
Yudha ditemani oleh beberapa polisi mendatangi rumah Martha. Disusul ambulans yang membawa jenazah Dena yang telah dibungkus kain kafan.
"Mas, ada apa ini rame banget?" Yudha tak menjawab. Dia bingung bagaimana menjelaskan pada Martha apa yang terjadi pada putrinya.
Sesaat kemudian ambulans mengeluarkan mayat Dena. "Siapa dia, Mas?" tanya Martha. Jantungnya berdegup kencang karena jenazah itu diturunkan di rumahnya.
"Dena," jawab Yudha.
Martha berlari lalu melihat wajah putrinya. "Dena," teriaknya histeris. Yudha tak tinggal diam, dia merengkuh tubuh wanita yang dicintainya. "Tenanglah!"
Mantan suami Dena mendengar kabar kematian anaknya dari kerabat yang datang. Dia datang sebelum Dena dimakamkan. "Kenapa ini bisa terjadi?" tanya sang ayah. Dia menunduk sambil menangis.
Yudha belum bicara apapun pada mereka karena masih dalam keadaan berduka. Dia janji akan berbicara setelah Dena dimakamkan. Setidaknya Martha lebih tenang. Walaupun dia tahu kemungkinan Martha dan mantan suaminya tidak terima akan penyebab kematian Dena.
Yudha menghadiri pemakaman, Zidan juga datang. Sedangkan David tidak bisa datang karena baru saja dioperasi.
Usai pemakaman Yudha meminta waktu pada Martha dan mantan suaminya yang tak lain adalah teman bisnisnya. "Aku ingin mengaku jika akulah yang merencanakan kepulangan Dena ke negara ini."
"Lalu apa hubungannya dengan kematian Dena?" tanya Beni, ayahnya Dena.
"Aku sengaja menjebak Dena agar dia mempertanggungjawabkan perbuatannya."
"Perbuatan apa?" tanya Martha.
"Dia merencanakan pembunuhanku. Tapi sayangnya rencananya gagal. Saat itu mobil yang dibuat blong remnya malah dikendarai David yang akan menjemput istrinya. David mengalami kecelakaan dan kamu tahu dia hilang selama sebulan." Yudha tidak mau jika kesalahan hanya dilimpahkan padanya.
Martha hampir saja limbung. Dia tidak menyangka anaknya bisa sekeji itu. "Kenapa Dena bisa meninggal?" tanya Beni.
"Dia melarikan diri ketika kami berada di kantor polisi. Dia yang kurang hati-hati dan menabrak mobil saat berlari ke jalan raya."
Beni tidak bisa menyalahkan Yudha. Tapi meskipun begitu dia enggan menatap Yudha. Kalau saja Dena tak kembali ke Indonesia maka kejadian ini tidak akan terjadi. Beni tak harus kehilangan anak semata wayangnya.
Martha pun berpikiran sama. "Sekarang apa kamu sudah puas setelah Dena mendapatkan ganjarannya?" tanya Martha pada Yudha.
Laki-laki itu sudah menduga kalau Martha tidak akan memaafkannya. "Aku minta maaf. Ini semua di luar kendaliku," ucap Yudha dengan penuh penyesalan. Seharusnya dari awal dia jujur akan rencananya menjebak Dena pada Martha. Tapi dia tahu Martha tidak akan mendukung itu sebabnya dia tidak mengatakan rencananya.
"Pergi! Mulai sekarang kita sebaiknya tidak perlu bertemu lagi," ucap Martha.
__ADS_1
Yudha terima usiran dari Martha walaupun jauh di lubuk hatinya ada rasa sakit yang dia pendam. "Aku harap kamu bisa memaafkan ku suatu saat nanti," ucap ayah David itu sebelum pergi.
Yudha naik ke mobilnya. Di dalam mobil itu terdapat Zidan yang sedang menunggu ayahnya. Dia setia menunggu di mobil karena dia memberikan kesempatan pada ayah mertuanya untuk berbicara pada orang tua Dena.
Zidan bisa melihat raut kekecewaan di wajah ayah mertuanya. Zidan tak mau menanyakan apapun pada Yudha karena dia paham posisinya sekarang. Zidan mengantar ayah mertuanya kembali ke rumah.
Sementara itu operasi David berjalan lancar. David pun sudah dipindahkan ke rumah rawat pasien. Sofia datang sejenak untuk menjenguk suaminya.
