Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Sofia menyatakan cinta


__ADS_3

David memilih pulang ke apartemen miliknya. Dia ingin menyendiri dulu sementara waktu. Tak disengaja dia bertemu dengan seorang gadis yang tak lain teman SMA nya. "David?" Panggil seorang wanita yang memakai pakaian super ketat itu.


David lupa pada seseorang yang menyebut namanya itu. "Dena, ya?" Tanya David memastikan.


"Ya," jawabnya singkat sambil tersenyum.


"Kamu makin cantik," puji David. Dena berputar untuk memamerkan bentuk tubuhnya. Jangan heran David memang ramah pada siapapun apalagi pada orang yang sudah dia kenal. Bahkan terkadang banyak yang salah mengartikan kebaikannya itu.


Dena memang cantik tapi David tidak tertarik padanya.


"Apa kamu tinggal di sini?" tanya Dena.


"Aku tinggal di unit sebelas," ungkap David.


"Hei ternyata kita bertetangga. Aku di unit tiga belas," balas Dena sambil mengulas senyum lebar di wajahnya.


"Baiklah, aku masuk," pamit David.


"Tunggu, apa boleh aku meminta nomor teleponmu?" Dena menyodorkan handphone miliknya.


David tidak keberatan memberikan nomor handphonenya pada Dena. "Terima kasih," ucap Dena. Setelah itu David masuk ke unit apartemen miliknya.


Keesokan harinya.


David melihat sebuah handphone tergeletak di meja kantin. "Bu, ada yang meninggalkan handphonenya di sini," seru David pada penjual di kantin.


"Terakhir yang duduk di situ Dokter Sofia, Dok." David tersenyum licik. Dia jadi ada alasan untuk menemui Dokter Sofia.


Tiba-tiba handphone itu bergetar. Sebuah pesan singkat terlihat di layar handphone tersebut. Kebetulan handphone milik Sofia itu tidak dikunci. "Ceroboh sekali," gumam David mengomentari kecerobohan Sofia yang tidak memasang kunci di layar handphonenya.


Dengan leluasa David membaca pesan singkat yang dikirim oleh Adam.


^^^Jangan lupa nanti malam aku jemput jam tujuh ya, kita berangkat untuk melihat festival kembang api di tengah kota.^^^


David pun memiliki ide. Dia akan menghubungi Dena dan memintanya berpura-pura sebagai pacarnya.


"Hallo, Den nanti malam kamu ada acara tidak?" tanya David melalui sambungan telepon.

__ADS_1


"Tidak ada. Apa kamu mau mengajakku keluar?"


"Aku jemput nanti malam jam tujuh kita akan ke festival kembang api."


Setelah itu David menemui Dokter Sofia. "Ada yang bisa saya bantu, Dok?" Sofia berusaha bersikap senetral mungkin.


"Saya hanya ingin mengembalikan handphone milik anda yang ketinggalan." David meletakkan handphone tersebut di atas meja kerja Sofia.


"Ah, terima kasih banyak, Dok. Saya tidak menyadari kalau handphone saya ketinggalan di kantin bukan?" David mengangguk.


"Lain kali pasang kunci layar agar orang lain tidak bisa membaca pesannya yang masuk," ucap David sebelum pergi meninggalkan ruangan Sofia.


Kening Sofia berkerut. Dia pun membuka pesan yang baru masuk. "Rupanya Mas Adam tidak lupa dengan ajakannya. Baiklah aku akan memanfaatkan waktu nanti malam. Kali ini aku tidak boleh plin-plan. Hidupku adalah pilihanku bukan orang lain yang menentukan."


Tiba waktunya Adam menjemput Sofia sesuai jadwal yang mereka sepakati. Adam melihat Sofia begitu cantik dengan dandanan simple dan sepatu catch sehingga Sofia terlihat seperti anak muda zaman sekarang.


"Aku berasa jadi om-om kalau lihat kamu," ucap Adam sambil terkekeh ketika di dalam mobil.


"Apa ada yang salah dengan dandananku?" tanya Sofia seraya melihat ke badannya sendiri.


Adam menggeleng. "Kamu terlihat lima tahun lebih muda dari usiamu, Sofia," puji Adam.


Malam ini Adam mengajaknya untuk bermalam mingguan sekaligus merayakan pergantian tahun baru seperti pasangan muda mudi lainnya.


Adam mengajak Sofia melihat karnaval dan pertunjukan lainnya. Sebenarnya dia sangat menikmati sampai tak sengaja matanya melihat seseorang yang dia kenal menggandeng wanita asing. Tangannya merangkul bahu seolah mereka adalah pasangan kekasih.


