Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Trik pelakor


__ADS_3

Dara mulai mencari perhatian dengan berangkat lebih awal. Dia berharap bisa bertemu dengan David saat mengantar anaknya seperti kemaren.


"Biarlah walau hanya bertemu sebentar tak masalah," gumam Dara.


Sesaat kemudian dia melihat mobil yang dikendarai David berhenti di depan gerbang sekolah. Tapi saat itu hanya Aksa yang turun. "Yah ko nggak turun sih," ucap Dara agak kecewa.


"Selamat pagi, Bu," sapa Aksa pada wali kelasnya itu.


Dara tersenyum. "Pagi Aksa, apa perutmu sudah tidak sakit lagi?" tanya Dara penuh perhatian.


"Tidak, Bu. Terima kasih untuk yang kemarin."


"Iya, sama-sama. Ayo kita masuk!" Ajak Dara.


Dari kejauhan Martha tak sengaja mengamati guru baru yang sedang menggandeng cucunya. Dia tersenyum melihat cucunya diperhatikan. "Guru baru itu baik juga," gumam Martha.


Usai pelajaran selesai Dara sengaja mengantarkan anak-anak sekolah sampai ke gerbang depan. Dia juga membantu yang lainnya saat menyeberang jalan. Lagi-lagi tujuan Dara agar bisa bertemu dengan David.


Sayangnya kali ini Aksa hanya dijemput oleh sopirnya. "Bu Dara saya pulang dulu ya," pamit anak kecil itu. Dia melambaikan tangan pada wali kelasnya.


"Susah sekali bertemu dengannya. Aku harus bikin alasan apalagi ya?" Dara pun memutar otaknya. Dia mencari tahu pekerjaan David melalui biodata murid yang ada di kantor sekolah.


"Dokter kandungan?" gumam Dara ketika membaca profil David dalam selembar kertas yang dia pegang.


Dara pun mencatat alamat rumah sakit tempat David bekerja. Dia akan datang ke sana sebagai pasien.


Di lain hari, Dara menyempatkan diri datang ke rumah sakit untuk periksa gigi. Tidak ada yang sakit jadi dia mencari alasan untuk memutihkan giginya saja.


Ketika Dara sedang menunggu giliran dia tak sengaja melihat David. "Mas David," sapa Dara. David menoleh ketika mendengar seseorang memanggilnya.


"Dara kamu di sini?" tanya David.

__ADS_1


"Iya, mau periksa gigi," jawab Dara.


"Owh, kalau begitu sana ke sana dulu," pamit David tapi tangannya dicekal oleh Dara.


"Tunggu, Mas. Aku mengabari kakek jika aku bertemu dengan Mas David. Jadi bolehkah kalau aku meminta nomor teleponmu? Barangkali kakek ingin bicara karena delapan tahun tidak bertemu," pinta Dara.


David mengulas senyum. Dia mengeluarkan handphone miliknya. "Ini nomor ponselku." Dara segera mencatat nomor telepon David.


"Terima kasih banyak Mas David, nanti akan aku sampaikan ke kakek," kata Dara. David mengangguk kemudian pergi. Dara menahan senyum. Setelah mendapatkan nomor David dia pergi begitu saja tanpa melakukan pemeriksaan gigi terlebih dulu.


Semenjak mendapatkan nomor ponsel David, Dara sering menghubungi dia dengan alasan yang berbeda-beda. Kadang dia pura-pura membahas sekolah Aksa kadang juga dia membahas kakeknya.


Sofia sering melihat suaminya mendapatkan telepon ketika berada di rumah, padahal sebelumnya dia hanya menerima panggilan jika ada pasien darurat. "Mas David ngobrol sama siapa ya?" gumam Sofia dari kejauhan.


Walau sedikit curiga tapi Sofia tak pernah menanyakan dengan siapa dia mengobrol. Sofia percaya pada suaminya. "Mas David tidak mungkin selingkuh," gumam Sofia mengusir pikiran negatifnya.


