Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Bukan pendendam


__ADS_3

"Sudahlah, tidak usah menuntut dia. Semua perbuatan akan dapat balasannya sendiri. Yang penting aku selamat dan sudah kembali," jawab David ketika Zidan meminta pendapat tentang apa yang akan dia lakukan pada Dena.


Julian tersenyum sinis. "Jangan terlalu baik," timpal Julian.


David tersenyum. "Bagiku segala sesuatu yang terjadi sudah ditakdirkan, Pa. Kalaupun bukan aku yang membalas pasti cepat atau lambat dia akan mendapatkan balasan dari orang lain atau bahkan langsung dari Tuhan," jawab David dengan bijak.


David memang bukan orang yang pendendam. Menurutnya akan makan banyak waktu dan tenaga jika mengejar Dena yang kabur ke luar negeri.


"Kenapa dia sampai mengincar nyawamu? Apa kalian musuhan?" tanya Safa penasaran. Tapi sepertinya tidak mungkin, Safa sangat mengenal David.


"Bukan, justru sebaliknya Dena menyukai suamiku," timpal Sofia. Kini dia ikut berbicara. "Aku juga heran mengapa dia mencelakai Mas David."


Zidan berpikir sejenak. "Kalau dia adalah anak Tante Martha berarti dia mengincar papa Yudha." Zidan mengambil kesimpulan. "Bukankah kamu menaiki mobil papa waktu itu?" tanya Zidan pada David. David mengangguk.


"CK, kalian bertele-tele. Sebaiknya suruh pengacara ayahmu untuk menangani kasusmu ini. Jelas-jelas ini bagian dari pembunuhan berencana," seru Julian.


"Aku setuju pada papa," ucap Zidan.


"Biarkan David beristirahat dulu. Nak, apa kamu sudah makan? Ayo kita makan. Mereka ini keterlaluan sekali padamu malah membiarkan kamu kelaparan," ajak Mama Raina.


"Apa kamu mandi dulu, Mas? Biar aku siapkan air hangat untukmu," tanya Sofia.


Sementara itu Zidan dan Safa mengajak anak-anaknya pulang. Mereka akan membiarkan David beristirahat.


Sofia mengajak suaminya masuk ke dalam kamar. Wanita berhijab itu meletakkan bayi yang sejak tadi digendong ke box bayi. Sedangkan David dia membersihkan diri di kamar mandi.


Tiga puluh menit cukup bagi David berada di kamar mandi. Dia pun keluar. Kini wajahnya kembali mulus. Dia telah mencukur jenggot dan kumisnya. Di sisi lain Sofia telah menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.


"Mas, apa kakimu sakit?" tanya Sofia usai berganti baju.


David duduk di samping istrinya. "Aku agak kesulitan berjalan. Selama berada di desa itu aku tidak mendapatkan perawatan medis sama sekali. Hanya keluarga Pak Firman yang merawatku dengan alat seadanya di rumah," terang David.


"Kalau begitu besok aku antar periksa ke rumah sakit. Aku takut kakimu kenapa-kenapa," balas Sofia.

__ADS_1


Sesaat kemudian Baby Aksa menangis karena lapar. Sofia segera menggendongnya. "Apa kamu lapar setelah tidur seharian?" tanya Sofia pada bayi kecil yang belum bisa berbicara itu.


Sofia pun duduk di samping suaminya sambil memangku bayinya. "Kita minum ASI dulu ya," kata Sofia. David yang melihat buah dada istrinya menelan ludahnya kasar. Sudah lama dia tidak melihat miliknya itu. Tubuh David tiba-tiba memanas.


"Sayang, setelah ini kamu mau kan berbagai dengan..." David bingung panggilan yang tepat untuk dirinya.


"Sayang anak kita akan memanggilmu apa? Aku akan menyesuaikan."


"Ibu, aku akan mengajari dia memanggilku ibu," jawab Sofia sambil tersenyum.


"Baiklah, berarti panggilanku ayah. Sayang, jangan lupa berbagi sama ayah ya," ucap David mengajak bayinya berbicara.


Sofia mengerutkan kening. "Berbagi apa, Mas?" tanya Sofia polos.


