
"Siapa dia, Pril?" tanya Jamal, sang ayah.
"Bukan siapa-siapa," jawab April dengan ketus.
"Kamu ini selalu melawan kalau diajak bicara," bentak sang ayah.
April melenggang ke dalam kamarnya. Setelah itu Jamal yang melihat sepeda April membawanya pergi. Dia berniat menjual sepeda itu agar dia bisa mendapatkan uang untuk berjudi.
April keluar setelah berganti pakaian. Dia tidak menyadari kalau ayahnya membawa pergi sepeda miliknya. Sesaat kemudian Azriel pulang dari main. "Kak, aku lihat bapak membawa sepedamu," adunya.
"Nggak apa-apa paling pergi ke warung depan," jawab April yang tidak memiliki pikiran negatif pada laki-laki pemabuk itu.
"April, Azriel yuk makan dulu," ajak Bu Dini. Wanita paruh baya itu meletakkan nasi dan lauk di atas meja.
"Wah hari ini masak tumis kangkung ya, Bu?" tanya April.
Bu Dini tersenyum. "Iya, nak. Ibu masak makanan kesukaan kamu," jawabnya. April memang anak yang mengerti kesulitan orang tuanya. Tidak seperti kebanyakan remaja seusianya yang foya-foya, nongkrong sama nongkrong sini. April malah membantu kesulitan ekonomi keluarganya. Baginya kerja seperti hobi. Dia melakukannya di waktu senggang dan menghasilkan uang. Walau capek dan tidak jarang dia mengeluh tapi April tidka pernah putus asa. Baginya segala sesuatu harus dilakukan dengan kerja keras.
April, adik dan ibunya makan bersama meski lauknya sederhana tapi mereka bahagia bisa berkumpul seperti itu. Kebahagiaan orang berbeda-beda cara mengukurnya. Antara satu dan yang lainnya tidak sama. Bagi April dan keluarganya dapat makan dengan lauk yang lengkap saja sudah merupakan hal yang mewah.
Di tempat lain, Erik yang sedang makan di meja sendirian jadi tidak berselera makan mengingat nasib anaknya yang tinggal di rumah sederhana. "Untuk apa aku punya rumah sebesar ini kalau anakku tinggal di rumah reot itu," gumam Erik seorang diri.
Dia tidak tinggal bersama istrinya, Wanda. Mereka berpisah setelah Erik mengetahui kelakuan Wanda yang membuang anak istri keduanya. Erik mengusirnya dari rumah. Wanda membawa serta Fabian. Mereka berpisah tapi belum bercerai. Erik tidak sempat memikirkan perceraiannya dengan Wanda karena bertahun-tahun dia sibuk mencari anaknya yang hilang. Sehingga nasib pernikahannya dengan Wanda pun menjadi tidak jelas.
Sementara itu Jamal yang membawa sepeda April menjualnya di pasar. "Laku berapa nih?" tanyanya pada sang pembeli.
"Sembilan ratus, Bang," jawab pembeli sepeda itu.
__ADS_1
"Gila aja Lo. Masa sepeda bagus gini cuma laku segitu," balas Jamal tak terima.
"Yah, Bang. Sepeda bagus kan curian juga ya kan?" bisik pembeli itu. Dia tidak percaya pada Jamal yang memiliki sepeda sebagus sepeda yang dia bawa.
Jamal mencengkeram kerah baju orang itu. "Sialan Lo. Lo kira gue ini pencuri?" bentaknya.
"Ampun, Bang. Saya minta maaf." Orang itu mengangkat tangannya.
'Hargai yang bener. Gue butuh uang sekarang!" ancam Jamal pada pembeli yang tak lain pemilik toko sepeda itu.
"Baik, baik. Akan saya ambilkan uangnya." Orang itu pun berlari ke mejanya untuk mengambil uang. Setelah itu dia menyerahkan uang sebanyak satu juta dua ratus ribu pada Jamal.
"Nggak bisa naik lagi nih?" tanya Jamal.
