Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Sofia stress


__ADS_3

David pulang dengan perasaan kecewa. Gadis yang sudah menjadi incaran malah menerima pernyataan cinta dari pria lain. Padahal sikap David pada Sofia selama ini sudah jelas menunjukkan kalau dirinya menyukai Sofia. Namun, gadis itu malah tak memberinya harapan.


Sebenarnya Sofia bukannya tidak menyukai David tapi Sofia terlalu malu. Banyak pertimbangan yang membuat Sofia tidak menjawab pertanyaan cinta David. Karena adiknya sudah menikah dengan kakaknya jadi dia tidak enak pada keluarga iparnya itu.


"Aku sungguh kecewa padamu Sofia." David memegang erat kendali setir lalu memukulnya karena kesal.


"Tapi aku tidak akan semudah itu menyerah Sofia. Aku akan buat kamu berpaling dari laki-laki itu. Kalau tidak maka jangan sebut namaku David." David membulatkan tekadnya.


Sementara itu, Sofia pulang dengan lesu. Raina menyambut kedatangan anaknya. "Assalamualaikum, Sofia." Raina memberi salam lebih dulu untuk menyapa putrinya yang sedari tadi jalan sambil menunduk itu.


Julian yang mendengar suara mobil Sofia telah memasuki garasi langsung menghampiri putrinya. "Sayang." Mendadak Julian memeluk tubuh anaknya itu.


"Selamat ya kamu sudah jadian sama Adam. Papa senang mendengar berita yang disampaikan oleh ayahnya Adam."


Sesaat setelah pertemuan Adam dan Sofia di restoran, Adam memberi tahu pada ayahnya kalau dia berhasil mendekati Sofia. Kemudian Adrian meneruskan berita itu pada Julian. Keduanya sepakat untuk melanjutkan hubungan anaknya ke jenjang yang lebih serius.


Sofia hanya diam tak bereaksi. Barulah ketika sang ayah menatapnya dia menyunggingkan senyum. Tapi Raina bisa melihat kalau Sofia tersenyum paksa.


"Pa, aku ingin istirahat."


Julian mengangguk paham. "Naiklah!"


Raina mengikuti putrinya sampai ke dalam kamar. "Sofia, boleh mama minta waktu sama kamu untuk bicara sebentar?" tanya Raina. Sofia mengangguk. Keduanya masuk ke dalam kamar.


"Sayang apa betul kamu menerima Adam sebagai pasangan kamu?" tanya Raina.


"Aku tidak sengaja mengatakan iya, Ma." Sofia memeluk ibunya. Dia meneteskan air mata tapi cepat-cepat dia hapus tanpa sepengetahuan ibunya.


Raina mengurai pelukannya. "Bagaimana ceritanya? Jelaskan pada mama!"


"Aku tidak sengaja berkata iya ketika aku sedang membayangkan ucapan seseorang." Sofia menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


Kening Raina berkerut. "Ucapan siapa, Nak?"


"Aku tidak bisa mengatakannya, Ma. Mungkin lambat lain mama akan tahu tapi tidak lewat mulutku langsung. Ada hal yang aku pertimbangkan, Ma."


"Baiklah, lupakan soal itu. Bagaimana dengan Adam?"


"Mungkin aku harus memberi dia kesempatan untuk lebih mengenalku, begitu juga sebaliknya. Kalau memang di antara kami saling cocok dan berjodoh ya lanjut tapi kalau sebaliknya mungkin aku akan meminta bantuan mama untuk membatalkan perjodohan ini. Aku tidak ena pada papa," ungkap Sofia.


Raina mengusap kepala putrinya dengan sayang. "Mama akan selalu dukung keputusan kamu. Mama akan melindungi kamu. Jika kamu memerlukan bantuan mama jangan sungkan untuk berkata." Raina tersenyum pada Sofia. Gadis itu pun membalas.


Sang ibu berdiri lalu meninggalkan kamar putrinya. "istirahatlah."


Sofia menjadi tidak bisa tidur karena dia memikirkan keputusannya untuk menjalin hubungan dengan Adam. Tapi di sisi lain sudah lama David mengutarakan perasaannya tapi tak pernah dia balas. Sofia jadi pusing memikirkan siapa yang akan dipilih untuk menjadi pasangannya.


