Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Kabur


__ADS_3

David mungkin sudah gila karena memikirkan hal ini. Dia datang ke rumah Sofia malam-malam lalu dia berjalan mengendap-endap.


"Sofia," panggil David dari balkon rumah Sofia.


Sofia yang saat itu tengah tertidur menjadi terusik ketika mendengar suara berisik dari luar.


"Sofia."


Sofia terlihat kaget ketika terdengar jelas suara orang memanggilnya. Sofia susah payah menelan ludahnya sendiri. Jantungnya berdebar kencang. Dia khawatir kalau-kalau yang memanggilnya adalah makhluk tak kasat mata.


David melihat bayangan Sofia berdiri tapi dia terlihat ragu untuk mendekati jendela. "Sofia ini David." Laki-laki itu sengaja menyebut namanya agar Sofia segera mendekat.


Benar saja sesuai dugaan David Sofia membuka pintu balkon kamarnya dengan suka rela. "Mas, apa yang kamu lakukan di sini?" Sofia menengok ke kanan kiri. "Bagaimana kalau kamu ketahuan?" tanya Sofia begitu khawatir.


"Ayo ikut aku kabur!" David menarik tangan Sofia.


"Tidak," tolaknya.


"Sayang, apa kamu mau dinikahkan dengan laki-laki yang hanya mengincar harta keluargamu saja?" Sofia mengerutkan kening ketika dia mendengar omongan David.


"Apa maksudmu?"


"Tidak ada banyak waktu untuk menjelaskan. Ikutlah denganku jika kamu ingin tau kebenarannya." David sedikit mendesak.


"Bagaimana kalau ketahuan papa?"


"Aku tidak takut jika ayahmu akhirnya membunuhku," jawab David sambil menatap ke dalam mata Sofia. "Aku hanya takut kamu menjadi milik orang lain." Sofia keberatan dengan ide David yang mengajaknya kabur.


"Aku tidak bisa, Mas. Aku ingin menikah denganmu tapi dengan cara yang benar. Kabur hanya akan menambah masalah, Mas."


David sangat membenci sikap Sofia yang terlalu penurut. Dia pun menarik tangan Sofia dengan paksa. Sofia ingin berteriak tapi akan sangat menyulitkan jika David ketahuan mengajaknya kabur. Julian tidak akan tinggal diam. Dia pasti akan memberikan hukuman pada David. Sofia akan menyesal jika itu terjadi pada laki-laki yang dia cintai. Akhirnya Sofia terpaksa ikut David kabur. David membantu Sofia melewati balkon rumahnya.

__ADS_1


"Sayang, lompat!" Perintah David.


Sofia ragu tapi dia melompat. David menangkap tubuh Sofia. Mata mereka bertemu sehingga membuat jantung Sofia berdebar kencang. Sofia segera bangkit tapi dia menginjak roknya sendiri sehingga dia kembali terjatuh.


David mengulas senyum tipis. Ingin sekali dia mencium kekasihnya tapi dia tidak mau membuat Sofia takut. "Hati-hati," ucapnya dengan lembut.


"Maaf, Mas. Aku tidak sengaja."


"Sudah minta maafnya nanti saja, kita kabur dulu sebelum kita ketahuan." Sofia mengangguk. Dia pasrah ke mana David membawanya. Sofia terus berdoa agar David tidak melewati batas.


Sementara itu, Raina mengantarkan susu hangat untuk putrinya. "Sofia, apa kamu sudah tidur? Mama bawakan susu untukmu." Karena tak ada jawaban, Raina mencoba membuka pintu kamar Sofia.


"Nggak dikunci," gumam Raina. Wanita itu mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar tapi tak menemukan Sofia. Dia juga mencari keberadaan putrinya itu di kamar mandi tapi tak juga melihat batang hidung Sofia. Setelah itu Raina berjalan ke arah balkon yang pintunya terbuka. Dia melihat ke luar. Matanya menemukan Sofia masuk ke dalam sebuah mobil.


Bukannya berteriak untuk memanggil bantuan agar Sofia ditemukan, Raina malah membiarkan putrinya kabur. "Semoga kamu menemukan kebahagiaan kamu di luar sana, Nak."


Sebagai ibu, dia tidak rela jika anaknya tidak bahagia dalam menjalani kehidupan rumah tangganya. Raina percaya Sofia gadis yang bisa bertanggung jawab dengan segala keputusan yang dia ambil.


