
Lovely tak percaya ketika ibunya menyebut nama April. Dia menangis karena gadis yang sudah dia anggap sebagai kakaknya itu tiba-tiba masuk rumah sakit. David langsung menggendong Lovely. "Kenapa menangis sayang?" tanya David.
"Kenapa kakak bisa sampai masuk rumah sakit? Apa dia makan roti lapis pedas seperti aku kemaren?" tanya Lovely dengan polosnya.
Sofia menghapus air mata gadis kecil itu. "Sang ibu menggeleng. Kak April terkunci di gudang sayang. Untung saja tadi ada mbak Tuti dan kawan-kawannya yang menyelamatkan Kak April."
Lovely menatap tidak suka pada Tuti. Tuti yang menyadari langsung pamit pulang. "Bu saya kembali ke toko dulu ya," pamitnya. Sofia mengangguk.
Setelah kepergian Tuti Lovely mengadu pada ibunya. "Ibu apa nggak curiga sama mbak-mbak yang baru saja pergi," kata Lovely.
"Kenapa sayang?" tanah Sofia.
"Kayanya dia sengaja kasih sambal di roti lapis aku kemaren," ungkap Lovely.
"Bukannya kamu bilang sendiri kalau Kak April yang memberikan roti lapis itu padamu?" tanya Sofia memastikan.
"Iya, Bu. Tapi saat itu karena roti milik Lovely ada semutnya. Kak April bersedia menukar roti miliknya dengan roti Lovely. Aku pikir kak April nggak tahu deh kalau roti buatan mbak Tuti itu ada sambalnya."
Sofia tersenyum. "Jangan berprasangka buruk pada orang lain kalau nggak ada bukti yang kuat sayang. Lovely masih kecil belum saatnya mikir sejauh itu, hm." Sofia berusaha menasehati Lovely.
Sesaat kemudian April sadar dari pingsannya. "Saya ada di mana?" tanya April pada orang-orang di sekelilingnya.
"Kamu di rumah sakit, Pril. Kami menemukan kamu pingsan di gudang. Apa yang terjadi saat itu?" tanya Sofia.
April memegangi kepalanya yang sakit. "Saya tidak ingat. Tiba-tiba saja saya terkunci ketika meletakkan barang," jawabnya dengan jujur. Dia memang tidak tahu kalau sebenarnya Tutilah yang mengunci dia di gudang.
"Baiklah, beristirahatlah dulu. Soal biaya rumah sakit jangan khawatir kami akan menanggung semua biaya rumah sakitmu," kata Sofia memberi tahu.
"Tidak usah, Bu. Saya pulang saja sekarang. Ibu saya di rumah pasti sangat khawatir saat ini. Saya lebih mencemaskan dia dari pada diri saya sendiri." Selain tidak enak pada Sofia April juga sangat mencemaskan ibu dan adiknya di rumah.
Sofia merasa April gadis yang hebat. Selain dia rajin bekerja dan sekolah, dia juga anak baik. "Saya antar kamu pulang ya," kata Sofia memberikan tumpangan. April mengangguk. Dia realistis karena saat ini sudah dipastikan dia tidak memegang dompet untuk cari angkot yang mau mengantarnya pulang ke rumah.
Sofia meminta perawat untuk melepas infusnya. Lalu mereka juga memberikan vitamin dan obat-obatan penunjang agar tubuh April kembali sehat.
Dengan sabar Sofia menuntun April hingga ke mobil. Lovely mengikuti dari belakang. Dia pikir kali ini dia harus bersikap anteng agar kakak kesayangannya itu tambah menyukainya.
__ADS_1
Lovely ikut mengantarkan April hingga ke rumahnya. Dia tak banyak bicara ketika di dalam mobil. "Berhenti di sini, Bu." Sofia pun menghentikan mobil yang dia kendarai.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Sofia. April menggelengkan kepalanya.
"Rumah saya masuk gang jadi lebih baik saya turun di sini," jawab April.
"Apa aku perlu ikut turun untuk menjelaskan pada orang tuamu?" tanya Sofia.
