
Malam itu Leo tiba-tiba merindukan Sofia. Diam-diam dia mengamati rumah Sofia dari luar. Tapi siapa sangka Leo malah melihat David membawa kabur wanita itu. Leo pun tidak tinggal diam. Dia mengikuti David dan Sofia dari belakang.
Keesokan harinya, Leo melihat Sofia keluar dari mobil setelah semalaman dia menunggu di tempat yang sama. Dia berjalan mengendap-endap. Sofia merasakan mulutnya dibekap oleh seseorang. Dia menoleh dan terkejut ketika Leo yang membekap mulutnya. Sofia melepas tangan Leo. "Mas, kamu ngapain di sini?" tanya Sofia.
"Seharusnya aku yang tanya kamu? Ngapain kamu pakai acara kabur segala sama dokter breng*sek itu," geram Leo.
"Jangan salahkan Mas David. Ini juga atas kemauan aku," ucap Sofia membela kekasihnya.
Leo tersenyum miring. "Lalu mau apa kamu kabur dengannya? Sofia kamu berubah setelah menjalin hubungan dengan laki-laki itu."
"Mas, laki-laki itu punya nama," protes Sofia tak terima.
"Ayo pulang bersamaku!" Leo menarik paksa tangan Sofia. Tapi gadis itu menahan langkahnya.
"Tidak, aku akan pulang jika papa membatalkan pertunanganku dengan Mas Adam."
Leo menghembuskan nafas berat. "Aku tahu kamu bukan gadis pembangkang, jadi ikut saja aku pulang. Aku tidak akan bilang kalau David yang membawamu kabur."
Sofia berpikir sejenak. Namun, David pasti akan kecewa jika dia tiba-tiba meninggalkan dirinya.
Leo terus membujuk Sofia agar mau ikut pulang dengannya. Dia tahu Julian tidak akan tinggal diam jika tahu putri kesayangannya kabur. Leo tidak mau melihat Sofia lebih sengsara lagi.
"Sofia, tolong pulanglah denganku, kamu akan dalam masalah besar jika tidak segera pulang. Pikirkan bagaimana nasib pasien-pasienmu jika kamu tidak ada? Siapa yang akan merawat mereka?" Sofia memejamkan mata sejenak. Apa yang dikatakan oleh Leo ada benarnya juga.
"Sofia," panggil David dari kejauhan. Leo pun ikut menoleh. Menyadari kala David berjalan mendekat, Leo segera menarik tangan Sofia agar masuk ke dalam mobil. Tapi David berlari secepat kilat agar bisa menyusul Sofia.
Bug
Bug
__ADS_1
David mendaratkan pukulan ke wajah Leo dua kali. Leo jatuh tersungkur ke tanah kemudian dia mengusap ujung bibirnya yang berdarah. "Sialan." Leo membalas pukulan David sama banyak. David juga jatuh dan terluka di bagian wajahnya.
"Berhenti kalian berhenti!" Suara teriakan Sofia seolah tidak didengar oleh keduanya. Sofia bingung bagaimana memisahkan keduanya. Pantai itu sangat sepi Sofia menoleh ke sana kemari tapi satu pun tak dia jumpai orang yang lewat.
Sementara itu pagi ini Raina berharap suaminya tak menanyakan Sofia. "Pa mau ke mana?" tanya Raina ketika melihat suaminya melangkahkan kakinya menaiki tangga. Dia menduga suaminya itu ingin ke kamar Sofia.
"Papa ingin menengok Sofia," jawab Julian.
Raina berjalan mendekat ke arah suaminya. "Pa, sebenarnya mama membukakan pintu kamar Sofia dan membiarkan dia pergi. Mama dapat telepon dari pihak rumah sakit jika ada pasien yang membutuhkan penanganan Sofia secara mendesak," kata Raina mencari alasan agar suaminya tidak menanyakan keberadaan putrinya. Jika Julian tahu Sofia kabur maka dia tak akan segan-segan memberikan hukuman pada putri kesayangannya itu.
Julian menatap tajam ke arah istrinya. "Papa kan sudah bilang jangan biarkan Sofia keluar dari kamar tanpa seizin papa. Bagaimana kalau dia kabur?" Julian merasa khawatir.
