
"Sial kita gagal. Bos akan marah kalau kita kehilangan anak itu," ucap salah seorang dari kawanan orang yang akan menculik April menggunakan mobil. Mereka pun pergi dari tempat itu.
Kedua orang yang berada di dalam mobil menyisir lokasi di sana. "Nihil. Sebaiknya kita kembali. Besok kita cari lagi gadis itu," usul salah satu temannya.
Sedangkan di tempat lain, di sebuah gudang kosong April dan Jamal bersembunyi. Tapi April merasa ketakutan. "Pak di mana ini?" tanya April. Sayangnya Jamal telah diam-diam meninggalkan anaknya.
April mencari-cari keberadaan Jamal. "Apa maksudnya ini? Apa bapak sengaja meninggalkan aku?" tanya April pada dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, seorang laki-laki yang seumuran dengan Jamal datang menemui April. "Siapa kamu?" bentak April. April berjalan mundur.
Laki-laki itu tertawa lantang. "Jangan takut garis manis. Aku laki-laki yang selalu memperlakukan wanita dengan halus," godanya.
April melempar segala sesuatu yang ada di ruangan itu supaya laki-laki itu menjauh. "Pergi kamu!"
Brug
Kaki April tersandung hingga membuatnya jatuh ke lantai. April sungguh berharap ada seseorang yang bisa menolong dirinya.
Brak
Suara pintu yang ditendang secara kasar oleh Fabian membuat laki-laki itu menoleh. Ya, Fabian yang berniat datang ke rumah April ketika merasakan firasat buruk. Namun, dia malah melihat April berlari bersama Jamal. Dia yang curiga akhirnya mengikuti ke mana April dan laki-laki yang membawanya itu pergi.
Fabian telah melawan para penjaga yang berada di luar. Dia menggunakan sebatang balok untuk menghajar mereka.
"Bocah sialan! Bagaimana kamu bisa melewati penjaga di luar?" tanya laki-laki yang akan berniat jahat pada April.
Fabian memberikan kode pada April agar meninggalkan tempat itu. April pun berusaha bangkit dan berjalan perlahan. Namun, baru berjalan beberapa langkah tangan laki-laki itu menarik kaos April hingga sobek.
Fabian yang geram lalu memberikan bogem mentah pada laki-laki itu. Sayangnya tubuh yang besar membuat pukulan Fabian hanya seperti sapuan kecil di punggungnya. Fabian malah mendapatkan serangan balik dari laki-laki bertubuh besar itu.
__ADS_1
April hanya bisa menangis melihat Fabian dipukuli. Sesaat kemudian April melihat handphone Fabian terjatuh. Dia pun menelepon nomor Aksa untuk meminta bantuan. "Angkat kak, tolong!" gumamnya sambil menunggu balasan.
"Hallo," suara itu membuat April tersenyum.
"Kak tolong Kak Fabian. Dia sedang dihajar oleh penjahat," lapor April
"Kamu di mana, Pril?" Belum sempat April menjawab handphone itu direbut oleh laki-laki jahat itu.
Dia membanting handphone yang dipegang oleh April. April menggeleng kuat dan hanya bisa pasrah. "Ya Allah aku tidak pernah meminta sesuatu padamu. Kini selamatkan aku!" batin April sambil menangis.
Fabian yang telah dihajar habis-habisan berusaha bangun. Dia melihat ke sekeliling dan menemukan pecahan beling. Fabian pun mengambil beling itu dan menusukkan ke bahu laki-laki itu. "Aaa..." rintihnya kesakitan.
"Pril ayo pergi!" ajak Fabian. Mereka berlari meninggalkan tempat itu. Tapi ketika Fabian akan memasuki mobil dia ambruk begitu saja. April menangis ketakutan. Dia bingung apa yang harus dia lakukan pada Fabian
"Kak, bangun! Tolong bangun!" Sayup-sayup Fabian mendengar suara tangisan April.
Tak lama kemudian Aksa, David dan Erik datang bersama tapi mereka tidak satu mobil. Mereka datang ke lokasi dengan bantuan GPS. Erik melihat gadis yang dia duga putrinya itu terlihat berantakan sambil memangku Fabian.