Saking stressnya dia, suhu badan Sofia makin meningkat. Pagi ini dia bangun dengan kepala yang terasa berat. Sofia meminum air putih yang ada di atas nakas.


"MasyaAllah kenapa kepalaku pening sekali. Apa aku salah makan? Atau terlalu kecapekan?" Gumam Sofia sambil memegang kepalanya.


Minggu ini masih dapat jadwal pagi. Jadi dia tidak bisa mengabaikan pasien-pasiennya. Tapi bagaimana kalau keadaannya sakit seperti ini? Gadis itu tetap memaksa masuk kerja.


Usai turun dari tangga, Sofia duduk untuk sarapan. "Nak, bibirmu terlihat pucat, apa kamu sakit?" tanya sang ibu.


"Kepalaku agak sedikit pusing, Ma," jawab Sofia dengan jujur.


"Kenapa berangkat kerja. Izin saja pada pihak rumah sakit, bukankah kamu bisa meminta bantuan adik iparku, Safa?"


"Aku tidak mau merepotkan orang lain Ma. Lagi pula aku yakin ada pasien yang sudah mengantri pagi ini. Aku tidak bisa mengabaikan mereka."


Raina tahu kalau Sofia sudah memiliki keinginan maka sulit untuk dirinya melarang. Meskipun pembawaan karakter Sofia adalah tipe wanita yang lemah lembut tapi dia wanita yang tidak mudah menyerah, rajin berusaha adalah andalannya.


"Baiklah, biar sopir yang mengantarmu. Jangan pakai mobil sendiri karena berbahaya."

__ADS_1


Sesaat kemudian Julian bergabung di meja makan. "Sofia kamu sakit?" tanya Julian ketika melihat putrinya terlihat lesu.


"Hanya pusing biasa, Pa."


"Apa perlu papa telepon Adam?" Usul Julian.


Sofia merasa keberatan tapi dia tidak boleh mengatakan langsung pada ayahnya. "Tidak perlu, Pa. Sofia tahu Mas Adam pasti sibuk dengan pekerjaannya. Biarkan Sofia di antarkan oleh sopir saja," tolak Sofia secara halus.


Julian mengangguk tapi tanpa sepengetahuan Sofia, Julian mengirim pesan singkat pada laki-laki yang dianggap sebagai calon menantunya itu.


Sofia beranjak dari tempat duduknya. "Ma, Pa aku berangkat sekarang ya." Gadis itu meraih tangan ayah dan ibunya bergantian.


"Hati-hati di jalan," pesan Raina. Sofia tak banyak bicara dia hanya tersenyum menanggapi pesan ibunya.


Sofia masuk ke dalam mobilnya. Sementara sang sopir menyetir dia menyandarkan kepalanya yang berat. Barangkali setelah tertidur sebentar pusingnya akan bilang.


Akan tetapi, hal itu sia-sia saja walaupun tidur selama perjalanan, kepalanya masih agak berat. "Pak, nanti siang tidak usah jemput saya naik taksi saja."


"Baik, non."


David yang baru saja selesai memarkir mobilnya, melihat Sofia turun dari mobil. "Tidak biasanya dia diantar sopir, apa mobilnya rusak lagi?" Gumam David yang masih betah berada di dalam mobil untuk mengamati Sofia dari kejauhan.


"Aku ingin mampir ke poli umum dulu untuk meminta obat," gumam Sofia. Jalan Sofia benar-benar lambat seperti siput. David pun curiga. Tapi dia hanya bisa mengikuti Sofia dari belakang.


Namun, berada di samping Sofia membuat David tidak tahan untuk menyapa meskipun hatinya sedang terluka. Dan yang dilakukan oleh laki-laki itu adalah menelusupkan jari-jari tangannya ke dalam jari-jari wanita itu.


Sofia melihat ke arah tangannya lalu mendongak menatap pemilik tangan. Gadis itu tersenyum sebelum akhirnya pingsan karena sudah tidak kuat menyangga tubuhnya yang lemah.


Untung saja David sigap menangkap tubuh pujaan hatinya itu.


"Sofia." David menoleh saat mendengar orang lain memanggil nama gadis yang sedang pingsan di pangkuannya.

__ADS_1


Kira-kira siapa yang manggil?


__ADS_2