
" Fan......akhirnya Rose mau aku ajak nikah segera. Aku bahagia banget Fan.....nggak ada lagi orang yang akan menggangguku lagi ." seru Nugraha setelah mengakhiri pembicaraanya dengan Rose. Wajahnya nampak berseri-seri. Dan sakitnya seakan hilang dari tubuhnya.
" Syukurlah Nug....toh kamu sudah bertunangan cukup lama. Kenapa juga kemarin-kemarin kamu tunda?" tanya Irfan
"Karena Rose masih kuliah. Dan ada perjanjian kalau belum selesai kuliahnya tidak di ijinkan menikah dahulu." jawab Nugraha.
"Berarti sekarang tunanganmu sudah lulus kuliahnya Nug....?" tanya Irfan lagi.
"Belum.....masih kurang satu tahun." jawab Nugraha. Namun dari nada bicaranya sedikit melemah. Mungkin kesadarannya mulai kembali setelah emosinya memuncak tadi.
"Luar biasa tunanganmu....merelakan cita-citanya dan menuruti kemauanmu untuk segera di nikahi. Apa kamu nggak kasihan Nug.....mematahkan harapannya dan harapan orang tuanya." jawab Irfan. Irfan merasa jika Nugraha terlalu egois dan terlalu memaksakan kehendaknya.
__ADS_1
"Apa aku terlalu memaksa Fan......aku nggak mengerti perasaannya berarti ya......?" tanya Nugraha. Wajahnya nampak sendu. Keceriaan yang tadi dirasakkannya tiba-tiba menghilang. Harapan dan kebahagiaannya yang begitu melambung,kini bagaikan terhempas ke dalam jurang yang terjal. Hatinya tiba-tiba terasa sakit. Nugraha merasa sangat bersalah kepada Rose.
"Fan......apa Rose akan membenciku karena aku memaksakan keinginanku tadi ya......" kata Nugraha sambil menyunggar rambutnya. Pikirannya berasa kalut.
" Tak usah kamu risaukan keinginanmu tadi. Aku yakin tunanganmu mengerti kondisimu. Dengan jawaban setujunya,pasti tunanganmu sudah memperhitungkan kondisimu saat ini. Yang terpenting saat ini kamu harus sehat,harus bisa menunjukkan keseriusanmu tentang hubungan kalian. Berfikir pelan-pelan dan ambilah keputusan dengan kepala dingin. Jadi nantinya tidak akan ada yang di rugikan." nasihat Irfan untuk Nugraha.
"Iya Fan....makasih banget kamu sudah mengingatkan. Aku terlalu ceroboh dan bodoh. Padahal semuanya tergantung pada diriku sendiri. Sekalipun Ana memyatakan perasaannya,tapi kalau aku tidak menanggapinya,tentu tak akan terjadi seperti yang aku khawatirkan akhir-akhir ini." jawab Nugraha. Kini hatinya berasa lebih tenang. Nugraha berjanji pada dirinya sendiri untuk membicarakan kembali keinginannya.
"Bagaimana saudara Nugraha.....sudah lebih baik, atau masih pusing sekali ?" tanya dr. Harun basa -basi.
"Eh maaf dr. Harun. Puji Tuhan sudah lebih baik. Malah bisa di bilang sudah sehat ini. Kapan boleh pulang ya Dok....?" jawab Nugraha.
__ADS_1
"Sudah kepingin pulang apa ?" tanya dr. Harun sambil terkekeh.
"Iya Dok.....capek tiduran di rumah sakit." jawab Nugraha.
"Terima kasih ya Dok....saya sudah di ijinkan untuk melakukan sambungan telephon interlokal. Nanti masukkan ke rekening pengobatan saya saja biaya telephon tadi ." kata Nugraha selanjutnya. Nugraha merasa sangat beruntung bisa berkomunikasi dengan Rose tanpa harus keluar rumah sakit.
"Sama-sama saudara Nugraha. Santai saja. Anggap saja ini sebagai obat. Karena obat orang sakit bukan hanya yang harus di minum,tapi berkomunikasi dengan keluarga yang saling mendukung,juga termasuk obat yang mujara. Bukan seperti itu saudara Irfan ?" sambil tersenyum melemparkan pertanyaan kepada Irfan.
"Betul Dok.....keluarga adalah segalanya." jawab Irfan. Dan akhirnya Nugraha dan Irfan meninggalkan ruangan dr. Harun untuk kembali ke kamar opnamnya.
Sepeninggal Nugraha dan Irfan,dr. Harun duduk bersandar di kursi kebesarannya. Pikirannya kembali kepada Ana. Dr. Harun merasa jika Ana akan sulit untuk mendekati Nugraha. Karena mendengar pembicaraan yang tadi di dengar,hubungan Nugraha dan tunangannya begitu harmonis.
__ADS_1
Ya...dr. Harun tadi diam-diam mencuri dengar dengan pesawat telephon yang di pararel di kantornya. Setiap kata dan kalimat pembicaraan bisa terekam jelas di pendengarannya. Dr. Harun tahu tindakannya salah mencuri dengar pembicaraan orang lain ,dan tahu jika tindakannya bisa di pidanakan. Tapi demi Ana,putra sahabatnya,keingin tahuannya mengalahkan semuanya.