
Saat mendengar kata maaf yang terucap dari mulut Sofia, David malah bertanya. "Untuk apa meminta maaf? Apa kamu menyesal sudah menyakiti hatiku?" Cecar David. Matanya menatap ke dalam mata Sofia. Emosinya hampir saja tak bisa dia kontrol.
"Aku tanya sekali lagi apa kamu mencintainya? Apa kamu menyukai laki-laki itu?" tanya David. Sofia tak menjawab tapi matanya memerah dan setetes air mata keluar dari ujung matanya. Namun, cepat-cepat dia seka menggunakan tangannya. Sofia berbalik meninggalkan David.
David bisa menyimpulkan kalau Sofia tidak mencintai laki-laki itu. "Apa mereka dijodohkan?" Setahunya Sofia tidak dekat dengan siapa pun kecuali mantan pacarnya dulu, Leo. Tapi kini mereka sudah tidak pernah berhubungan lagi. Tidak salah lagi mereka dijodohkan oleh orang tuanya, pikir David.
David pun mencari ide agar Sofia bisa mengungkapkan perasaannya. "Baiklah, aku tidak akan mengganggumu sementara waktu karena aku juga akan mencari seseorang yang bisa mengobati luka hatiku. Jika tidak kutemukan maka aku yakin tidak ada yang menggantikan posisimu."
David pun mendatangi ayahnya. "Ada apa ini? Tumben sekali kamu menghadap papa?"
"Aku ingin meminta bantuanmu, Pa." Yudha merasa aneh dengan sikap David karena baru kali ini dia meminta bantuannya. Biasanya David akan mengerjakan sendiri sesuai kemampuannya tanpa mau mendapat bantuan orang lain.
"Katakan!"
"Kenalkan aku pada anak rekan bisnis papa!" Yudha tidak menyangka kalau anaknya ini tidak sabar memiliki pasangan. Sudah lama David tidak menggandeng wanita.
Yudha tertawa renyah. "Ada angin apa kau ingin dikenalkan pada seorang wanita? Apa kau sudah tidak sabar untuk menikah?" Ledek sang ayah.
"Aku hanya tidak ingin dibilang jomblo akut. Papa tahu kalau aku ini tampan tapi tidak seorang wanita pun yang tertarik padaku bukankah itu lucu." David meyakinkan ayahnya agar mau mengenalkan dia pada anak rekan bisnisnya.
Kenapa kamu tidak cari dari kalangan dokter saja?" David merasa tersindir.
"Mereka tidak ada yang tertarik padaku," kilahnya.
"Baiklah, mungkin aku akan tanya-tanya para investor jika sedang ada rapat nanti," kata Yudha.
"Oke, jangan lama-lama aku tunggu secepatnya." David meninggalkan kerja ayahnya.
__ADS_1
Sementara itu Sofia masih memikirkan cara agar dia tidak jadi menikah dengan Adam. Sofia yakin ayahnya dan ayah Adam pasti sudah membicarakan perihal masa depan mereka kedepannya.
Sofia pun menemui ibunya untuk meminta saran. Ini kesempatan Sofia sebelum Julian pulang ke rumah. "Ma, apa aku boleh bicara sebentar?"
"Duduk sini, Nak." Raina menepuk sofa yang kosong di sampingnya. "Mau bicara apa? Katakanlah!" Ucapnya dengan lembut.
Sofia meremat jari-jarinya yang dingin. Dia takut salah bicara yang akan berujung dengan kesalahpahaman. Sofia menarik nafas dalam agar dia lebih tenang.
"Ma, ini soal perjodohan aku dengan Mas Adam." Kening Raina berkerut mendengar ucapan putrinya.
"Aku ingin membatalkan perjodohan ini," ucap Sofia dengan ragu.
"Mama sudah tahu kamu akan menolak. Dari awal kamu tidak bersemangat menerima perjodohan ini. Apa mama boleh tahu alasan kamu menolaknya?"
Sofia berpikir sejenak. "Bukankah rumah tangga yang tidak didasari dengan kasih sayang satu sama lain itu tidak akan bahagia?" Sofia menjawab dengan pertanyaan.
"Jadi kamu tidak mencintai Adam? Lalu kenapa waktu itu Adam mengabarkan pada ayahnya kalau kalian jadian? Apa dia memaksamu?"
