip dengan mendiang istrinya. Laki-laki itu semakin yakin kalau April adalah anaknya yang hilang belasan tahun lalu.