Mencari Pasangan Surga

Mencari Pasangan Surga
On the way sah


__ADS_3

Sofia menangis. "Ya Allah aku harap ada keajaiban hari ini aku pasrahkan diri kepadamu ya Allah." Sofia berdoa dalam hati.


Ketika Adam sedang berjabat tangan dengan Julian untuk mengucapkan ikrar pernikahan, David tiba-tiba datang untuk menghentikan acara.


"Tunggu!" Teriak David dengan suara lantang.


Julian, Adam dan Adrian berdiri. "Berani sekali kamu merusak acaraku." Adam sangat geram. Hampir saja dia menjawab qobul tapi David tiba-tiba mengacaukannya.


Julian mendekat ke arah David lalu memukulnya. Semua orang yang melihat berteriak. Sofia juga terkejut ayahnya memukul David. Dia sampai menutup mulutnya karena tak percaya ayahnya bisa sekasar itu.


"Mau apa kamu?" Tantang Julian.


"Dia bukan orang baik yang seperti anda sangka," tunjuk David pada Adam dan Adrian.


"Apa maksud kamu?" Adrian merasa tidak terima.


David memutar rekaman percakapan Adam dan ayahnya. Dia mendapatkan rekaman tersebut dari anak buah Adrian yang menjual rekaman tersebut pada David. Orang itu memang sengaja ingin menghancurkan Adrian karena dia telah dipecat secara tidak hormat.


Julian mendengarkan suara Adam dan ayahnya. Dia merasa kecewa ketika mengetahui tujuan Adrian menjodohkan Adam dengan putrinya.


Seketika darah Julian mendidih. Dia beralih memukul Adrian. "Breng*sek aku sampai mengurung anakku karena aku mengira anakmu ini laki-laki yang baik untuk Sofia." Julian mencengkeram kerah kemeja Adrian.


"Jangan percaya pada perkataan dia. Ini semua fitnah." Adrian mencoba meyakinkan Julian agar tidak membatalkan pernikahan Adam dan Sofia.


Julian hampir saja memukul Adrian sekali lagi tapi Adam menahannya. "Tolong lepaskan ayah saya. Kami akan pergi. Tapi jangan sakiti dia," ucap Adam setengah memohon.


"Bawa pergi ayahmu. Jangan sekali-kali menampakkan batang hidung kalian lagi di depanku," ancam Julian pada Adam dan ayahnya.


Adam mengangguk paham. Pernikahannya dengan Sofia sudah tidak bisa dilanjutkan lagi. Dia kecewa tapi ini semua hasil dari perbuatannya. "Sofia maafkan aku, aku tidak bermaksud menipumu," ucap Adam dengan penuh penyesalan. Sofia tersenyum tipis pada Adam sebagai tanda kalau dia telah memaafkan laki-laki itu.


Adam membantu ayahnya berdiri kemudian mereka dan rombongannya pergi meninggalkan rumah Julian.


Julian memeluk Sofia untuk meminta maaf pada putrinya. "Maafkan papa Sofia. Papa pikir kamu bisa menikah dengan laki-laki yang baik."

__ADS_1


Sofia membalas pelukan ayahnya. "Sofia memaafkan papa."


"Pak, jadi pernikahan hari ini batal?" tanya penghulu.


"Tidak," seru David.


Dengan mengumpulkan keberaniannya dia berjalan mendekat ke arah Julian. "Izinkan saya menikahi Sofia." Jantungnya berdebar kencang. Dia menunggu jawaban Julian dengan muka babak belur habis dipukul.


Sama halnya dengan David, Sofia juga merasa berdebar. Akankah ayahnya merestui hubungan mereka. Apalagi David tiba-tiba ingin menikahi Sofia di tengah kisruh pernikahan yang batal sesaat yang lalu. Suasana menjadi tegang.


Julian menganggukkan kepalanya. Ikatan cinta mereka sangat kuat meskipun Julian telah beberapa kali memisahkan mereka. Kini harus dia akui kalau David menjadi pemenang setelah melalui banyak cobaan.


"Alhamdulillah." Semua orang bersorak gembira ketika mengetahui keputusan Julian. David pun memanggil ayahnya. Dia juga datang saat itu. David memang sudah menyiapkan hal ini. Dia yakin kalau dia bisa menggagalkan rencana pernikahan Adam dan Sofia lalu menggantikan posisi mempelai pria dengan dirinya.


