
Sofia terbangun ketika merasakan mual di pagi hari. Dia menyibak selimut dengan kasar karena dia ingin segera ke toilet. David yang merasakan pergerakan kemudian membuka mata. Dia menyusul sang istri ke toilet.
"Huek, huek."
Sofia memuntahkan isi perutnya. David memijit tengkuk leher sang istri dengan telaten. Sofia menyeka dengan telapak tangan saat sudah selesai. "Masih mual?" tanya David sambil menatap iba pada sang istri. Wanita itu menggeleng.
David merangkul istrinya kemudian memintanya duduk. "Tunggu di sini sebentar ya." David keluar dari kamar menuju ke dapur. Dia membuat air jahe untuk istri tercintanya.
Tak lama kemudian David berjalan ke kamar. "Sayang minumlah!" David menyodorkan secangkir air jahe buatannya. Sofia menerimanya lalu mencium bau yang menyengat karena indra penciumannya sedang tajam.
"Apa ini air jahe?" tanya Sofia sambil menutup hidung. David mengangguk.
"Minumlah walau sedikit, ini bisa meredakan mual di pagi hari."
Sofia menuruti saran suaminya. Dia meminum air jahe itu sambil menutup hidung. Tiba-tiba perutnya berbunyi. "Aku lapar," ucapnya di depan sang suami.
David mengusap kepala istrinya. "Mau sarapan apa biar aku masakin."
"Memangnya Mas David bisa masak?" tanya Sofia dengan ragu.
"Aku ini lama hidup sendiri di luar negeri jadi aku biasa mandiri. Bukankah kalau jajan di luar itu boros?"
"Sebenarnya aku ingin makan mi instan," ucap Sofia dengan lirih. Dia takut suaminya tidak memperbolehkan.
"Boleh, tapi sedikit saja ya, untuk kali ini saja, besok-besok makan yang bergizi." Sofia mengulas senyum lebar.
"Sambil nunggu masakannya matang aku mendi dulu ya, Mas." David mengangguk kemudian dia berjalan ke dapur.
David memakai apron lalu mengambil mi instan yang ada di dalam laci dapurnya. Setelah itu dia menyalakan api dan meletakkan panci yang berisi air ke atas kompor. Sambil menunggu air mendidih, David memotong wortel dan sawi untuk tambahan. Setelah mendidih mienya dimasukkan. Dia membuat dia porsi mie instan. "Tidak apa sekali-kali makan junkfood," gumamnya.
Sofia mencium bau yang sangat sedap dari dapur. Dia pun berjalan mengikuti wangi mie instan yang membuat air liurnya menetes. "Sepertinya enak," ucapnya ketika telah berada di dapur melihat suaminya yang sedang memasak.
"Sudah selesai, ayo kita makan bersama," ajak David sambil membawa dua mangkok berisi mie lengkap dengan sayur dan tambahan telor di atasnya.
"Katanya makan minya sedikit saja, ini porsinya banyak lho Mas."
__ADS_1
David tersenyum. "Nanti kalau tidak habis aku yang makan."
"Bener ya," David mengangguk yakin.
Setelah itu mereka sarapan bersama. "Mas aku sudah kenyang," ucap Sofia setelah memakan tiga sendok mie.
"Sayang, makan yang banyak biar kamu nggak kelaparan di rumah sakit nanti," bujuk David. Dia tidak mau menghabiskan mie milik Sofia yang masih utuh itu.
"Tidak mau, Mas. Perutku rasanya tidak nyaman jika kebanyakan makan," tolaknya sambil mendorong mangkok miliknya. "Makan Mas David saja." David menelan ludahnya kasar. Dia terpaksa memakan mie instan dua mangkok.
"Jangan salahkan aku kalau jadi gendut ya," ucapnya sambil makan. Sofia terkekeh.
"Melihatmu makan banyak seperti ini aku jadi merasa kenyang," sahut Sofia tanpa dosa.
David merasakan perutnya mulas ketika kekenyangan. "Aku mau ke kamar mandi dulu," pamitnya terburu-buru.
Cukup lama Sofia menunggu suaminya. Satu jam berlalu David belum juga keluar. Sofia pun mengetuk pintu kamar mandi. "Mas David baik-baik saja? Jangan lama-lama ya kita hampir telat Mas." Sofia mengingatkan suaminya.
