Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Kekecewaan Fabian


__ADS_3

Setelah mengantar April pulang, Aksa bicara pada kedua orang tuanya. "Ayah, Ibu, aku sudah putuskan kalau aku akan kuliah di sini saja."


"Kenapa?" tanya David meminta alasan anaknya.


"Karena aku pikir di sini juga sekolahnya bagus. Aku tidak ingin jauh-jauh dari kalian," Aksa memeluk sang ibu.


"Bisa aja ngelesnya. Kamu tuh pasti nggak bisa pisah sama April 'kan?" tebak Sofia.


Aksa menggaruk tengkuk lehernya yang tiba-tiba terasa gatal. "Bu, aku masuk ke kamar dulu," pamit Aksa. Dia takut ayah dan ibunya bertanya yang macam-macam.


Tak lama kemudian Lovely keluar dari kamarnya. "Bu," panggil Lovely.


"Ada apa, sayang?" tanya Sofia.


"Besok hari ulang tahunku, kita mau rayakan di mana? Aku mau pesta yang meriah," rengek Lovely pada orang tuanya.


"Bagaimana kalau kita rayakan di rumah saja? Nanti jita undang anak-anak yatim yang biasa kita kunjungi," usul Sofia.


Lovely mengangguk setuju. Bagi gadis kecil itu tak masalah dirayakan di mana? Yang penting acaranya meriah. "Nanti kita undang teman-teman sekolahku juga ya, Bu?" Lovely sangat bersemangat.


"Tentu. Kalau begitu besok ibu akan belanja banyak untuk acara pesta ulang tahunmu. Nanti kita undang sepupu kamu juga."


"Ye....besok akan ada banyak orang di sini. Aku sudah tidak sabar buat acara besok. Ayah jangan lupa kadoku ya," pesan Lovely pada ayahnya.


Setelah itu dia menuju ke kamar sang kakak. "Mas Aksa, Mas Aksa," teriak Lovely dari luar.


"Yang, bentar ya bocil manggil." Aksa sedang melakukan panggilan video dengan April. Dia berjalan untuk membukakan pintu tanpa mematikan panggilan.


"Ada apa sih, Dek?" tanya Aksa kesal. "Loh mana nih orangnya?" Aksa pura-pura tak melihat Lovely karena dia pendek.


"Mas Aksa. Aku di sini." Lovely menarik ujung kaos abangnya.


"Oh, iya Mas lupa kalau kamu pendek," ledek Aksa. "Cepetan ngomong mau apa? Kak April lagi nunggu tuh." Aksa menunjuk handphonenya yang masih menyala.


"Hah, mana?" Lovely malah menerobos masuk ke dalam kamar kakaknya. Dia mengambil alih handphone Aksa.

__ADS_1


"Balikin, Dek!" pinta Aksa. Tapi Lovely menjauhkan handphone tersebut.


"Hai, Kak April. Besok aju ulang tahun jangan lupa datang ya. Bawa teman-temannya yang banyak biar acara ulang tahunku meriah."


Aksa menahan tawa mendengar ucapan adiknya. "Mana ada teman seusia Kak April yang mau datang ke acara bocah," ejek Aksa.


"Mas Aksa," protes April dan Lovely secara bersamaan.


"Kalian kompak banget. Cie yang mau jadi saudara." Lagi-lagi Aksa menggoda adiknya.


"Saudara?" Otak Lovely yang tidak sampai membuatnya berpikir. Dia yang masih belum mengerti tidak tahu apa dan bagaimana caranya April bisa jadi saudaranya.


"Udah sana, pergi! Ganggu orang dewasa lagi pacaran aja," gerutu Aksa sambil menggendong adiknya lalu membawa anak kecil itu keluar.


"Kak April jangan lupa beli kado buat aku," teriak Lovely dari luar kamar kakaknya.


April tertawa mendengarnya. "Kalau kamu kagi ketawa terus kelihatan gigi gingsul kamu itu manis banget, Yang," gida Aksa.