"Tidak usah Bu. Saya bisa mengatasi masalah ini sendiri," tolaknya dengan halus.
"Baiklah, salam buat mereka ya. Hari ini kamu bisa libur. Kembalilah jika sudah sehat," ucap Sofia lalu pergi. April mengangguk paham. Lovely melambaikan tangan pada April ketika mobilnya mulai berjalan.
April melihat ke sekeliling. Jangan sampai dia melihat ayahnya supaya dia bisa menghindari keributan. April berjalan mengendap-endap ketika memasuki rumah. "Dari mana saja kamu jam segini baru pulang, nak? Ibu sangat khawatir," tanya sang ibu.
April menghentikan langkahnya. "Ayah mana Bu?" tanya April.
"Keluar. Ibu tidak tahu ke mana. Jawab pertanyaan ibu dulu."
April mengajak ibunya duduk. "April terkunci di gudang tempat April bekerja, Bu. Pagi ini saat toko dibuka April baru bisa keluar," ungkapnya. April tak mengatakan pada ibunya kalau dirinya sempat dirawat di rumah sakit.
"Masyaallah kok bisa nak?" April menggelengkan kepalanya.
"Bu setelah makan aku boleh kan beristirahat." Sang ibu mengangguk mengizinkan.
Sementara itu Fabian berencana menyambangi rumah April bersama Diva usai pulang sekolah. "Fab kamu bawa mobil kan? Aku nebeng ya," seru Imam.
"Sorry, Tadz. Aku mau pergi sama Diva hari ini," tolaknya.
"Cie cie pacaran nih ye," ledek Axel. Fabian tak menanggapi. Sedangkan Aksa cuek dengan apa yang akan dilakukan oleh Fabian.
Aksa hanya curiga seharian ini dia tidak melihat April di sekolah. "Apa dia tidak masuk hari ini?" gumam Aksa dalam hati.
Fabian memasuki kelas Diva. "Diva kamu sibuk nggak?" tanya Fabian.
"Kenapa kak?"
__ADS_1
"Ke rumah April yuk. Perasaan aku tidak enak," jawab Fabian.
"Sama. Nggak biasanya dia nggak izin sekolah kaya gini." Diva sependapat dengan Fabian.
"Ya sudah berangkat sekarang, kebetulan aku bawa mobil," ajak Fabian. Diva pun mengikuti langkahnya hingga ke parkiran mobil. Mereka pun bersama-sama menuju ke rumah April. Diva pernah diajak April ke rumahnya ketika mengantarkan April pulang sekolah jadi dia tahu di mana rumahnya.
Tak butuh waktu lama Diva meminta Fabian menepikan mobilnya. "Kamu yakin mobilku aman ditinggal di sini?" tanya Fabian ragu.
"Ya habis mau gimana lagi kak. Rumahnya masuk gang sempit. Mobil kakak mana muat," balas Diva.
"Ya udah deh," ucap Fabian pasrah. Setelah itu keduanya turun dari mobil. Mereka menuju ke rumah April melewati gang sempit dengan berjalan kaki.
"Nih, rumahnya," kata Diva memberi tahu. Mereka berada di teras rumah yang bercat orange.
"Assalamualaikum." Diva mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
Ibunda April yang sedang memasak di dapur pun berjalan untuk membukakan pintu. "Waalaikumsalam. Siapa ya?" tanya Bu Dini, ibunya April.
"Kami temannya April, Bu," jawab Diva. "Aprilnya ada?"
"Oh sebentar saya bangunkan dia. Silakan masuk nak." Diva dan Fabian pun masuk ke dalam rumahnya.
Fabian mengamati rumah yang masih berdasar ubin dan atapnya yang tidak memakai plafon. Hanya genteng yang penuh dengan sarang laba-laba.
Sesaat kemudian April keluar. "Diva, kak Fabian." April kaget saat melihat keduanya.
♥️♥️♥️
Dian April Maharani
Dafi Aksa Bilal
__ADS_1
Fabian Raymond Partama