Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
Bantuan mama


__ADS_3

Raina memastikan kepergian suaminya. Lalu dia mencari kunci cadangan untuk kamar Sofia. Raina berhasil menemukan kunci lalu dia segera membuka kamar putrinya. Raina terkejut ketika Sofia tertidur di lantai sambil menangis. Raina buru-buru membangunkan anaknya.


"Bangun sayang." Raina membawa Sofia dalam pelukannya.


"Jangan menangis lagi sayang. Mama akan melindungi kamu."


Setelah lelah menangis Sofia tidur. Raina meninggalkan kamar putrinya itu. Tak lama kemudian Zidan datang ke rumah. "Ma," panggilan itu mengagetkan Raina.


"Kamu ini masuk rumah bukannya ngasih salam malah ngagetin mama," protes Raina pada putra bungsunya.


"Aku cari Mama dari tadi ternyata Mama di sini."


"Ada apa?"


"Mama ngapain dari kamar Kak Sofia?" Zidan malah balik tanya.


"Nggak ngapa-ngapain."


"Aku mau ngadain syukuran 4 bulanan istriku," terang Zidan.


"Baiklah, ayo bicarakan sambil duduk. Apa kamu sudah makan? Kalau belum makan dulu nanti kita bahas acara 4 bulanan kehamilan istrimu."


Sementara itu David kembali ke rumah sakit tanpa Sofia bersamanya. "Dokter, ada pasien di UGD yang keguguran," terang perawat yang habis berlari dari arah lain.


David langsung melangkahkan kakinya cepat. "Dena," seru David ketika melihat pasien yang tengah berbaring di atas brankar tersebut. David sangat terkejut. Kenapa Dena ada di sana sebagai pasien. Keguguran? Apa Dena hamil? Banyak pertanyaan yang membuat David penasaran. Namun, untuk saat ini prioritas utamanya adalah merawat Dena sebagai pasiennya.


Usai menjalani serangkaian perawatan, Dena dipindahkan ke ruang rawat inap. Tak lama kemudian Yudha datang bersama dengan seseorang. "Bagiamana keadaan putri saya?" Rupanya laki-laki yang bersama Yudha adalah ayah Dena.

__ADS_1


"Dia baik-baik saja. Kami telah melakukan kuretase jadi dia dalam masa pemulihan sekarang," terang David pada laki-laki yang dia duga adalah orang tua Dena.


Lalu David melirik ke arah Yudha seolah dia bertanya dalam diam. "Ada apa ini?"


Yudha tidak bisa berkata apa-apa pada David di depan rekan bisnisnya. "Farhan, aku permisi masih ada perkejaan yang harus aku selesaikan,"pamit Yudha pada ayah Dena. Lalu dia memberikan kode pada David agar mengikutinya.


"Jadi papa kenal dengan ayah Dena?" tanya David.


"Awalnya papa ingin menjodohkan kamu dengan putrinya tapi siapa sangka putrinya malah hamil di luar nikah," jawab Yudha dengan jujur.


"Jangan khawatir, Pa. Aku sudah mendapatkan gadis yang aku cintai sayangnya kamu terhalang restu orang tuanya."


Yudha menghentikan langkahnya. "Apa kamu butuh bantuan papa? Katakan!" Desak Yudha. Dia merasa kasian jika putranya mengalami kesulitan dalam hubungan percintaannya. Yudha tahu David bukanlah laki-laki yang mudah mencintai wanita. Sekali dia mencintai maka dia akan mempertahankan wanita itu.


"Sebenarnya wanita itu adalah dokter...." Belum selesai David mengumumkan nama kekasihnya pada sang ayah, Safa datang mencari keberadaan adiknya.


"Dave, ke mana saja? Aku mencarimu," ujar Safa.


"Aku ingin diperiksa. Bukankah ini jadwalku periksa? Aku ingin tahu apakah dia sudah bisa diketahui jenis kelaminnya?"