"Siapakah dia?"


Belum sempat terjawab pertanyaan yang memenuhi pikirannya, Adam mengajak Sofia ke tempat yang agak sepi. Mendadak laki-laki itu berlutut. "Sofia aku ingin melamarmu." Dia mengeluarkan satu kotak kecil yang berisi cincin berlian.


Sofia tidak menyangka Adam seserius ini padanya. Jantung Sofia berdebar.


"Maukah kamu menikah denganku?" Kalimat itu sudah Sofia duga akan keluar dari mulut Adam. Tapi dia tidak ingin memaksakan diri untuk menerima Adam karena dia menyukai laki-laki lain.


Sofia mengangkat bahu Adam. "Bangunlah, Mas. Jangan seperti ini," ucap Sofia dengan lembut.


Setelah Adam berdiri Sofia mulai berbicara. "Mas Adam, sebelumnya aku minta maaf." Adam memiliki perasaan tidak enak. Akankah Sofia menolaknya?

__ADS_1


"Aku tidak bisa menerima lamaran Mas Adam," ucap Sofia dengan yakin. Meski akan menyakiti Adam tapi ini pilihan terbaik.


"Tapi kenapa tiba-tiba begini bukankah kita baru saja jadian? Kamu menerima aku waktu itu."


"Maaf, Mas. Ada kesalahpahaman yang harus aku luruskan. Waktu Mas Adam menyatakan perasaan Mas, aku sedang tidak fokus jadi tidak sengaja mengatakan iya. Maaf, Mas. Aku tidak bermaksud menipu Mas Adam."


"Tidak bisakah kamu memberiku kesempatan, Sofia." Adam berusaha membujuk wanita itu dengan meraih tangan Sofia tapi Sofia segera melepasnya.


"Aku takut menyakiti perasaanmu lebih dalam, Mas. Mas dengarkan aku! Mas Adam laki-laki baik, carilah wanita yang lebih baik dari pada aku. Aku yakin pasti banyak wanita yang menginginkan Mas Adam."


"Sofia," rengek Adam.


Sofia tidak bisa berlama-lama lagi bicara dengan Adam dia takut kehilangan David. "Maafkan Aku, Mas. Aku permisi." Sofia pergi meninggalkan Adam. Ini yang dinamakan sakit tapi tidak berdarah. Dia mencengkeram kotak cincin yang dia pegang dengan erat.


Sementara itu Sofia mencari David di tengah kerumunan orang-orang yang sedang menyaksikan festival kembang api. Dia hampir saja terjatuh jika saja tidak ada orang yang menolongnya. "Kamu tidak apa-apa?" Dia kenal suara itu.


Sofia tersenyum saat melihat David menolongnya. "Apa aku masih punya kesempatan?" David mengerutkan keningnya.


Sofia bangun dibantu oleh David. "Katakan, Dok! Apa aku masih punya kesempatan untuk menjawab iya?" Sofia mengulangi pertanyaannya.


Apa ini? Apa Sofia sedang mempermainkannya? Bukankah dia sedang jalan dengan Adam. Lalu di mana laki-laki itu? Kenapa dia sendirian? Pertanyaan itu berputar-putar di kepala David.


"Iya, apa?" David menatap mata Sofia di tengah keramaian.


"Iya, Aku menyukaimu," jawab Sofia. Namun, ucapannya itu berbarengan dengan suara kembang api yang sedang meletus.


"Dave," seorang wanita memanggil David. Laki-laki itu menoleh.


Dada Sofia bergemuruh. "Kenapa wanita itu harus datang di saat-saat penting seperti ini?" Sofia jadi meradang.


"Dena."


Dena memiringkan kepalanya. "Siapa dia?" tanya Dena pada David.


Sofia maju ke depan David. "Sofia, pacar barunya Dokter David," ucap Sofia dengan percaya diri seraya mengulurkan tangannya.


David menahan tawa. Dari mana Sofia memiliki keberanian untuk mengakui dirinya sebagai pacar. Dena tidak percaya sepenuhnya. Lalu dia melirik ke arah David seolah bertanya melalui matanya. David menganggukkan kepala.

__ADS_1


Dena terkejut. Dia tidak menyangka datang dengan David tapi bukan berarti akan pulang bersamanya. Ada sedikit rasa kecewa tapi Dena tidak mau menjadi wanita yang terlihat jahat di mata orang lain.


"Baiklah, Dave. Aku tidak akan mengganggu kalian."


__ADS_2