April yang merasa ketakutan pun akhirnya pingsan. "Om jangan salahkan April. Apa Anda tidak lihat April juga terluka?" Aksa segera menggendong kekasihnya lalu dia membawa April ke mobil.
David memeriksa sekitar tempat itu ternyata ada beberapa orang yang terluka. Dia juga memeriksa bis rentenir yang terluka di bagian bahunya akibat serangan dari Fabian. David pun mendekat memeriksa apakah dia masih hidup atau sudah ma*ti. "Masih bisa tertolong," ucapnya ketika mendapati laki-laki itu masih bernafas. David pun memanggil ambulans dan polisi ke tempat dia berada. Setelah itu David keluar.
"Rik, kita bawa anakmu ke rumah sakit sekarang!" perintah David pada sahabatnya itu. Dia bisa melihat rasa kekhawatiran yang begitu besar pada laki-laki itu.
David membantu Erik mengangkat tubuh Fabian ke dalam mobil. "Biar aku yang bawa mobilnya," kata David. Dia merasa kasian pada Erik.
Aksa yang melihat sang ayah mengendarai mobil milik Erik akhirnya memutuskan untuk menyetir mobil ayahnya. Dia bersama April menuju ke rumah sakit mengikuti mobil yang dibawa sang ayah dari belakang.
Sesampainya di rumah sakit, April dan Fabian segera dirawat oleh para perawat di rumah sakit tempat David dan Erik bekerja.
__ADS_1
"Rik, kamu nggak mengabari istrimu?" tanya David pada sahabatnya.
"Belum, nanti aku akan menghubunginya. Bagaimana keadaan April?" tanya Erik pada David.
"Tenanglah dia baik-baik saja. Apa hasil tes DNA nya sudah keluar?" tanya David.
"Belum, kemungkinan besok baru keluar. Apakah kita perlu mengabari orang tua April?" tanya Erik meminta pendapat temannya itu.
"Tentu saja. Kamu juga bisa sekalian bertanya pada orang tuanya mengenai April pada mereka," usul David.
"Baiklah, aku akan mengabari Wanda dulu kemudian nanti aku akan beri tahu orang tua April," kata Erik.
"Biar saya saja yang mengabari orang tua April, Om," sahut Aksa. David dan Erik mengangguk setuju.
"Baiklah, tapi sebaiknya kabari besok pagi saja. Ini sudah terlalu larut," kata David seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Aksa, David dan Erik masih menunggu di rumah sakit. Aksa menunggui April yang terbaring tak sadarkan diri. Sesaat kemudian April membuka mata. "April kamu sudah siuman?" tanya Aksa merasa lega.
"Mana Kak Fabian?" Yang April ingat hanya bayangan Fabian yang terluka parah.
"Dia dirawat di ruangan lain," jawab Aksa. April menyibak selimutnya lalu dia berniat bangun.
"Kamu mau ke mana?" tanya Aksa.
"Aku ingin lihat keadaan Kak Fabian," jawab April memaksakan diri.
"Dia belum sadar. Apa kamu tidak ingin menceritakan apa yang terjadi padamu? Bagaimana dengan Fabian? Kenapa dia bisa ada bersamamu?" cecar Aksa.
April menghela nafas. "Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Saat itu yang kuingat ketika Bapak meninggalkan aku seorang diri di gudang itu lalu datang seorang laki-laki yang ingin berbuat jahat padaku. Entah dari mana datangnya Kak Fabian tiba-tiba dia berada di sana. Aku tidak bisa berbuat apa-apa ketika laki-laki jahat itu menghajarnya."
__ADS_1
April menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan karena menangis tersedu-sedu di depan Aksa. Aksa pun memeluk April supaya gadis itu lebih tenang.
Di ambang pintu Erik melihat Aksa yang sedang menenangkan gadis itu jadi bertanya-tanya. "Apa April berpacaran dengan anak David?" gumam Erik seraya memperhatikan interaksi kedua remaja itu.