
Zidan menyampaikan pada ayah mertuanya bahwa dalang di balik kecelakaan yang menimpa David adalah Dena. "Apa kamu yakin?" tanya Yudha pada menantunya itu.
"Menurut penelusuran anak buah saya, Dena memang merencanakan ini, tapi motifnya kami belum tahu. Saya menduga dia ingin anda celaka supaya anda tidak jadi menikah dengan ibunya."
"Lalu rencananya gagal karena David yang mengendarai mobilku?" tanya Yudha. Zidan mengangguk.
"Mungkin dia ingin merebut David dari Sofia sehingga jika dia berhasil maka aku tidak boleh menikahi ibunya." Yudha menarik kesimpulan.
"Cinta yang rumit," gumam Zidan.
"Aku belum bertemu David. Apa dia sehat? Apa ada yang terluka?" tanya Yudha secara beruntun.
"Dia kembali dalam keadaan selamat, Pa," jawab Zidan.
"Syukurlah." Yudha merasa lega.
"Jadi bagaimana selanjutnya, Pa? Apa yang harus kita lakukan untuk menghukum Dena? Apa papa akan membiarkan dia karena papa masih berhubungan baik dengan Tante Martha?" cecar Zidan.
Sejujurnya Yudha merasa bimbang. Jika dia menghukum Dena pastilah Martha tidak akan terima maka hubungannya dengan wanita itu akan menjadi renggang. Namun, Yudha tidak bisa membiarkan perbuatan Dena yang telah membuat David terluka. Apalagi itu dilakukan dengan sengaja oleh wanita itu.
"Kita buat rencana." Yudha membisikkan rencananya pada Zidan.
"Baik, Pa. Aku akan laksanakan rencana papa. Apa kita perlu memberi tahu David?" tanya Zidan meminta pendapat.
"Kita beri tahu setelah rencana berhasil. Lagi pula dia baru kembali. Biarkan dia menikmati masa-masa bahagianya berkumpul kembali dengan anak dan istrinya," jawab Yudha.
Sebagai ayah dia paham akan perasaan anaknya. Yudha hanya merasa kasian pada David. Biarlah rencana itu dilakukan olehnya dan sang menantu.
__ADS_1
Di hari lain, David mendapatkan jadwal untuk melakukan operasi kakinya. Namun, Sofia tidak bisa menemani karena dia tidak bisa meninggalkan anaknya yang masih membutuhkan ASI. David pun paham akan hal itu.
Akan tetapi Safa menggantikan Sofia menemani David. Dia akan mengabari Sofia jika operasi David telah selesai. Yudha juga menunggu operasi David. Dia ingin memastikan operasi yang dijalani David berjalan lancar.
Di saat yang bersamaan Zidan melapor pada ayah mertuanya. "Kita berhasil membuat Dena kembali ke luar negeri," bisik Zidan.
Safa menatap curiga pada kedua laki-laki yang ada di hadapannya itu. "Kalian sedang apa? Kenapa bicara sambil bisik-bisik," tanya Safa pada keduanya.
"Tidak ada apa-apa sayang." Zidan langsung merangkul bahu istrinya. "Apa kamu haus bagaimana kalau kita cari minum dulu," usul Zidan.
"Pergilah! Papa akan di sini menunggu sampai operasi David selesai," perintah Yudha pada anak dan menantunya.
"Papa mau dibelikan minuman juga? Akan aku belikan nanti," kata Safa.
"Tidak usah," tolaknya.
Setelah itu Safa dma Zidan pergi. "Mas, apa yang kamu bicarakan dengan papa? Apa aku tidak boleh tahu?" tanya Safa pada suaminya.
Di sisi lain, Dena sedang berada di bandara. Dia baru saja kembali dari luar negeri setelah mendapat kabar dari asisten rumah tangga yang lama bekerja di rumahnya mengabarkan bahwa Martha sakit keras.
Dena tidak mengkonfirmasi berita itu pada ayah kandungnya karena terlalu khawatir. Dia percaya begitu saja pada omongan asisten rumah tangganya. Padahal berita bohong karena hanya sebuah rekayasa yang dibuat Yudha untuk membuat Dena kembali.