Raina tahu reaksi suaminya akan marah. "Pa, Sofia itu dokter dia punya pasien yang harus dia tangani. Dia tidak bisa meninggalkan pasiennya begitu saja." Sebisa mungkin Raina harus menahan Julian agar tidak berpikir untuk menyusul anaknya ke rumah sakit.
"Baiklah papa akan menyusul dia ke rumah sakit." Julian melangkahkan kakinya cepat keluar rumah.
Sementara itu David dan Leo baru berhenti ketika keduanya kehabisan tenaga. Sofia bingung harus menolong siapa duluan. Tapi dia mengambil kotak obat yang sempat dibuang oleh David ketika akan digunakan untuk mengobati kakinya.
"Kalian membuatku khawatir. Jangan seperti anak kecil lagi," ucap Sofia memperingatkan David dan Leo. Sofia mengobati luka David terlebih dulu. Jujur saja Leo merasa cemburu. Rasa cinta itu masih ada di dalam hatinya. Sayang, Sofia memilih laki-laki lain ketimbang dirinya.
Usai mengobati David, Sofia mengobati wajah Leo yang terluka. "Asshh." Leo meringis kesakitan.
"Sudah tahu sakit tapi kalau baru berhenti setelah babak belur seperti ini," cibir Sofia.
Setelah selesai mengobati keduanya dia berdiri. "Aku akan pulang dengan Mas Leo," putus Sofia. Dia sudah memikirkan agar David tidak terlibat. Dia tidak mau ayahnya memberikan hukuman pada David.
Leo tersenyum senang. Sedangkan David mengepalkan tangannya. "Kenapa?" tanya David singkat tapi penuh arti.
"Aku tidak mau papaku tahu kalau aku kabur bersamamu, Mas. Papa tidak akan curiga jika aku bersama Mas Leo. Karena dia orang kepercayaan papa," jawab Sofia.
__ADS_1
"Itu artinya kamu akan pasrah jika kamu dinikahkan dengan Adam?" tanya David. Dadanya naik turun menahan amarah.
Sofia menggelengkan kepalanya. "Aku tetap akan menolak. Dok sebaiknya anda kembali ke rumah sakit, banyak pasien anda yang menunggu. Jangan hanya karena saya anda mengabaikan tanggung jawab sebagai seorang dokter."
Meski apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu benar, tapi David masih tidak bisa terima jika Sofia kembali dengan Leo.
"Sebaiknya kita segera kembali. Jangan sampai papamu curiga dan mengerahkan orang-orangnya untuk mencarimu." Leo memberikan saran. Sofia mengangguk setuju.
"Sampai bertemu di rumah sakit, Mas." Sofia pamit pada David.
"Sayang." David mencekal tangan Sofia. Sofia menoleh.
"Kamu yakin dengan keputusan kamu?" tanya David memastikan. Sofia mengangguk.
"Aku akan mengaku salah pada papaku. Aku harap dia mau memaafkan aku supaya dia mau memenuhi permintaanku. Jangan cemas. Papaku bukan orang yang tega pada putrinya. Pasti dia memikirkan kebahagiaanku jika aku terus memohon padanya."
Dengan berat hati David membiarkan Sofia pulang bersama Leo. Hatinya terasa sakit melihat kepergian wanita yang dia cintai. Padahal dia siap jika harus kawin lari.
Di tempat lain, Julian yang curiga dengan istrinya meminta orangnya mengecek keberadaan Sofia di rumah sakit. "Nona Sofia tidak masuk hari ini, Pak," lapor anak buah Julian.
"Kamu yakin? Apa kamu sudah tanyakan jadwal prakteknya?" tanya Julian pada orang suruhannya.
"Sudah, Pak. Hari ini jadwal Nona Sofia seharusnya jam delapan tepat."
Tak lama kemudian Julian yang masih berada di dalam mobil melihat Sofia turun dari mobil Leo. Julian merasa aneh. Leo hanya mengantarkan Sofia kemudian berlalu meninggalkan area rumah sakit.
Jian menyipitkan matanya. "Kita ikuti mobil Leo!" Perintahnya pada sopir yang mengemudikan kendaraan yang dia tumpangi.
Apa yang akan dilakukan Julian pada Leo?
__ADS_1