David menunjuk buah dada milik sang istri dengan dagunya. Wajah Sofia memerah seketika. "Jangan berbicara hal mesum di depan anak kita, Mas," tegur Sofia secara halus.


David terkekeh. "Aku takut dia tidak mau berbagi," guraunya. Sofia menahan senyum.


Tak lama kemudian Baby Aksa kembali tidur usai menyusu sampai kenyang. Sofia meletakkan kembali bayinya di box bayi di samping ranjangnya. Setelah itu David menarik pinggang istrinya hingga Sofia jatuh ke pelukan David.


Sofia mengurai pelukan suaminya. "Mas David lupa kalau aku masih nifas?"


Jleb


Mood David terjun bebas. Dia berharap bisa berhubungan badan dengan istrinya setelah kembali ke rumah. Namun, dia lupa kalau istrinya baru saja melahirkan.


David menepuk jidatnya. "Untung kamu ingatkan jika tidak aku sudah melahapmu malam ini," godanya sambil mencubit lembut pipi istrinya.


Sofia mengelus dada suaminya. "Yang sabar ya Mas. Tunggu sampai nifasku selesai," balas Sofia sambil menahan tawa.


Setelah itu pasangan suami istri tersebut tidur berhadapan hanya saling memeluk. David menciumi puncak kepala istrinya. "Aku sangat merindukanmu, Mas."


"Aku pun. Tak peduli sejauh apa jarak memisahkan dan setebal apa rindu ini menyelimuti, akan ku jaga cinta ini untukmu," jawab David setelah itu mereka memejamkan mata.

__ADS_1


Keesokan harinya Sofia mengantar suaminya ke rumah sakit tempat mereka bekerja. Sofia telah mengundurkan diri. Sedangkan David baru kembali. Penghuni rumah sakit tersebut merasa rindu ketika bertemu dengan keduanya.


Beberapa perawat menghampiri mereka. "Alhamdulillah ya, Dok. Dokter selamat dalam kecelakaan itu," ucap salah seorang perawat wanita.


"Pasti ini karena doa kalian juga," jawab David sambil tersenyum.


"Mas David harus diperiksa karena kakinya terluka," seru Sofia menyela.


"Baik, Dok. Silakan." Para perawat itu memberi jalan.


"Saya sudah mengundurkan diri jadi saya bukan lagi dokter di sini." Perkataan Sofia membuat suaminya tercengang.


"Kenapa kamu belum cerita sayang?" Tanya David.


"Kamu baru kembali, Mas. Maaf jika keputusanku ini membuatmu tidak suka."


"Tidak, justru aku senang jika kamu di rumah saja. Seharian aku akan rindu padamu lalu setelah sampai di rumah kita akan melepas rindu," guraunya.


Perkataan David membuat Sofia malu. "Dokter bisa-bisanya ngegombal di depan kami," protes salah seorang perawat.


"Nasib jomblo," ledeknya sambil tertawa. Sofia hanya menggelengkan kepala mendengar tanggapan suaminya.


David dan Sofia kembali berjalan menuju ke ruang periksa. David berjalan menggunakan tongkat. Setelah itu David melakukan serangkaian pemeriksaan. "Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Sofia pada teman satu profesinya.


"Ada tulang yang bengkok tapi tidak parah, harus dioperasi agar kembali normal. Apa kamu tidak menjalani pengobatan sebelumnya?" tanya dokter tersebut.


"Aku berada di desa yang jauh dari kota ketika aku ditemukan, jarang sekali mereka yang memiliki mobil. Jarak dari rumah sakit sangat jauh sehingga aku hanya dirawat dengan alat seadanya," jawab David.


"Kisahmu ini patut ditulis dalam sebuah novel, Dave. Kamu berhasil selamat setelah dinyatakan hilang. Aku ikut senang."


"Terima kasih. Kapan akan dilakukan operasi?" tanya David tidak sabar. Dia ingin kembali berjalan normal.


"Aku akan kabari nanti. Aku usahakan secepatnya."

__ADS_1


"Terima kasih banyak, Dok," ucap Sofia kemudian. Dokter itu mengangguk.


__ADS_2