Mendengar hal itu, Yudha pun penasaran. Dia menyuruh David memeriksa Safa. Tentu saja Yudha ikut ketika putrinya diperiksa oleh adiknya sendiri.


"Semuanya bagus tapi tambah sedikit lagi berat badannya." David memberi saran.


Safa memegangi pipinya. "Perasaan aku sudah banyak makan tapi kenapa hanya berat badanku yang bertambah bukan bayiku?" Sofia bingung.


"Tambahin makan es krim biar bayinya gede."

__ADS_1


"Oh ya? Kalau begitu pulang kerja aku mau makan eskrim yang banyak," seru Safa. Siapa yang tidak suka rasa eskrim yang manis dan begitu melting di mulut.


"Bagaimana kalau papa yang traktir," sahut Yudha. Safa menerima tawaran ayahnya dengan senang hati. Berbeda dengan Safa yang begitu bahagia, David terlihat muram. Dia memikirkan bagaimana kelanjutan kisah cintanya dengan Safa.


Di tempat lain Julian mendatangi kantor Adrian. "Bisakah kita percepat acara pertunangan Adam dan putriku."


Adrian terkejut dengan kedatangan Julian tapi dia lebih terkejut lagi ketika Julian meminta putranya melamar Sofia. "Apa tidak terburu-buru? Apa mereka sudah jadian lagi?" tanya Adrian. Padahal dia tahu dari Adam kalau Sofia punya kekasih lain.


"Aku ingin Sofia menikah dengan laki-laki yang tepat." Diam-diam Adrian mengulas senyum tipis. Nasib baik seolah menghampirinya. Tanpa dia memohon pada Julian, anaknya itu diminta olehnya sendiri untuk melamar putrinya.


"Baiklah, akan aku sampaikan ke Adam jika ini maumu."


Setelah kepergian Julian, Adam tiba di kantor ayahnya. "Pa, aku baru saja melihat mobil Om Julian meninggalkan halaman kantor."


"Kita tidak jadi bangkrut, Dam. Kamu tahu, Julian memintamu untuk melamar anaknya segera." Adrian sungguh bahagia saat ini. Adam pun demikian. Tanpa dia melakukan perbuatan curang pun nasib baik seolah berpihak padanya.


"Bagaimana kalau langsung nikah saja, Pa. Aku bersedia menikahi Sofia sekarang juga," desak Adam. Adrian senang melihat putranya begitu bersemangat.


"Kita bicarakan setelah lamaran kamu resmi diterima. Ingat jangan gegabah. Strategi itu penting, Nak." Apa yang dikatakan oleh ayahnya itu ada benarnya juga. Adam tidak boleh terlalu memaksa Sofia. Dia akan membenci dirinya jika Sofia merasa pernikahannya dengan Adam semata hanya paksaan. Adam berpikir akan menaklukan hati Sofia secara perlahan. Toh, jalan begitu mulus ketika Julian merestui hubungannya dengan sang putri.


Sesampainya di rumah, Raina menyampaikan pada suaminya kalau menantunya akan mengadakan acara syukuran empat bulanan kehamilan anaknya yang kedua.


"Tidak, dalam waktu dekat aku akan membuat pesta pertunangan anak kita dengan laki-laki pilihanku," tegas Julian.


"Tapi Zidan sudah merengek agar mama membantunya mempersiapkan syukuran anaknya, Pa." Bagaimana pun Raina tidak mau melihat putrinya terluka. Dia harus bisa membatalkan acara pertunangan itu.


"Katakan padanya untuk menundanya. Acara pertunangan kakaknya juga penting," tegas Julian tak terbantahkan.

__ADS_1


"Pa, sudah berapa kali aku ulangi kalau Sofia sudah dewasa jangan paksa dia untuk menikah dengan laki-laki yang tidak dia cintai."


"Papa hanya ingin yang terbaik." Tatapan mata Julian sungguh tajam hingga membuat Raina bergidik ngeri.


__ADS_2