
Terik matahari membakar kulit tubuh Rose siang ini. Rose berpamitan kepada Bu Ati untuk keluar mencari buku materi ke perpustakaan daerah. Sesekali Rose menghapus peluh yang menetes di keningnya. Sebenarnya bisa saja Rose menggunakan fasilitas kendaraan umum atau minta diantar Satya ke tempat tujuannya,namun Rose hari ini ingin pergo sendiri. Janti teman satu kamarnya yang biasanya mengikuti kemanapun Rose pergipun, saat ini tak di pamitinya.
Rose mencari buku yang di butuhkannya. Setelah mendapatkan apa yang di inginkannya,Rose mencari tempat yang di rasanya agak tersembunyi. Di bukanya buku yang ada di hadapannya,namun tqk sedikitpun yang masuk ke dalam otaknya.
Pikirannya menerawang. Pertemuannya dengan kedua orang tua Nugraha beberapa hari yang lalu,membebani pikirannya. Ada yang di rasanya sangat aneh.
"Seandainya Nugraha baik-baik saja,pastinya dia akan menghubungiku. Kalaupun saat ini Nugraha sedang dalam tugasnya ke daerah konflik,mengapa Nug nggak berkirim kabar lewat surat dan menitipkannya kepada mama papa. Apa sebenarnya yang terjadi ?" pertanyaan Rose muncul dalam hatinya. Pandangannya menerawang. Nampak Rose memijat alisnya yang hitam tebal dan tertata rapi. Rasa pusing akhir-akhir ini sering muncul.
Entah suatu kebetulan atau bukan, Satya menangkap bayangan tubuh Rose sedang duduk sendiri.
" Boleh saya duduk di sini mba....?" tanya Satya.
"Silahkan...." jawab Rose tanpa melihat Satya. Pikirannya benar-benar kalut memikirkan Nugraha. Semuanya tak lepas dari pengamatan Satya yang tak jauh darinya.
__ADS_1
Satya merasa iba melihat gadis pujaannya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Di pandanginya buku di hadapan Rose dengan posisi terbuka namun tak pernah terbaca,Satya tahu itu,karena halaman yang nampak tak pernah berubah.
"Kenapa Rose akhir-akhir ini berubah sangat pendiam dan tampak bersedih ?" monolog hati Satya melempar tanya.
Tiba-tiba Satya melihat tetes-tetea air mata jatuh menimpa halaman buku yang terbuka. Diangsurkannya sapu tangan yang selalu terselip di saku celananya." Untung sapu tangan ini belum aku pakai "pikir Nugraha.
Rose menerima sapu tangan yang di ulurkan ke hadapannya,dan di usapnya kristal bening yang keluar dari matanya.
"Kamu disini....?" tanya Rose lirih.
"Iya mba.....tadi aku kesini bareng mas Jati,tapi mas Jati di jemput temannya dan sudah pergi lagi." jawab Satya.
"Dan aku nggak sengaja melihat mba disini. Sepertinya lagi serius baca sampai nggak nyadar aku duduk di dekat mba." kembali Satya berkata.
__ADS_1
"Iya....ternyata kamu yang minta ijin tadi..maaf nggak nyadar." kata Rose sambil menundukkan kepalanya.
"Bagaimana mau nyadar mba.....lha lihat halaman buku kaya lagi jagain lilin supaya nggak padam,sampai nggak kedip,air matanya sampai menetes-netes...." goda Satya sambil terkekeh.
" Bisa aja kamu....! Jawab Ana sambil menahan malu. Lagi-lagi Satya melihat sisi rapuhnya.
"Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan aja mba....
Ya sekalian refresing. Daripada kita suntuk. Siapa tahu habis refresing kita punya pemikiran baru,pikiran fresh dan yang jelas tugas kuliah kita jadi lancar ." kata Satya.
"Kemana....?" tanya Rose.
"Mata kita perlu lihat yang hijau-hijau dengan udara yang sejuk kelihatannya mba. Kita jalan-jalan ke gunung.....setuju.......?" tanya Satya. Dirinya tahu gadis di depannya sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Satya ingin mencintai dan menghibur dengan caranya.
__ADS_1