
"Maaf, aku hanya ingin mengantarkan makanan ini. Tadi ada kurir ke sini tapi dia kira rumah kalian kosong karena tidak kunjung dibuka. Jadi dia menitipkan padaku," terang Dena panjang lebar agar David tidak salah paham.
"Owh, terima kasih." David hendak menutup pintu seusai menerima makanan dari tangan Dena. Tapi Dena menahan pintunya. "Kenapa kamu pesan makanan lagi? Bukankah tadi aku memberimu makanan?" tanya Dena pada David.
David bingung ingin menjawab apa. "Istriku akhir-akhir ini makanan banyak karena dia cepat lapar. Jadi kamu memesan makanan lagi," jawab David. Dia tak sepenuhnya berbohong.
"Owh, boleh aku masuk?" tanya Dena pada David. Percuma menahannya maka David pun membiarkan wanita itu masuk ke dalam unit apartemen miliknya.
"Maaf aku harus ganti baju." Dena mengangguk paham.
"Mas, apa Dena ada di luar? Bagaimana kalau dia tahu kalau makanannya tidak kita makan?" tanya Sofia cemas. Dia hanya tidak mau menyakiti perasaan wanita itu.
David tersenyum. "Mau bagaimana lagi. Bukankah makanannya tidak layak dimakan?" Sofia tersenyum. "Maaf aku terpaksa berpenampilan seperti ini di depan dia. Aku tidak tahu kalau dia yang membawa makanan kita," ucap David menyesal. Dia khawatir istrinya akan berpikir yang tidak-tidak.
"Iya, kamu dah izin tadi. Sebaiknya mas segera ganti baju nanti amsuk angin. Aku mau temui Dena dulu." David mengangguk.
"Lho David mana?" tanya Dena tanpa punya rasa malu sedikitpun.
"Sedang ganti baju," jawab Sofia sambil tersenyum.
"Apa betul kamu suka makan di tengah malam? Nggak takut nanti tubuhnya melar. Jangan salahkan suamimu jika melirik wanita lain," ejek Dena.
Sofia mencoba menahan diri. Rupanya Dena belum tahu kalau Sofia hamil karena dia selalu pakai baju longgar. "Iya, Mas David sudah tahu kok kebiasaanku," jawab Sofia dengan enteng.
"Dia tidak keberatan?" tanya Dena lebih lanjut. Sofia menggelengkan kepalanya. "Sama sekali tidak." Hati Dena merasa panas karena David begitu mencintai wanita itu.
"Apa dia sudah mencicipi makanan dariku? Kenapa masih banyak? Apa dia tidak suka?" tanya Dena pada Sofia. Dia seolah bertanya tentang pacarnya. Padahal jelas Sofia adalah istrinya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kamu tanya sendiri pada orangnya?" usul Sofia. Sesaat kemudian David keluar dari kamar.
"Sayang sudah makan?" tanya David dengan lembut. Interaksi suami istri itu tak luput dari perhatian Dena. "Menyebalkan," gerutunya dalam hati.
"Dave, kamu tidak menghabiskan makanan yang aku masak? Aku spesial masakin kamu lho?" tanya Dena dengan wajah ceria.
David menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Apa saat memasak kamu tidak mencicipi rasa masakan kamu?" tanya David.
"Kenapa? Aku membuatnya sesuai resep dari internet. Tidak ada satu pun bahan yang aku lewatkan," ucapnya dengan penuh percaya diri. Sofia menahan tawa.
David kemudian mengambil kotak makanan yang berisi masakan Dena. "Silakan cicipi masakan kamu!" David menyodorkan masakan Dena. Wanita itu ragu tapi dia mengambilnya. Sesaat kemudian Dena meludah. "Asin," ucapnya lirih. Dia merasa malu karena telah memberikan makanan yang tidak layak untuk dimakan pada David.
"Buang saja, Dave. Maaf aku tidak bermaksud meracunimu," ucap Dena dengan menundukkan kepala.
"Tidak apa-apa," jawab David. David melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. Dena sangat peka. "Aku akan pulang. Maaf telah mengganggu waktu kalian." Dia melihat ke arah David dan juga Sofia. Sofia hanya tersenyum menanggapi ucapan Dena.
Setelah Dena keluar David mengajak istrinya membuka makanan yang dia pesan. "Maaf ya sayang, kamu harus menahan lapar." David mengelus perut istrinya seolah berbicara pada calon anaknya.
Malam mulai larut Sofia sudah sangat mengantuk. Dia lebih dulu naik ke atas ranjang setelah membersihkan piring bekas makan malam hari ini. Tangannya memijit bagian pinggan yang terasa pegal.
David yang memahami istrinya kemudian naik ke atas ranjang agar bisa memijit pinggang sang istri yang sedang sakit. "Aku pijat pelan-pelan ya." Tangannya sudah berada di pinggang Sofia.
Sofia tentu tidak menolak. "Mas berapa usia kandungan pasienmu itu?"
"Kenapa kamu selalu menanyakan dia sayang?" David bertanya balik.
"Aku hanya kasian, Mas. Dia hamil aku juga hamil jadi kurang lebih kami merasakan hal yang sama," terang Sofia.
__ADS_1
"Kurang lebih sama dengan usia kandunganmu saat ini," jawab David.
Sofia bangun. "Wah berarti dia juga bisa merasakan detak jantung anaknya saat ini. Sama kayak aku," ucap Sofia antusias.
"Mas apa kamu penasaran dengan jenis kelamin bayi kita nanti?" tanya Sofia pada suaminya.
"Apa kamu penasaran?" lagi-lagi David balik tanya.
"Tentu saja. Besok aku mau periksa kandunganku lagi," ungkapnya.
"Baik, papa akan periksa kamu besok. Sehat-sehat ya." David mencium perut istrinya. Setiap David berbicara pada bayi yang ada di dalam perut istrinya, sang jabang bayi selalu merespon.
"Sepertinya dia laki-laki. Tendangannya begitu kuat, Mas," jawab Sofia. David pun terkekeh mendengar ucapan istrinya.
"Apapun jenis kelaminnya, aku berharap dia lahir ke dunia dengan selamat." Sofia mengangguk setuju.
Di tempat lain, di sebuah ruangan yang sepi Fania tiba-tiba merasakan perutnya bergerak. "Ada apa dengan perutku? Apa dia bergerak?" gumam Fania seorang diri.
Sudah tiga hari dia berada di rumah sakit. Besok dia diperbolehkan pulang. "Akankah Leo menepati janjinya?" Fania tiba-tiba merasa sedih. Dia takut Leo berbohong dan mengingkari janji untuk menikahi dirinya.
"Apa kamu bisa mendengarku?" Fania mencoba berbicara pada calon anaknya. "Apapun yang akan kita hadapi nanti, kamu harus kuat. Lahirlah ke dunia dengan selamat. Karena kamu adalah harta yang berharga untukku."
Di luar sana Leo mengurungkan niatnya untuk masuk ketika mendengar ucapan Fania. Hati kecilnya tidak tega pada perempuan yang telah lama hanya menjadi pelampiasan hasratnya saja.
Leo mengenal Fania sudah lebih dari dua tahun tapi sedikitpun dia tak pernah memperdulikan perasaan wanita itu. Padahal wanita itu selalu menjadi sandaran ketika dirinya mengalami kesedihan.
"Maaf karena terlalu egois padamu," ucap Leo dengan lirih. Dia pun memilih pergi meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
Akankah Leo menikahi Fania? Atau dia datang untuk membatalkan janjinya? Ikuti terus ya cerita ini.
Jangan lupa ya saweran bunga dan kopinya.