Raina menggenggam kedua tangan putrinya. "Katakan dengan jujur apa kamu punya seseorang yang kamu suka?" Sofia mengangguk sambil menundukkan kepalanya.
"Siapa? Apa Leo?" Sofia kembali mendongak .
"Bukan dia, Ma. Kami sudah lama tidak menjalin hubungan." Dari situ Raina tahu kalau selama ini Sofia diam-diam pacaran dengan Leo.
"Kenapa kamu putus dengannya? Bukankah Leo orang yang sangat bertanggung jawab?" Sofia menanggapi sini omongan ibunya.
"Jangan melihat buku hanya dari bungkusnya saja, Ma. Sesuatu yang kelihatan bagus belum tentu isinya bagus." Sofia tidak menjelaskan secara detail tapi itu cukup memberi jawaban pada ibunya kenapa dia putus dengan Leo.
__ADS_1
"Baiklah, lalu siapa laki-laki itu? Apa dia teman kerjaku?" Sofia mengangguk. Ibunya itu memang pandai menebak. Raina tidak ingin mengetahui nama laki-laki itu sekarang yang dia harus lakukan adalah memberi saran pada putrinya itu. Dia mengerti dipaksa menikah dengan orang yang tidak dicintai itu sangatlah sulit. Apalagi orang itu adalah anak kandungnya. Jangan sampai anaknya tidak bahagia dengan pernikahannya nanti
"Bicara jujur pada papamu!"
"Tidak, Ma. Papa terlalu keras orangnya. Mama ingat ketika dia melarang Zidan menikah dengan Dokter Safa yang notabene janda beranak satu? Aku tidak bisa mengendalikan amarah papa, Ma. Aku takut durhaka."
"Kalau begitu bicara baik-baik sama Adam. Katakan yang sebenarnya kalau kamu punya pilihan lain."
"Itu yang sedang aku pikirkan, Ma. Bagaimana bicara dengannya? Aku juga tidak mau ada yang tersakiti."
"Pasti akan ada yang tersakiti sayang. Tapi lebih baik jika kamu utarakan keinginan kamu sekarang sebelum hubungan kalian terlanjur dibawa ke jenjang yang lebih jauh. Putus di saat pacaran itu wajar bukan? Asalkan jangan sampai bercerai ketika telah berumah tangga."
Sofia mencerna omongan ibunya itu dengan baik. Ya, dia harus ambil sikap supaya masa depannya jelas karena dia yang akan menjalani kehidupannya bukan sang ayah. Dia tidak bermaksud membangkang tapi hanya menentukan pilihan.
Sofia pun masuk ke dalam kamar setelah berdiskusi dengan ibunya. Tak lama kemudian Adam menelepon. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Sofia. Aku hanya ingin memberi tahu kalau besok aku ingin mengajak kamu ke acara perayaan tahun baru di tengah kota."
Sofia pikir ini kesempatan untuk bicara sama Adam. "Baik, Mas."
"Aku akan meminta izin langsung pada ayahmu supaya dia tidak mengkhawatirkan putrinya."
"Iya, Mas. Sampai ketemu besok." Setelah menutup telepon Sofia mengambil air wudhu. Menunaikan kewajibannya sebagai muslim kemudian berdoa pada Sang pemberi nyawa.
"Ya Allah aku berserah diri padaMu. Semoga Engkau lancarkan urusanku. Tetapkan keputusanku berilah petunjuk agar aku tak menyesali perbuatanku kelak. Yang terpenting semoga Mas Adam dan keluarganya mau menerima keputusanku. Lembutkan pula hati ayah hamba yang keras."
Hari yang ditunggu Sofia pun tiba. Malam ini Adam mengajaknya untuk bermalam mingguan sekaligus merayakan pergantian tahun baru seperti pasangan muda mudi lainnya.
__ADS_1
Adam mengajak Sofia melihat karnaval dan pertunjukan lainnya. Sebenarnya dia sangat menikmati sampai tak sengaja matanya melihat seseorang yang dia kenal menggandeng wanita asing. Setelah itu tangannya naik untuk merangkul bahu seolah mereka adalah pasangan kekasih.
"Siapakah dia?" gumam Sofia.