"Yahh itu sudah saya lebihin Bang uangnya." Jamal yang telah menerima uang itu pun memilih pergi.
"Lumayan juga nih uang. Untung gede nih kalau gini caranya," ucapnya senang.
"April, masuk nak nanti kamu masuk angin lho," pinta ibunya.
"Bapak kok nggak pulang-pulang ya Bu. Dia bawa sepeda aku," adunya. Bu Dini melihat kegelisahan di mata April.
"Kita tunggu di dalam. Jangan sampai kamu masuk angin, bukankah besok masih masuk ke sekolah?" April mengangguk setuju.
Saat pagi menjelang Jamal baru pulang ke rumah. Seperti biasanya dia pulang dalam keadaan mabuk. Bu Dini bangun lalu membukakan pintu untuk suaminya. "Kamu mabuk lagi, Pak?" tanya Bu Dini.
"Berisik," bentaknya.
__ADS_1
Bu Dini hanya menggelengkan kepalanya. Dia meninggalkan suaminya yang lucknut itu kemudian berlalu ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Setelah subuh sekitar pukul lima, April bangun. Dia ingin berangkat kerja setelah sholat subuh tapi dia tak melihat sepedanya. "Pak, di mana sepeda yang bapak bawa kemaren?" tanya April pada ayahnya yang sedang mabuk itu.
"Pak, bapak," teriak April saat Jamal tak menjawab.
"Aarrgh... Kamu ini mengganggu sekali. Sepedamu sudah aku jual. Unganya aku belikan minuman dan togel semalam," racaunya.
April menggeram kesal. Dia ingin sekali memukul ayahnya dengan palu rasanya. "Dasar pemabuk," umpatnya pada Jamal.
Jamal yang sayup-sayup mendengar umpatan April pun bangun dan membalasnya. "Tidak tahu terima kasih. Kami sudah membesarkan kamu hingga sebesar ini seharusnya kamu berterima kasih? Memangnya kamu bisa mengganti semua uang yang telah kami keluarkan untuk anak pungut sepertimu?" balas Jamal panjang lebar.
Sudah dua kali April mendengar dari mulut Jamal kala dia menyebut April sebagai anak pungut. "Apa perkataannya itu bisa dipercaya?" April merasa ragu.
Pagi ini terpaksa dia tidak keliling jualan koran. April pun bersiap-siap untuk bersekolah. Tapi berbeda dengan hari-hari sebelumnya hari ini April merasa tidak bersemangat. "April berangkat Bu," pamitnya pada Bu Dini.
"Pril, maafkan bapakmu yang keterlaluan itu," ucap Bu Dini yang merasa bersalah pada anaknya.
"Iya, Bu. Tidak apa-apa. April bisa naik angkot bareng Azriel." April tidak mau menunjukkan wajah sedihnya di depan sang ibu. Tapi Bu Dini tahu kalau April menahan rasa sedihnya. Sebelum pergi Bu Dini menyempatkan untuk memeluk putrinya.
"Ibu selalu berdoa untuk kebaikan kamu nak. Jangan bersedih ibu yakin Tuhan sedang merencanakan hal yang terbaik untukmu," ucap Bu Dini untuk menghibur gadis itu. April mengangguk.
Setelah berpamitan April mengajak Azriel berangkat ke sekolah bersama. Ketika mereka sedang menunggu angkot di pinggir jalan raya. Sebuah mobil yang mengantarnya kemaren berhenti persis di depan April berdiri.
"Selamat pagi," sapa Erik dengan senyum ramah yang menawan.
"Pagi, Om." April mengangguk hormat.
__ADS_1
"Siapa dia, Kak?" tanya Azriel pada sang kakak.
Sebelum April menjawab pertanyaan adiknya Erik lebih dulu berbicara. "Ini adik kamu ya?" tanya Erik. April mengangguk. "Ayo ajak dia naik sekalian. Om antar kalian ke sekolah." April dan Azriel jadi terkejut mendengarnya.