Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Terkunci di gudang


__ADS_3

Tuti menyiapkan dua roti lapis untuk Lovely dan April. Tapi salah satu dari roti tersebut dicampur dengan saus cabe oleh Tuti. "Rasain kamu Pril, mules mules deh perut kamu." Tuti menyumpahi April sambil membuat roti lapis. Setelah jadi dia mengantar roti itu ke meja Lovely.


"Yee...udah jadi, aku seneng banget. Kak ayo dimakan." April mengangguk.


Ketika Lovely akan memakannya dia melihat semut di roti tersebut. "Ih punyaku ada semutnya," gerutu Lovely dengan kesal. Namun, April menukar roti lapis miliknya dengan roti gadis kecil itu.


"Makan punyamu aja." April memberikan roti miliknya pada Lovely.


Lovely merasa senang. Dia hendak membuang roti yang ada semutnya tadi ke dalam sampah. Namun April melarangnya. "Tunggu! Sayang masih bisa dimakan hanya perlu menyingkirkan semutnya saja," kata April. Lovely pun memberikan roti itu pada April.


Ketika baru satu gigitan Lovely berteriak karena kepedesan. "Mama mama," teriaknya sambil menangis.


"Dia kenapa?" tanya Sofia pada April.


"Habis makan roti lapis Bu," jawab April.


"Pril kamu sengaja ya menukar roti milik non Lovely dengan punya kamu yang pedas itu?" tuduh Tuti. April merasa bersalah meski bukan dia pelakunya tapi lovely menangis setelah memakan roti lapis yang seharusnya dia makan.


Aksa tidak percaya dengan omongan Tuti. Tapi dia tidak bisa membela April. April pun tampak ketakutan. Dia takut dipecat dari pekerjaannya. "Maafkan kakak ya Lovely," ucap April dengan wajah sendu.


Sofia membawa Lovely ke ruangannya lalu dia memberikan minum. "Bener Dek kak April menukar roti lapis kamu?" tanya Sofia. Lovely mengangguk. Tapi gadis kecil itu tidak menjelaskan kenapa April bisa menukar rotinya.


Sofia merasa sedikit kecewa dengan apa yang telah dilakukan April. Setelah itu Sofia mengajak anak-anaknya pulang. "Pril aku pulang dulu ya," pamit Aksa. April mengangguk lemah.


Tuti merasa senang karena rencananya untuk mengerjai April berhasil meski dia tidak sempat memakan roti itu. Tapi kini atasannya itu tidak lagi menyukai Apri


Malam ini April disuruh menemani Tuti pulang. Tuti berkilah kalau April harus pulang paling telat sebagai hukuman karena telah membuat Lovely menangis. "Pril, tunggu sebentar ya, aku mau ambil tas dulu. Tolong taruh ini di gudang," perintah Tuti.

__ADS_1


Ketika April masuk ke dalam gudang Tuti sengaja menguncinya. "Rasakan kamu Pril. Kamu akan mati kedinginan di sini," gumam Tuti dari luar.


April ketakutan kala pintu gudang terkunci. "Mbak Tuti tolong buka pintunya," teriak April. Tapi Tuti sengaja meninggalkan dia. "Ya Allah tega sekali mbak Tuti sama aku." April menangis sendirian di gudang.


Dia tidak berani melihat sekeliling karena saking takutnya. Hawa dingin di dalam gudang itu membuat badan April menggigil. Apalagi dia hanya mengenakan kemeja yang tipis.


"Ya Allah jika aku memang harus mati hari ini maka jangan sampai aku menyusahkan ibumu agar beliau tak perlu mengeluarkan biaya yang banyak untuk memakamkan aku," ucap April di antara sela-sela lututnya. Dia menyembunyikan kepalanya karena ketakutan.


Sementara itu ibunda April merasa gelisah karena anak perempuannya tak kunjung pulang ke rumah. "Kamu di mana, Nak?" Dia takut kalau-kalau terjadi sesuatu di jalan pada putrinya.


"Semoga Engkau berikan keselamatan untuk putriku Ya Allah."


Diva heran biasanya pagi-pagi sekali April sudah berada di sekolah. Namun, dia tidak melihat sahabatnya pagi ini. "Apa dia sakit ya?" gumam Diva. Dia merasa khawatir.


Hari ini Fabian sengaja memakai mobil agar bisa mengantarkan April pulang. Namun, dia tidak melihat April sejak tadi. "Diva kamu lihat April nggak?" Diva menggeleng.


"Coba dihubungi handphonenya," perintah Fabian pada Diva.


"Ya ampun. Makanya dia kerja di tempat kamu ya waktu itu."


"Iya, dia butuh uang buat bayar sekolah adiknya. Ibunya sakit-sakitan sedangkan ayahnya suka mabuk-mabukan gitu." Fabian jadi merasa kasian pada April.


Saat ini April dalam keadaan pingsan karena kedinginan. Semalaman dia tidur di lantai tanpa alas. Ketika salah seorang karyawan membuka gudang, dia menemukan April dalam keadaan gam sadarkan diri. "Tolong, tolong," teriaknya.


Mereka pun bersama-sama mengeluarkan April dari gudang itu. "Ya Ampun April ternyata dia semalaman tidur di gudang." Tuti pura-pura tidak tahu menahu.


Sofia yang melihat kerumunan para karyawannya ikut bergabung. "Ada apa ini?" tanya Sofia.

__ADS_1


"April terkunci di gudang, Bu," lapor Tuti.


Sofia memeriksa keadaan April. "Kita bawa dia ke rumah sakit. Badannya sangat dingin saya takut terjadi sesuatu yang tidak diharapkan," perintah Sofia pada karyawannya.


Mereka pun menggotong tubuh April ke mobil Sofia. Kebetulan hari ini dia sengaja membawa mobil sendiri agar bisa menjemput Lovely. Sofia hanya tidak ingin Lovely berlama-lama di toko. Sehingga rencananya Sofia akan mengantar Lovely pulang setelah sekolahnya berakhir.


Sofia menuju ke rumah sakit ditemani salah seorang karyawan. Tuti mengajukan diri sebagai relawan. "Kenapa dia masih hidup aja sih?" gerutunya.


Sesampainya di rumah sakit April langsung ditangani. "Bagaimana keadaannya?" tanya Sofia.


"Dia baik-baik saja. Hanya dehidrasi ringan," jawab dokter yang merawat April.


"Syukurlah!" ucap Sofia. Lalu dia ingat harus menjemput Lovely di sekolahnya. Oleh karena itu dia menyuruh suaminya menjemput.


"Maaf merepotkan Mas David. Ada salah seorang karyawan ku yang terkunci di gudang kemaren. Jadi aku ingin menunggui dia sampai sadar agar aku bisa menghubungi keluarganya Mas."


"Baiklah sayang. Aku akan menjemput Lovely dia pasti tidak menyangka kalau aku yang menjemputnya," kata David bersemangat.


Jarang sekali waktu yang bisa diluangkan oleh laki-laki itu untuk anak perempuannya. Maka kali ini dia ingin menggunakan kesempatan itu.


"Lho kok ayah tumben jemput aku," ledek April.


"Ibu sedang mengantar karyawannya yang masuk rumah sakit."


"Siapa Yah?" tanya Lovely.


"Ayah kurang tahu.. Mau langsung pulang aja?" Lovely menggeleng. "Pengen nyusul ibu," rengeknya.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit Lovely menghampiri ibunya. "Siapa yang sakit Bu?"


"Kak April."


__ADS_2