
David mengajak Sofia untuk makan di kantin siang ini. Para perawat dan dokter yang bekerja memang sudah sering melihat David menghampiri Sofia. Tapi kali ini mereka terlihat lebih akrab. Sepanjang jalan menuju ke kantin rumah sakit mereka bercanda tawa meski tidak saling berpegangan tangan satu sama lain. Orang lain bisa menyimpulkan kalau mereka sedang kasmaran.
Setelah mereka duduk berhadapan di satu meja banyak dari pengunjung kantin yang bekerja di rumah sakit tersebut membicarakan mereka di belakang.
"Kalian tahu tidak semalam pas acara perayaan tahun baru, aku melihat dokter Sofia menghampiri Dokter David. Padahal Dokter David pergi sama seorang perempuan tapi pulangnya malah nganter dokter Sofia aneh kan?"
"Jadi dokter Sofia sengaja datang ke perayaan tersebut hanya untuk menghampiri Dokter David?"
"Nggak juga sih, aku lihat dokter Sofia sebelumnya datang dengan seorang laki-laki tapi entah kenapa dia pulangnya sama Dokter David?"
"Bukannya waktu itu dokter Sofia pernah diantar sama laki-laki yang selalu berpakaian rapi seperti pekerja kantoran itu ya?"
"Yang mana sih asisten suaminya dokter Safa bukan atau laki-laki lain?"
"Aduh aku kok bingung ya jadi sekarang yang dekat sama dokter Sofia yang mana?"
"Kesannya dokter Sofia seperti wanita murahan ya? Suka mempermainkan laki-laki."
"Jangan ambil kesimpulan seperti itu mungkin saja mereka hanya menyukai dokter Sofia tapi tidak ada satupun dari mereka yang ditanggapi."
"Bisa jadi. Tapi ya kalau aku jadi dokter Sofia aku pasti bingung memilih yang mana soalnya ketiga laki-laki itu tampan semua."
"Huuuu...ngarep."
Sementara itu Sofia merasa kalau para perawat yang makan di belakangnya itu sedang memperhatikan dia.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya David.
"Ah tidak apa-apa," bohongnya.
"Apa kamu tidak merasa nyaman kita makan di kantin berdua seperti ini. Besok kita bisa makan di luar kalau salah satu dari kita tidak sibuk." Sofia mengangguk setuju dengan usulan David.
Usai makan di kantin mereka kembali bekerja mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing. Dokter Sofia buka praktek sampai jam 03.00 sore sedangkan Dokter David mengunjungi para pasiennya di ruang rawat inap satu persatu.
Ketika waktunya pulang hujan turun begitu deras. Dokter Sofia tidak bisa menuju ke parkiran mobil karena dia lupa membawa payung. Sore itu udara begitu dingin akibat hujan yang belum berhenti. Dokter Sofia mengusap kedua lengannya karena merasa kedinginan. Hampir setengah jam dia menunggu hujan reda agar bisa menuju ke parkiran mobil. Namun hujan tampaknya tidak akan reda dalam waktu dekat. Langit masih gelap tandanya hujan belum akan berhenti.
Seseorang berjalan menuju ke arahnya menggunakan payung. Dokter Sofia tidak bisa melihat wajah laki-laki tersebut karena tubuh bagian atasnya tertutupi oleh payung. Barulah ketika dia tepat berada di hadapannya dokter Sofia baru bisa melihat siapa laki-laki yang membawa payung itu.
"Dokter David."
"Aku malu kalau harus memanggil hanya dengan nama. Bukankah itu tidak sopan."
"Kamu bisa memanggilku dengan mas atau kalau perlu kamu bisa memanggilku lebih mesra lagi misalnya sayang," goda David. Wajah Sofia tiba-tiba memerah. Entah kenapa saat David menyuruhnya memanggil dengan kata 'sayang' dia merasa malu.
Mata Sofia membulat ketika David mengatakan kalimat itu dengan cukup keras. Dokter Sofia memberikan kode agar Dokter David tidak berbicara keras. Dia meletakkan satu jari di mulutnya. "Baiklah tapi aku akan memanggilmu seperti itu jika kita berdua saja tapi jika kita sedang berada di tempat bekerja aku tetap akan memanggilmu dengan sebutan dokter." Dokter Sofia berbicara pelan namun penuh penekanan.
