
Setelah mendapatkan kunci mobil, Axel dan Lidia kembali ke lokasi. Rupanya ketika ditinggal lama oleh pemiliknya, ada seseorang yang ingin berbuat jahat. Lidia dan Axel memandang curiga.
"Sebaiknya lo tunggu di mobil," kata Axel.
Lidia tak mengindahkan omongan Axel. Dia turun lebih dulu. "Lidia," panggil Axel.
"Hei," panggil Lidia pada laki-laki yang hendak mencongkel spion mobil Fabian. Laki-laki itu menoleh.
"Mo ngapain lo?" tanya orang itu.
"Seharusnya gue yang tanya. Mo ngapain lo deket mobil temen gue?" sentak Lidia.
"Cewek sialan!" Laki-laki itu maju dan hendak menyentuh Lidia. Axel tentu khawatir. Namun, ketika dia akan mendekat Lidia tengah meringkusnya. Lidia menarik tangan laki-laki itu lalu membalik tubuhnya.
Axel dibuat kagum melihat kekuatan Lidia. "Gila, keren banget!" Axel tersenyum bangga.
Laki-laki itu meringis kesakitan. "Nggak usah macam-macam. Cepat pergi dari sini!" Lidia mengusir laki-laki asing itu.
Dia pun lari tunggang langgang. Axel mendekat. "Wis keren banget. Sumpah." Axel mengacungkan kedua jempolnya ke depan wajah Lidia.
"Biasa aja," balas Lidia.
"Sini kuncinya! Biar aku yang bawa mobilnya sampai ke rumah Fabian." Tangan Lidia menengadah. Axel merogoh kunci yang ada di saku celananya.
__ADS_1
"Ini bukan sekedar kunci. Tapi ini kunci untuk membuka hatimu, Lidia," goda Axel.
"Cih, gombal." Lidia masuk ke dalam mobil Fabian lalu menyalakan mesinnya. Axel hendak mengikuti dari belakang karena nanti dia akan mengantar Lidia pulang. Namun, sebelum dia pergi Lidia berpesan agar Axel pulang.
"Balik lo! Gue bisa pulang naik taksi nanti," kata Lidia.
"Eitz mana boleh gitu. Gue yang jemput lo keluar masa gue nggak nganter lo pulang?"
"Ck, terserah lo!" Lidia melajukan mobil Fabian dengan kecepatan tinggi. Axel pun mengikuti laju mobil Lidia.
"Buset, selain jago berantem dia juga jago balap," puji Axel. Tak henti-hentinya kagum pada wanita yang tengah duduk di bangku kuliah itu.
Sesampainya di rumah Fabian, Erik menyambut kedatangan Lidia. "Masuk dulu, Lidia!"
"Ya sudah. Besok jangan lupa kamu harus tanggung jawab." Erik mengingatkan Lidia. Gadis itu mengangguk paham.
Setelah itu Lidia diantar oleh Axel pulang. "Antar gue ke kafe aja. Gue mau bantu-bantu di sana."
"By the way, dulu gue sering ke kafe milik keluarga lo tapi kenapa nggak pernah lihat elo?" tanya Axel pemasaran.
"Dulu gue sibuk kuliah. Jadi malas kalau harus bantu-bantu di kafe," jawab Lidia.
"Owh, elo kuliah jurusan apa?" tanya Axel.
__ADS_1
"Gue nggak lagi wawancara kerja 'kan?" ledek Lidia. Axel terkekeh.
"Lo lagi wawancara jadi calon pacar gue," ucap Axel dengan penuh percaya diri. Lidia hanya mencibir.
Sesaat kemudian mereka sampai di kafe milik keluarga Lidia. "Gue udah punya pacar," sahut Lidia sambil membuka pintu mobil. Axel merasa patah hati.
"Selama janur kuning belum melengkung, gue masih bisa nikung," teriak Axel dari dalam mobil. Lidia merasa risih pada pemuda itu.
Di tempat lain, Fabian berniat membuka perbannya. Dia meringis kesakitan. Lalu Aksa membantu Fabian mengganti perbannya. "Aku bisa sendiri," kata Fabian.
Saat itu Aksa sedang main ke rumahnya. "Heran, ini rumah siapa sih? Kenapa pagi siang malam aku selalu melihat wajahmu?" cibir Fabian yang tidak suka dengan kedatangan Aksa.
Aksa tersenyum miring. "Sekali-kali kamu bisa mengandalkan aku," kata Aksa sambil merawat luka Fabian.
Fabian merasa terharu. Mereka memang sudah lama berteman tapi baru kali ini mereka sedekat ini. "Aku nggak mau merepotkan orang lain," jawab Fabian dengan ketus.
"Aku akan menikahi April setelah dia lulus nanti." Ucapan Aksa membuat Fabian terkejut. Dia bahkan sampai berdiri.
"Jangan gila!"
Aksa juga berdiri. "Kalau kamu tidak setuju adikmu menikah muda denganku? Maka akan kubuat dia hamil duluan," ancam Aksa.
Apakah benar Aksa sebrengsek itu? Atau hanya menggertak Fabian agar dia tidak terlaku posesif pada adiknya?
__ADS_1