"Selamat pagi, Pak Julian. Mungkin anda tidak bisa memilih besan lain selain saya," ledek Yudha.


"Saya sebenarnya ragu karena pernikahan ini rasanya aneh. Karena adik Sofia menikahi kakak David."


"Sebaiknya kita tidak menunda waktu," seru penghulu menyela pembicaraan Julian dan Yudha.


"Papa." Sofia memohon dalam diam.


"Papa merestui kalian," ucap Julian dengan pasrah.


David pun menjabat tangan Julian kemudian mengucapkan ikrar suci pernikahan meski dalam acara yang sederhana. David menyiapkan mas kawin berupa satu set perhiasan berlian.


Setelah sah dan menandatangani surat nikah, Sofia dan David bertukar cincin. Lalu Sofia mencium tangan suaminya. Kebahagiaan David tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Mimpinya menjadikan Sofia sebagai istri menjadi kenyataan.


Setelah itu David mencium kening Sofia agak lama. "Ehem." Suara deheman itu membuat David melepas ciumannya.


"Nanti diterusin lagi," ledek Zidan.


Leo juga hadir dalam pernikahan itu. Ada rasa sakit di dalam hatinya tapi dia juga ikut bahagia melihat Sofia bahagia. Meski dia dan Sofia tidak berjodoh tapi dia bahagia pernah singgah di hati wanita itu.

__ADS_1


Semua orang yang hadir menyalami Sofia dan David. Tidak banyak yang diundang bahkan mereka tidak mengundang keluarga besarnya karena itu pernikahan dadakan.


"Cie, cie yang sudah sah." Zidan seolah gemas kalau tidak menggoda kakaknya. Wajah Sofia jadi memerah karena malu. "Selamat, Bro." Zidan menepuk dada suami kakaknya itu. "Gue jadi bingung mo manggil lho apa?"


David tersenyum. "Panggil nama aja seperti biasa. Bukankah kita seumuran." David menaikkan alisnya lalu melirik ke arah istrinya.


"Sayang," panggil Raina. Sofia memeluk ibunya. "Alhamdulillah sayang. Allah mendatangkan rejeki yang tidak terduga." Sesaat kemudian Raina melepas pelukannya.


"Iya, Ma."


"David, mama serahkan Sofia pada kamu." Raina meraih tangan Sofia kemudian menyatukannya dengan tangan David. "Mama harap rumah tangga kalian sakinah, mawaddah, warohmah."


"Amiin," jawab Sofia dan David secara kompak.


Setelah itu Julian mendekat ke arah putrinya. David tersenyum pada ayah mertuanya meski dalam hatinya ada rasa takut. Julian memeluk David untuk pertama kalinya. "Jaga putriku baik-baik. Kini aku serahkan tanggung jawab padamu."


"Saya berjanji akan menjaga dan menyayangi Sofia sepenuh hati, Om."


"Papa." Julian membetulkan panggilan David padanya. David tersenyum karena Julian sudah menerimanya. Dia harap tidak ada lagi drama yang akan memisahkan dirinya dengan Sofia.


Acara pernikahan hari ini pun usai. Semua tamu undangan pulang ke rumah mereka. "Dave, aku pulang dulu. Kamu baik-baik ya di sini," pesan Safa pada adiknya itu.


David memeluk kakaknya yang sedang hamil lima bulan. "Tidak usah khawatir fokus saja menjaga kehamilanmu. Doakan istriku segera menyusul," bisik David pada Safa. Safa memberikan pukulan di bahu David.


"Ya buatlah sebanyak yang kamu mau," balas Safa.


"Uhuk-uhuk." Sofia tersedak ketika dia mendengar ucapan Safa. Dia bukan anak polos yang tidak mengerti maksud perkataan Safa. Wajahnya memerah ketika Safa dan David menoleh ke arahnya lalu tertawa.


"Sayang, ayo kita pulang," ajak Zidan. "Malam ini kita tidak boleh kalah dari pengantin baru ini," godanya pada sang istri.


"Hei, jangan main kasar pada kakakku atau kalian akan menyakiti janinnya," seru David memperingatkan.


Sofia ingin sekali menutup kupingnya ketika mendengar omongan absurb suami dan saudaranya.

__ADS_1


__ADS_2