"Udah, ah. Aku ngantuk. Ngomong sama Mas Aksa ngebosenin kalau udah gombal kaya gini," ledek April.


"Eh, tunggu!"


"Apalagi?" tanya April.


"Cium dulu!" Wajah April bersemu merah. Dia memberikan satu kecupan melalui panggilan telepon. Stelah itu barulah gadis itu menutup teleponnya.


"Ada apa, Pa?" tanya April setelah membukakan pintu.


"Besok, Om David dan keluarganya mau ngadain acara ulang tahun anaknya yang paling kecil. Mereka mengundang kita," terang Erik.


"Iya, Pa. Aku sudah tahu dari Lovely. Dia yang memberi tahuku tadi lewat telepon," jawab April.


"Oh ya sudah. Papa turun dulu. Apa kamu sudah makan malam?" tanya Erik.


April tersenyum. "Sudah, Pa."

__ADS_1


"Fabian ke mana ya? Kok papa nggak lihat dia malam ini? Apa mobilnya masih di garasi?" Erik cemas pada putranya itu.


April menggedikkan bahu. "Aku nggak tahu kakak ada di mana, Pa."


"Dia juga tidak bilang apa-apa sama papa. Apa dia mengunjungi ibunya ya? Kalau dia kirim pesan padamu kasih tahu papa," perintah Erik pada putrinya.


"Baik, Pa."


Di manakah Fabian?


Suara jedag jedug musik yang memekakan telinga menandakan kalau Fabian sedang berpesta di sebuah klub malam bersama teman-temannya. Semenjak sudah tidak memiliki tanggungan untuk belajar, Fabian berani keluar malam.


"Sumpah, gue baru tahu caranya menikmati hidup itu kaya gini," racau Fabian yang setengah mabuk.


Axel menepuk bahu temannya. "Lo yakin bokap lo nggak akan marah kalau dia tahu nggak akan marah?" tanya Axel. Dialah yang mengajak Fabian ke klub malam.


"Alah tenang aja paling gue diusir. Gur masih bisa tinggal di rumah mama," jawab Fabian.


"Mending malam ini lo pulang ke rumah nyokap lo aja, Bro. Biar dikira nginep di sana dari tadi sore. Jadi alibi lo aman," saran Axel.


"Pinter juga otak lo!"


Fabian pun mengendarai mobilnya ke rumah sang ibu. Alkohol yang dia konsumsi tidak terlalu banyak sehingga dia masih bisa menyetir. Sesampainya di rumah Wanda, dia melihat sebuah mobil yang tidak dia ketahui pemiliknya.


Fabian pun masuk ke dalam rumah untuk mencari tahu. Alangkah terkejutnya dia ketika melihat melihat ibunya sedang berduaan dengan seorang laki-laki yang tak dikenal. Fabian bisa mendengar dan melihat dengan jelas karena pintu kamar tersebut terbuka setengah.


Fabian mengepalkan tangannya. Dia masuk ke dalam kamar ibunya kemudian menarik laki-laki yang tengah berada di atas ibunya itu. Wanda sangat terkejut melihat kedatangan putranya yang secara tiba-tiba.


"Breng*sek!"


Sebuah pukulan berhasil mendarat di wajah laki-laki yang usianya masih terbilang muda itu. Laki-laki itu hanya memakai pakaian da*lam karena dia tidak sempat memakai pakaiannya.


"Fabian," teriak Wanda seraya menyelimuti bagian tubuhnya yang polos.


"Diam, Ma! Aku kecewa sama mama. Siapa dia? Katakan! Apa mama pacaran dengan laki-laki be*jat ini?" bentak Fabian. Dia sungguh kesal mengetahui kelakuan ibunya yang murahan.

__ADS_1


Fabian keluar dengan perasaan emosi. Wanda tak sempat menyusul putranya karena dia menolong laki-laki yang tak lain adalah seorang gi*golo itu. Wanda membiarkan Fabian pergi karena dia pikir anak itu butuh waktu sendiri.


__ADS_2