Yudha sengaja mendekati asisten rumah tangga Martha untuk melancarkan rencananya. Dia membayar wanita itu dengan sejumlah uang agar dia mau melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Yudha.
Yudha tahu jika Dena lebih sayang pada ibunya ketimbang sang ayah. Dia tahu dari cerita Martha. Tapi rencana ini tidak melibatkan Martha sama sekali. Yudha tidak ingin melukai hati Martha. Dia tahu wanita itu tidak akan tega menyerahkan anaknya ke kantor polisi.
Orang-orang Zidan telah lama mengintai pergerakan Dena. Ketika dia sedang menarik kopernya, dia dihadang oleh sekelompok orang berjas hitam. "Siapa kalian?" tanya Dena.
__ADS_1
Sesaat kemudian Zidan dan ayahnya muncul dari balik punggung para bodyguardnya. "Welcome to Indonesia, Dena." Yudha menyambut wanita itu dengan senyum lebar di wajahnya.
Dena membelalakkan mata. Dia menduga Yudha mengetahui rencananya mengenai kecelakaan yang seharusnya Yudalah yang jadi korbannya.
Dena berusaha bersikap tenang. "Apa mamaku meminta anda menjemputku?" tanya Dena dengan hati-hati. Dia tak ingin orang lain membaca gerak-geriknya. Saat ini dia mencoba berpikir positif karena Yudha orang yang dekat dengan ibunya maka wajar jika dia menjemputnya menggantikan sang ibu yang dikabarkan sakit parah.
"Tentu, ayo kita ke mobil," ajak Yudha. Diam-diam Yudha memberikan kode pada Zidan. Zidan paham akan maksud ayah mertuanya. Dia meminta sang sopir untuk mengantar mereka ke kantor polisi. Dena akan langsung dijebloskan ke penjara saat itu juga.
Zidan sudah mengantongi bukti dari orang suruhannya. Mereka juga telah menyiapkan pengacara untuk menuntut Dena.
Yudha membukakan pintu untuk gadis itu. Dia memperlakukan Dena dengan baik agar gadis itu tidak menaruh curiga padanya. "Apa mamaku baik-baik saja?" tanya Dena.
"Dia baik," jawab Yudha singkat.
"Dia dirawat di rumah sakit mana?" tanya Dena lagi.
"Dia ada di rumah."
Dena mengerutkan kening melihat sikap Yudha yang begitu tenang. "Anda akan mengantarku ke rumah bukan? Kenapa kita lewat jalur yang salah?" tanya Dena panik. Ini jelas bukan jalan ke rumahnya.
Yudha tersenyum sinis. "Kita akan menuju rumah barumu," seru Yudha. Dena merinding melihat ekspresi wajah Yudha yang terkesan dingin.
Kemudian mobil mereka memasuki area kantor polisi. Dena yakin kalau Yudha menjebaknya. Dena ingin keluar tapi pintu mobil terkunci secara otomatis.
Yudha menarik tangan Dena hingga dia menoleh ke arahnya. "Diam atau aku akan menyakitimu," ancam Yudha. Dena pun patuh. Dia sudah tidak bisa berkutik lagi.
Sopir telah membuka kunci otomatis. Ketika Yudha baru membuka mobil, Dena memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur. Yudha memerintahkan anak buahnya untuk mengejar Dena. Naas gadis itu malah menabrak mobil yang masuk dari gerbang kantor polisi tersebut.
__ADS_1
Wanita itu jatuh dan terkapar. Mereka segera melarikan Dena ke rumah sakit. Sayangnya dia menghembuskan nafas terakhir ketika dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. "Inalillahi wa Inna ilaihi Raji'un," ucap Yudha sambil menutup mata Dena yang meninggal dengan mata terbuka.
Bagaimana Yudha menyampaikan kabar kematian Dena pada Martha? Apakah Martha akan menjauhi Yudha jika anaknya meninggal karena ulahnya?