"Assalamualaikum, Mas. Maaf aku baru bisa menjengukmu." Sofia mencium tangan suaminya.
"Tidak apa-apa sayang. Bagaimana dengan baby Aksa?" tanya David.
"Dia kutitipkan pada mama, Mas. Maaf mas aku tidak bisa lama-lama nanti." Sofia ingin menemani suaminya tapi bayinya tidak bisa diajak ke rumah sakit.
"Tidak apa-apa sayang. Baby Aksa lebih membutuhkan kamu."
"Aku bawakan makanan kesukaan kamu, Mas. Aku suapi ya!" Sofia membuka kotak makanan yang dia beli di restoran sebelum mampir ke rumah sakit.
Sofia menyuapi suaminya dengan telaten. David bahagia meskipun istrinya tidak bisa menungguinya di rumah sakit, tapi dia masih menyempatkan diri datang berkunjung meski sebentar.
Sesaat kemudian seorang perawat masuk. "Wah ada dokter Sofia," seru perawat itu.
"Maaf saya mau ganti infus saja setelah itu keluar," lapornya.
"Baik, oh ya sus saya titip suami saya ya. Saya tidak bisa menunggui suami saya di rumah sakit," pesan Sofia pada perawat yang sudah dia kenal itu.
"Tentu. Saya keluar dulu, silakan lanjutkan makannya," pamit perawat tersebut.
Di luar ruangan perawat itu bergosip dengan teman-temannya. "Kalian tahu tidak aku habis dari ruangan Dokter David dan aku lagi dia lagi disuapi makan sama istrinya. Sweet banget kan?"
"Mereka memang pasangan yang bikin semua orang iri. Dokter David yang rame ketemu Dokter Sofia yang lemah lembut, pas banget saling melengkapi."
"Tapi kenapa Dokter Sofia berhenti ya?"
"Katanya mau urus bayinya tanpa jasa baby sitter."
"Oh, mungkin juga permintaan suaminya."
__ADS_1
"Bisa jadi."
Kita tinggalkan para perawat yang sedang bergosip. Sofia harus pulang karena ibunya sudah menelepon. "Mama mengabari kalau Baby Aksa sedang rewel, Mas. Jadi aku harus pulang sekarang," pamit Sofia.
"Pulanglah sayang. Tapi apa dia sedang demam?" tanya David khawatir.
"Tidak, dia hanya haus," jawab Sofia. Dia mencium pipi suaminya lalu pergi.
"Cepat sembuh ya, Mas. Assalamualaikum."
David mengangguk. "Waalaikumsalam, sayang."
Sofia berjalan menuju ke tempat parkir. Di saat yang bersamaan dia melihat Leo bersama wanita yang dia kenal. "Itu kan wanita yang dulu pernah mencoba bunuh diri. Kenapa sama Mas Leo? Lalu bayi yang dia gendong? Apa mungkin itu anak Mas Leo?" gumam Sofia yang penasaran.
Tapi dia tidak ada waktu mencari tahu karena dia harus secara sampai ke rumah. Baby Aksa sedang memerlukan ASInya.
Sofia menginjak gas lalu pulang ke rumah orang tuanya dengan melaju dalam kecepatan normal. Tiga puluh menit perjalanan ke rumah dilalui dengan lancar. Sofia pun berjalan setengah berlari usai memarkir mobilnya.
"Assalamualaikum, Ma."
"Waalaikumsalam. Ke kamar dulu tadi bayimu membutuhkan ASI tadi saat kuganti sufor tidak mau," ungkap sang ibu.
"Baik, Ma."
Ketika berada di kamar, baby Aksa tersenyum ketika melihat ibunya. Bayi yang belum genap berumur dua bulan itu sudah pandai mengenali ibunya. Tangan dan kakinya bergerak aktif saat Sofia mendekat. Seolah dia ingin segera di gendong.
"Uuh sayangnya ibu. Kamu lapar ya." Sofia sedang berbicara pada anaknya.
"Kapan David akan pulang?" tanya Mama Raina.
"Belum tahu, Ma. Semoga dia segera kembali ke rumah," jawab Sofia.
"Mama terus berdoa supaya kalian tidka pernah terpisahkan lagi."
...***...
Mampir yuk ke karya temanku jangan lupa subscribe dan like ya
__ADS_1