Berbeda dengan dokter Sofia yang begitu tegang Dokter David terlihat sangat santai. "Ayo aku antar sampai ke mobilmu," ajak David. Sofia mengangguk setuju.
Interaksi pasangan itu kembali mengundang perhatian para pekerja yang juga sedang menunggu hujan reda. Tentu saja hal itu membuat beberapa orang membicarakan keduanya. Tapi David tidak menghiraukan mereka.
"Terima kasih, aku akan langsung pulang, bagaimana denganmu?" Saat ini Sofia sudah masuk ke dalam mobil sementara David masih berada di luar dengan membawa payung.
__ADS_1
"Aku juga akan langsung pulang, hati-hati Sayang." David menekankan kata terakhir yang dia ucapkan. Dan hal itu membuat Sofia salah tingkah. David terkekeh geli. Suka sekali dia menggoda kekasihnya itu.
Kemudian mobil Sofia melaju lebih dulu setelah itu David masuk ke dalam mobilnya dan mengikuti mobil Sofia dari belakang. Dia ingin memastikan kekasihnya itu pulang sampai ke rumah dengan selamat.
Di tempat lain Ayah Adam yang tak lain adalah Adrian mengungkapkan kekesalannya kepada Adam. "Kenapa kamu tidak bisa membuat Sofia jatuh hati? Menaklukkan wanita seperti itu apa susahnya?"
"Seperti itu bagaimana maksud papa?" Tanya Adam yang mengira perkataan ayahnya itu mengarah ke konotasi negatif untuk Sofia.
"Bukankah dia hanya seorang perempuan yang kelihatannya lemah dan penurut tapi kenapa kamu terlihat kesulitan untuk membuatnya jatuh cinta. Papa jadi heran apa yang kurang dari anak papa ini padahal kamu begitu tampan dan kaya. Banyak wanita yang menginginkan kamu tapi kenapa wanita itu malah menolak kamu?"
"Dia memiliki seseorang yang dia sukai dibanding aku, pa," ungkap Adam.
"Kalau begitu singkirkan laki-laki itu, dia akan menjadi batu sandungan untuk melancarkan rencana kita. Kamu tahu kan perusahaan Julian itu bisa menjadi investor terbesar di perusahaan kita ini."
Adrian menepuk bahu sebelah Adam. "Ingat Adam nasib perusahaan ada di tangan kamu. Jika kamu tidak berhasil menikahi Sofia maka sudah dipastikan perusahaan kita akan bangkrut dalam waktu dekat. Sangat sulit untuk mencari suntikan dana dalam waktu dekat ini hanya pilihan dan perusahaannya yang bisa menyokong perusahaan kita," terang Adrian.
Adam tentu memikirkan omongan ayahnya. Namun, terlepas dari itu semua Adam mencintai Sofia dengan tulus. Dia benar-benar jatuh cinta pada Sofia pada pandangan pertama bukan karena statusnya sebagai anak dari pemilik perusahaan terbesar yang bisa menjadi pendonor di perusahaannya yang sebentar lagi akan bangkrut.
"Adam perlukah papa yang turun tangan untuk menyingkirkan laki-laki yang menghalangi hubunganmu dengan Sofia?" Adam mengerutkan kuning ketika Adrian menawarkan bantuan. Tidak, Adam bukan laki-laki yang akan melakukan sesuatu dengan cara kotor.
"Biar aku selesaikan dengan caraku sendiri," tolaknya.
"Baiklah beri kabar baik padaku secepatnya. Aku tidak mau kamu mengecewakan papa." Adam terpaksa menuruti kemauan ayahnya. Lagi pula tidak ada ruginya jika dia berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan wanita yang dia sukai.
"Sofia mungkin aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkan hatimu. Tidak peduli kamu menolakku beberapa kali tapi aku ingin kamu menjadi pasangan hidupku." Adam membulatkan tekadnya untuk bisa merebut Sofia dari tangan David.
__ADS_1