
Sofia kembali ke rumah setelah dari sekolah Aksa. Dia akan menyelesaikan pekerjaan rumah setelah itu dia akan menjemput Aksa kembali pada saat jam dua belas tepat.
Tapi hari ini sebelum menjemput anaknya, Sofia mengirim makan siang ke tempat kerja suaminya. "Eh, Bu Sofia ke sini mau mengantar makanan ya?" tanya salah seorang perawat yang mengenalnya.
"Iya, suami saya ada?" tanya Sofia.
"Dokter David sedang melakukan operasi sesar. Tapi kemungkinan sebentar lagi selesai," jawabnya.
"Oh, baiklah. Akan saya tunggu."
Satu jam lamanya Sofia menunggu sang suami. Dia ingin menceritakan apa yang dia lihat pada David sayangnya waktu jemput anaknya sudah tiba. "Sus saya titip saja makanan ini. Tolong sampaikan ke suami saya. Ini mau jemput Aksa soalnya."
"Itu Dokter David baru saja keluar, Bu." Sofia menoleh.
"Mas, kebetulan sekali. Kamu ikut aku sekarang." Sofia menarik tangan suaminya. Lalu dia membawanya ke mobil.
"Lho kita akan ke mana sayang?" tanya David pada istrinya.
"Ke sekolahan Aksa. Aku mau tunjukkan padamu sesuatu."
David mau tak mau menuruti kemauan istrinya. Dia mengendarai mobil menuju ke sekolah Aksa. Sesampainya di sana Sofia mengajak suaminya turun.
"Sayang, kenapa tarik-tarik sih," protes David. Sofia belum menjawab. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh bangunan sekolah.
"Ah itu dia. Mas lihat siapa yang berjalan di sana," tunjuk Sofia.
David mengikuti telunjuk istrinya. "Tante Martha?" Sofia mengangguk menanggapi ucapan suaminya.
__ADS_1
"Ayo, Mas. Kita temui dia," ajak sang istri.
"Ibu," panggil Aksa. Sofia pun menoleh. "Mas kamu saja yang temui Tante Martha. Aku tunggu kamu di mobil sama Mas Aksa. Yuk, Mas," ajak Sofia pada anaknya. Sofia memang selalu memanggil Aksa dengan sebutan Mas untuk mengajari anaknya memanggil dengan sebutan yang baik.
David mengejar Martha. "Tante," panggil David. Martha menoleh dengan ragu. Dia melihat ke arah laki-laki yang memanggilnya. Martha masih berusaha mengingat-ingat wajah pria yang berjalan semakin dekat ke arahnya. Kalau dipikir-pikir dia mirip dengan laki-laki yang pernah dicintai.
"David," gumam Martha dengan lirih. Matanya berkaca-kaca melihat pria itu berdiri tepat di hadapannya.
"Aku David, Tante. Anaknya papa Yudha," ungkap David.
"Maafkan kesalahan Dena yang pernah membuatmu hampir mati." Martha menangis di depan David. Untungnya saat itu sekolah sudah sepi karena semua murid sudah pulang. Hanya ada beberapa guru yang tersisa.
"Tante, jangan begini. Selama ini Tante ke mana? Papa sangat frustasi mencari keberadaan Tante," terang David. Meski sudah bertahun-tahun Yudha masih penasaran dengan keberadaan Martha. Dia masih berharap bisa kembali pada wanita yang pernah mengisi kekosongan hatinya.
Martha mengusap air matanya. "Aku tidak tahu apa aku siap bertemu dengannya," ucapnya dengan nada bergetar.
Martha merenungkan ucapan David. Dia jadi merasa bersalah telah meninggalkan Yudha. Walaupun dia sakit hati karena Dena meninggal, tapi kalau dipikir-pikir lagi Yudha sama sekali tidak bersalah.
