
Fabian memutuskan untuk tinggal bersama papa dan adik tirinya. Dia kecewa pada perilaku Wanda yang di luar batas. "Mama mohon jangan tinggalkan mama, Fab." Wanda memohon pada putranya itu.
"Aku kecewa pada mama. Meski April itu anak dari istri kedua papa, tidak seharusnya mama membuangnya sewaktu bayi."
"Apa yang dikatakan papamu itu tidak benar. Mama tidak pernah membuang bayi. Fia hanya berusaha menyalahkan mama agar punya alasan untuk bercerai," bohongnya.
Sayangnya Fabian tidak bisa percaya lagi dengan ucapan ibunya. "Maaf, Ma. Aku ingin bersama papaku. Sudah cukup mama memisahkan aku dengan papa. Mulai saat ini aku ingin hidup bersamanya."
Wanda merosot ke lantai. Dia tidak percaya putranya ikut berkhianat. "Jangan tinggalkan mama sendiri, Fab."
Fabian kembali ke rumah Erik. Dia membawa sejumlah pakaian dan seragam sekolahnya. "Fab, kamu yakin meninggalkan mamamu di rumah sendirian?" tanya Erik.
"Sementara ini Fabian mau habiskan waktu sama papa. Bukankah kita sudah lama tidak melakukan sesuatu bersama?" jawab Fabian. Erik tersenyum.
"Ayo aku tunjukkan kamarmu." Fabian mengikuti langkah ayahnya.
Mereka sampai di depan sebuah kamar. Rumah Erik begitu besar. Ada banyak kamar kosong yang belum ditinggali. Erik menunjukkan kamar di sebelah kamar April. "Itu kamar April. Papa mohon supaya kamu bisa akur dengan adikmu," pesan Erik pada putranya.
"Akan Fabian usahakan, Pa." Setelah itu Erik membiarkan anaknya beristirahat.
Keesokan harinya, April bangun lebih dulu. Dia ke dapur dan membantu asisten rumah tangga menyiapkan makanan. "Biar bibi saja, Non," larang Bi Tami.
"Nggak apa-apa, Bi," jawabnya. April lumayan cekatan menyiapkan makanan dengan menu nasi goreng pagi ini.
__ADS_1
Usai memasak, dia cepat-cepat bersiap untuk berangkat sekolah. "Alhamdulillah, sekarang sudah tidak perlu lagi jualan koran pagi-pagi," gumam April seraya bercermin.
Kamarnya sangat luas dan bagus. Interiornya sederhana tapi sangat elegan dan berkelas. April sangat bersyukur semalam bisa tidur di kasur yang empuk.
Tok tok tok
April bangun dari tempat duduknya kemudian ria membuka pintu. Erik tersenyum. "Papa kira kamu belum bangun. Ayo sarapan!" ajaknya. April mengangguk.
"Pagi, Pa. Pagi, Pril," sapa Fabian ketika baru turun dari tangga.
"Sarapan apa pagi ini?" tanya Erik pada asisten rumah tangganya.
"Nasi goreng, Tuan. Ini buatan non April," jawab Bi Tami.
Mendengar kata keluarga wajah April langsung berubah. Dia tiba-tiba mengingat saat-saat makan bersama ibu dan adiknya. Tapi April coba menahan kesedihannya itu di depan Erik dan Fabian. "Nggak semua makanan bisa, Pa. Tiap pagi aku jualan koran jadi biasanya ibu yang masak buat sarapan. Tapi itu jarang sekali karena kami tidak punya uang untuk menimbun bahan makanan."
Jawaban April membuat Erik dan Fabian merasa kasian. Erik rasanya menyesal tak menemukan anaknya dari dulu. Dia merasa bersalah karena April sudah menderita sejak lahir.
Fabian yang peka langsung mencairkan suasana. "Nanti berangkat bareng aku aja, Dek," sahut Fabian. Hati April terharu secara tak sadar Fabian mengakui dirinya sebagai anggota keluarga. April hanya mengangguk saat menjawab ajakan kakaknya. Walaupun dia masih sungkan pada Fabian meski faktanya mereka bersaudara.
Usai sarapan April ingin membereskan piring-piring kotor itu di meja. Namun, Erik melarangnya. "Biar Bi Tami yang melakukannya sayang. Berangkatlah ke sekolah bersama abangmu," tutur Erik pada putrinya dengan lembut. April tersenyum.
Gadis itu meraih tangan Erik kemudian menciumnya. "April berangkat ya, Pa."
__ADS_1
Erik mengusap kepala putrinya. "Baik-baik ya di sekolah. Papa menyayangimu."
April rasanya ingin menangis karena bahagia. Bersama Erik dia selalu mendengar kalimat yang belum pernah diucapkan oleh Jamal ketika menjadi ayahnya.
Fabian membukakan pintu mobil untuk saudaranya itu. Hari ini pertama kalinya mereka berangkat ke sekolah bareng.
Sesampainya di tempat parkir, semua orang memandang heran pada April karena satu mobil dengan Fabian. "Biasa aja ngeliatnya," ucap Fabian.
"Kak, aku masuk ke kelas aku dulu," pamit April karena merasa tidak nyaman.
Aksa yang baru datang langsung menepuk bahu sahabatnya. "Kamu udah bisa terima kalau ternyata April itu saudara kamu?" tanya Aksa pada Fabian.
"Mau bagaimana lagi. Walau kita beda ibu tapi aku dan dia memang satu ayah," jawab Fabian.
"Nah, mulai saat ini kita nggak akan musuhan lagi bukan, kakak ipar?" ledek Aksa.
"Cih, ogah punya adik ipar kaya kamu," elak Fabian. Dia berjalan lebih dulu meninggalkan Aksa.
"Fab, woi. Tungguin!" Aksa mengejar sahabatnya.
...♥️♥️♥️...
Segini dulu ya, selamat hari kasih sayang.
__ADS_1