Dara sangat bahagia tiap kali mendengar suara David. Dia ingin bisa dekat dan bicara empat mata dengannya tapi Dara sadar kalau David telah berkeluarga. "Apa yang aku lakukan ini salah? Tidak, bukankah cinta itu harus diperjuangkan?" gumam Dara membenarkan pikirannya sendiri.


Di sekolah, Dara selalu memperlakukan Aksa secara istimewa. Dara sering membuatkan bekal khusus untuk anak kecil yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri itu.


"Aksa menyukai masakan Bu Dara, terima kasih banyak, Bu."


Dara mengusap kepala Aksa dengan sayang. "Sama-sama," balasnya.


Sofia merasa janggal karena setiap kali anaknya pulang bekal makanannya selalu utuh. "Mas Aksa kok nggak pernah makan bekal makanan dari ibu? Mas Aksa jajan di luar ya?" tanya Sofia pada putranya.


"Tidak, Bu. Aksa selalu makan bekal makanan dari Bu Dara. Aksa menyukai rasa masakannya," ucapnya dengan jujur.


Tentu Sofia merasa sikap Dara berlebihan. "Apa yang lain juga dikasih bekal makanan oleh Bu Dara?" tanya Sofia lagi. Aksa menggeleng.


"Kata Bu Dara mereka tidak mau makanya hanya Aksa yang dibawakan bekal makanan setiap hari."

__ADS_1


Sofia semakin yakin kalau Dara memiliki maksud tersembunyi. Mengingat tatapannya ketika bertemu pertama kali dengan suaminya Sofia yakin jika Dara memiliki perasan pada David.


Untuk memastikan hal itu Sofia pun menjemput anaknya di sekolah. Biasanya hanya sopir karena usia kandungannya yang semakin bertambah membuat dirinya susah bergerak.


Sofia menunggu Aksa di depan gerbang sekolah, tapi sebelumnya dia tidak memberi tahu kalau dirinya yang menjemput anaknya langsung. Di saat yang bersamaan mobil David berhenti di depan gerbang sekolah. Anehnya Dara dan Aksa seolah sedang menunggu suaminya itu. Dara juga menenteng tas jinjingnya.


Sofia pun segera menghampiri mereka. "Loh kamu di sini juga sayang?" tanya David terkejut ketika istrinya ada di sekolahan Aksa.


"Mas David nggak praktek? Kok jemput Aksa?"


David tentu bingung ingin menjawab apa dia takut istrinya salah paham. Dara tiba-tiba menyahut. "Mas David ingin mengajak kami makan bersama," ungkap Dara.


Sejujurnya Sofia merasa cemburu dan sakit hati. Dadanya terasa sesak mendengar suaminya mengajak wanita lain makan bersama tanpa seizinnya. Tapi Sofia tidak mau menunjukkan rasa kesalnya. Dia tahu Dara akan merasa menang jika Sofia memperlihatkan kecemburuannya.


"Wah kebetulan sekali aku ada di sini, bagaimana kalau kita makan tempat biasa Mas?' usul Sofia.


David pun setuju akan usulan istrinya. Maka dia mengajak serta Sofia dalam satu mobil. Sedangkan sopirnya diminta pulang ke rumah lebih dulu.


Sofia duduk di samping David. Dia terus menunjukkan kemesraan di depan Dara. Dara menjadi geram karenanya tapi dia menahan emosi agar dia tak terlihat jahat di mata David dan Aksa.


Rencananya untuk makan siang bareng David harus terganggu dengan kehadiran Sofia saat itu. Tak mau melihat kemesraan Sofia dan David lebih lama, Dara pun memilih pamit.


"Mas David bisa turunkan di sana. Saya lupa membeli sesuatu."


David pun memenuhi permintaan Dara. "Apa kita tidak jadi makan bersama?" tanya David.


"Lain kali saja, Mas." Dara pun turun di tempat itu. Sofia mengulas senyum tipis. Dia dapat mengusir Dara tanpa melakukan kekerasan.


♥️♥️♥️


__ADS_1


__ADS_2