"Apa yang dikatakan oleh David benar. Umur tidak ada yang tahu. Aku harus meminta maaf atas semua kesalahanku," gumam Martha.
Martha mendatangi rumah Yudha pada malam hari. Dia ragu untuk masuk. Namun, saat dia berbalik, Yudha memanggilnya. "Anda mencari siapa?" tanya Yudha ketika seorang wanita berada di depan teras rumahnya.
Martha menoleh dengan ragu-ragu. Yudha terpaku ketika melihat wanita yang bertahun-tahun dicari berada di depan wajahnya. "Martha." Yudha menangis sambil memeluk wanita itu.
"Jangan begini, Mas." Martha mengurai pelukan Yudha karena merasa tidak pantas. Hubungan mereka sudah berakhir ketika Martha memutuskannya secara sepihak.
"Kumohon, biarkan begini sejenak. Aku ingin menumpahkan rasa rinduku selama beberapa tahun belakangan ini," ucap Yudha.
__ADS_1
Martha pun hanya bisa menerima pelukan dari laki-laki itu. Sesaat kemudian Yudha mengurai pelukannya. Dia pun mengajak Martha masuk.
"Duduklah dulu aku akan memerintahkan asisten untuk membuatkan kamu minum."
"Tidak usah, Mas. Aku tidak akan lama di sini. Aku hanya ingin meminta maaf padamu."
Yudha memandang lekat mata Martha. "Untuk apa minta maaf? Aku tidak merasa kamu punya kesalahan. Justru aku yang telah membuat kesalahan padamu. Maafkan aku!" Yudha menggenggam erat tangan wanita itu.
Martha menitikkan air mata. "Aku tidak tahu jika kamu masih mengharapkan aku kembali. Padahal aku sengaja menghindar dari kamu. Itu karena awalnya aku kecewa setelah kematian Dena. Aku sadar kamu tidak membuat Dena celaka. Kematian Dena memang sudah takdir. Aku sudah mengikhlaskan dia."
Yudha tersenyum. "Aku bersyukur kamu sudah kembali. Bisakah kita menjalin hubungan seperti dulu. Aku ingin menghabiskan masa tuaku bersama orang yang aku sayangi."
Martha terharu mendengar ucapan Yudha. Dia tidak sedang menggombal. "Tapi apa kita sudah tidak muda lagi. Apa pantas membicarakan hubungan?" Martha merasa malu.
Yudha berjongkok layaknya orang yang ingin melamar kekasihnya. "Untukmu yang selalu kusebut dalam doa, izinkan aku menjadi bagian dari hidupmu," ucap Yudha menyatakan perasaannya. Martha menahan senyum.
"Bisa melihatmu saja sudah suka, apalagi kalau mampu bersama denganmu dalam suka dan duka," jawab Martha.
Yudha sangat girang mendengar jawaban Martha. Dia bangkit lalu memeluk wanita itu. "Terima kasih banyak."
Dia yang telah menunggu Martha selama bertahun-tahun akhirnya bisa bersatu kembali dengannya. Meski jodoh mereka baru terbentuk di usia senja tapi hal itu tak menyurutkan niat Yudha untuk menikahi Martha.
"Aku akan mengabari anak-anak agar mereka siap menerima ibu baru mereka," ucap Yudha saking senangnya. Martha mengangguk setuju.
Di hari lain Yudha mengadakan acara makan malam yang mengumpulkan anak, menantu dan cucu-cucunya. "Papa mau kasih pengumuman, papa mau menikah dengan Tante Martha Minggu ini."
Semua orang terkejut tapi mereka bahagia akhirnya sang ayah menemukan kebahagiaannya. Mereka merasa senang atas kebahagiaan ayah mereka.
__ADS_1
Tak ada yang lebih indah selain dua orang bertemu karena saling menemukan. Sama-sama berhenti karena telah selesai mencari. Tak ada yang yang akan pergi sebab tahu bagaimana sulitnya mencari.