Sesaat kemudian David keluar. Dia segera memakai pakaian yang telah disiapkan istrinya. "Ah sudah jam tujuh," ucapnya ketika melihat jam dinding. Dia pun bergegas memakai sepatu lalu berjalan keluar.
"Maaf kita terlambat kerena aku," ucapnya sedikit menyesal.
"Tidak apa-apa," jawab Sofia dengan tersenyum.
Sesampainya di rumah sakit, David berjalan lebih dulu meninggalkan istrinya. "Maaf sayang, aku jalan dulu," ucapnya setelah meninggalkan jejak di kening sang istri.
Perlakuan David yang romantis itu tak luput dari perhatian banyak pasang mata yang ada di sekitarnya. Tak lama kemudian Dokter Selly menepuk bahu Sofia. "Jangan pamer kemesraan di depan umum," ledeknya setelah itu tertawa bersama Sofia.
"Aku akan menikah seminggu lagi, datanglah bersama suamimu," ucap Dokter Selly seraya menyodorkan undangan.
"Tentu."
Seminggu kemudian, David menggandeng tangan istrinya. Mereka berjalan ke atas panggung untuk memberikan ucapan selamat pada mempelai pengantin. Zidan dan istrinya juga ada di sana.
Di tengah acara tiba-tiba Safa merasakan perutnya mulas. "Mas aku capek berdiri bagaimana kalau kita duduk dulu," kata Safa sambil memegangi perutnya. Zidan membantu istrinya duduk.
__ADS_1
Dia mengira itu hanya kontraksi palsu. Karena akhir-akhir ini dia sering merasakannya. Tapi yang dia rasakan saat ini semakin lama semakin sakit.
"Mas Zidan sakit sekali, Mas. Sepertinya aku ingin melahirkan," teriak Safa. Zidan dan tamu yang hadir di acara pernikahan itu pun sontak kaget.
"Bagaimana ini? Bertahanlah sayang." Zidan sangat panik. Apalagi melihat istrinya kesakitan.
"Bang, biar aku yang bawa mobil. Kita bawa istrimu ke rumah sakit sekarang," kata David.
Sebelum berangkat, David berpamitan pada istrinya. "Maaf aku tinggal, aku akan menelepon papa untuk menjemputmu," ucap David.
Sedari tadi Safa mere*mas tangan suaminya untuk mengalihkan kesakitan yang dia alami.
"Mas, sakit sekali mas, aku hampir nggak kuat Mas." Safa menitikkan air mata. Begitu juga dengan Zidan, dia tak tahan melihat sang istri yang selalu ceria kini malah menangis terus menerus.
Tak butuh waktu lama David memasuki area parkir mobil rumah sakit. "Udah sampai, Bang," David menghentikan mobilnya di depan UGD. Zidan segera turun dan menggendong istrinya meskipun sekarang beratnya makin bertambah tapi tak ia hiraukan.
"Mas jangan pergi, temani aku," pinta Safa di sela isak tangisnya.
"Aku di sini, Sayang," kata zidan sambil membungkuk. Ia melihat detik-detik sang istri berjuang melahirkan putranya.
Zidan menemani Safa di ruang bersalin. "Pak, anda yakin mau menemani istri anda?" tanya perawat memastikan karena tidak semua suami tahan melihat istrinya tersiksa berjuang melahirkan.
David memberi tahu kalau pembukaan yang dialami Safa tidak juga bertambah setelah hampir setengah hari di rumah sakit. "Tidak ada jalan lain, kita lakukan operasi sesar," putus David sebagai penanggung jawab sekaligus dokter yang menangani kakaknya saat ini.
Safa dibawa ke ruang operasi. Semua anggota keluarga telah menunggu di depan ruang bersalin dalam keadaan cemas. Ketika terdengar suara tangis bayi, semua orang bersorak gembira.
"Adikku udah lahir," seru Willa yang ada di gendongan sang ayah. Meskipun baru menikah dia juga hadir menunggu kelahiran bayi mantan istrinya itu.
Yang bingung bisa baca di Kekasihku Pria Amnesia ya, di sana ada asal usul mantan suami Safa menikah dengan sahabatnya.
"Selamat, Bang. Anakmu laki-laki," kata David memberi tahu.
Zidan menangis haru setelah mengetahui anak dan istrinya selamat. "Terima kasih banyak Dave," Zidan menempuh pundak adik iparnya itu.
"Untuk sementara kalian bisa melihat bayinya di ruang perawatan khusus bayi," David memberikan pengumuman pada keluarga besarnya.
__ADS_1