"Ko susunya dibawa keluar ke lagi?" tanya Julian heran.


"Sofia sudah tidur. Mama pikir dari pada susunya basi mama bawa keluar lagi. Nanti mau mama taruh di kulkas aja," bohong Raina. Dia berharap suaminya akan percaya.


"Baiklah, papa tunggu di kamar ya." Raina mengangguk. Dia bernafas lega ketika suaminya percaya pada omongannya.


Setelah itu dia membawa susu yang tidak jadi diberikan pada Sofia ke dapur. Raina berjalan sambil melamun. Julian memperhatikan istrinya. Tiba-tiba dia memeluk Raina dari belakang. "Mas."


"Kenapa kamu lama sekali? Aku hampir saja mengantuk karena menunggumu."


"Mas, bagaimana kalau ada yang melihat kita seperti ini?" keluh Raina.


"Mereka tidak akan berani menegurku," ucap Julian penuh percaya diri.

__ADS_1


"Sebaiknya kita masuk ke dalam kamar sekarang. Sudah malam waktunya beristirahat."


Di tempat lain, David melihat Sofia tertidur di dalam mobil. Dia mengendarai mobil tanpa tujuan. Dia tidak bisa pulang ke rumah ayahnya ataupun ke apartemennya saat ini. Julian akan menemukannya dengan mudah.


Lalu, David berpikir untuk membawa Sofia ke tempat yang dia sukai. David menghentikan mobilnya di sebuah pantai yang lokasinya lumayan jauh. Dia melirik ke arah gadis yang sedang tertidur lelap. "Dasar pengkhianat dia malah enak-enakan tidur," umpat David diam-diam.


David mencondongkan badannya lalu mencium bibir Sofia degan lembut. Ketika Sofia merasa terusik, David pun melepas kecupan bibirnya. Dia tersenyum lalu memejamkan mata. Rasanya dia tidak sabar hidup bersama dengan wanita yang begitu dia cintai.


Ketika David tidur, Sofia membuka mata perlahan. Dia mengusap bekas ciuman bibir David. Jantungnya berdebar kencang. Tapi dia memejamkan matanya kembali karena matanya begitu mengantuk.


"Ya Allah jika ini mimpi aku tidak ingin bangun dalam waktu dekat, biarlah aku menikmati mimpiku ini walau sekejap."


Malam pun berlalu. Matahari mulai meninggi, Sofia terbangun ketika cahaya matahari mengenai wajahnya. "Astaghfirullah aku melalaikan kewajibanku" ucapnya ketika melewatkan waktu subuh.


Tapi ke mana David? Sofia tidak melihat David ada di dalam mobil. Oleh karena itu Sofia memutuskan untuk keluar. Dia berjalan menyusuri pantai dan melihat keindahan pantai pagi hari. Merasa kesulitan berjalan di atas pasir, Sofia melepas sepatunya.


"Subhanallah udaranya begitu segar." Sofia pun berjalan-jalan sambil menunggu kedatangan David. Sejenak beban pikirannya teralihkan oleh suara ombak yang menderu.


Akan tetapi kakinya tak sengaja menginjak karang yang terbawa ombak ke tepi pantai. "Aw." Sofia meringis kesakitan. Tak lama kemudian pria yang diharapkan datang tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Kenapa bisa sampai terluka?" David berjongkok untuk melihat seberapa parah luka yang dialami Sofia.


"Mas tadi ke mana saja?" tanya Sofia.


David mendongak. "Beli sarapan untuk kamu." Dia menunjukkan plastik yang ada di tangannya.


David menyentuh kaki Sofia dan menyingkirkan pasir yang membuat kakinya kotor. Lagi-lagi jantung Sofia dibuat berdebar mendapatkan perlakuan manis dari David. Wajahnya memerah karena malu. Setelah itu David membawa Sofia ke tempat teduh. "Duduklah, sayang." Mendengar kata sayang yang terucap dari mulut David membuat hatinya berdesir meski David kerap mengucapkannya.


David menyiramkan air mineral yang dia bawa ke kaki Sofia agar pasir tidak masuk ke dalam lukanya. "Tunggu di sini akan aku ambilkan obat dan plester di mobilku." Sofia mengangguk.


Tanpa disadari seseorang membekap mulut Sofia dari belakang. Siapakah dia?

__ADS_1


__ADS_2