
"Malam ini aku harus mengutarakan perasaan cintaku untuk Rose. Walaupun aku yakin,kalau Rose akan menolakku." pikir Satya dalam hati.
Selepas maghrib Satya menuju asrama putri. Malam ini Satya akan mengajak Rose untuk makan malam bersama. Keduanya pergi berboncengan dengan sepeda motor kesayangan Satya.
Keduanya telah sampai di rumah makan apung. Yaitu rumah makan dengan saung-saung kecil berada di atas kolam. Nuansa yang di sajikan nampak sangat cantik, rumah-rumah bambu dengan lampu-lampu hias di setiap sudut bangunan,menambah suasana romantis bagi para pengunjung,terutama bagi pasangan-pasangan yang ingin perbincangan mereka terjaga privacinya.
"Kenapa pilih rumah makan yang mewah seperti ini. Mahal pasti ini ?" komentar Rose sambil melihat-lihat sekiling saung yang sudah di pesan Satya.
"Kalau cuma buat makan,kenapa kita nggak ke nevada lagi. Itu sangat pas untuk kantong kita." protes Rose.
"Sekali-kali juga nggak papa kan mba.....lagian ini juga rekomendasi Ayah dan Ibu.....!kata Satya.
"Maksudnya ?"tanya Rose kurang paham.
"Ayah sama Ibu bilang.....sekali-kali mba Rose diajak makan bareng di tempat yang bagus. Masa udah di tolongin malah di ajak makannya di angkringan atau tempat lesehan terus."kata Satya. Sambil memandang wajah Rose intens.
"Ini sich kamu aja yang terlalu berlebihan menurutku. Coba bayangin aja. Nanti makan di sini budgetnya bisa buat kita makan di angkring 10 kali bahkan mungkin lebih." kata Rose. Dia merasa nggak enak di perlakukan istimewa dengan pertolongan yang biasa-biasa saja menurutnya.
"Untuk orang yang teristimewa.....nggak ada salahnya juga memberikan hal yang sepadan ." kata Satya.
"Istimewa apanya ?" tanya Rose menimpali komentar Satya.
__ADS_1
" Istimewa.......menunya sudah datang. Kita makan dulu nanti lanjut ngobrol lagi. Karena ngobrol juga butuh energi." kata Satya menjeda perkataannya sambil tertawa.
Nila bakar lengkap dengan sambal terasi dan lalapnya,juga seporsi cha kangkung masih mengepul. Aromanya menggelitik cacing-cacing di perut yang tak sabar ingin berpesta.
Mereka berdua menikmati makanan yang di sajikan. Posisi duduk saling berhadapan dengan sesekali di selingi obrolan ringan yang terkadang membuat mereka harus tertawa bersama.
"Sat.....aku boleh minta sambelmu nggak.....kurang nich sambelnya."pinta Rose kepada Satya.
"Jangankan sambel.....hatiku kamu minta pun dengan senang hati dan sukarela aku serahkan..." kata Satya menimpali.
"Ya udah.....aku minta sekalian hatimu. Biar di masak sama koki nya. Tak suruh bikin balado ati Satya,yang super duper puedes pokokya......" sahut Rose sambil mencomot sambal di hadapan Satya.
"Di telen dulu baru ngomong.....kesedak baru tau rasa....." komentar Rose melihat Satya makan sambil ngomong.
"Mba.....aku boleh ngomong serius nggak...?" tanya Satya setelah mereka selesai makan.
" Ngomong aja....aku dengerin ." jawab Rose sembari minum lemontea kesukaannya.
"Tapi aku mohon.....apapun perkataanku nanti, mbak suka atau nggak suka,mba terima....atau nggak di terima,tidak akan berpengaruh dengan pertemanan kita. Akan seperti ini selamanya." pinta Satya kepada Rose.
"Kamu mau bicara apa sebenarnya sich....bikin penasaran aja." jawab Rose sembari memperhatikan Satya.
__ADS_1
" Mba ingat tadi siang......aku cerita kalau ada cewek yang udah mencuri perhatianku. Gadis yang aku suka itu mba Rose. Maaf lancang. Tapi menurutku lebih baik aku katakan sekarang daripada aku simpan perasaan ini sendiri." kata Satya terjeda.
"Aku juga tahu kalau mba Rose sudah bertunangan. Dan mungkin sudah memiliki rencana untuk kedepannya dengan tunangan mba Rose. Tapi aku nggak mau membohongi diri sendiri tentang perasaan cinta dan sayangku untuk mba Rose. Dan aku juga sudah yakin kalau mba Rose pasti akan menolakku,aku tidak mengharapkan balasan cinta dari mba Rose. Aku hanya ingin mengatakan perasaanku saja. Tidak lebih." jelas Satya.
Rose tampak menarik nafas dalam dan akhirnya menghempaskan nafasnya sedikit kasar. Walaupun sebenarnya selama ini Rose tahu tentang perhatian Satya padanya bukan tanpa rasa lain. Namun hatinya saat ini seperti mati rasa dengan keadaan yang tengah di alaminya.
"Sat.....aku mau cerita sebenarnya ke kamu. Selama ini kamu dekat sama aku dan kita hampir selalu bersama dalam setiap aktifitas. Tapi pastinya kamu belum tahu apa yang terjadi sama aku,kamu mau mendengar ceritaku?" tanya Rose.
"Cerita saja mba.....siapa tahu bisa meringankan beban pikiranmu. Maaf....selama ini aku selalu memperhatikan mba Rose,dan aku menilai kondisi hati mba Rose sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja." jawab Satya memberikan kesempatan Rose bercerita.
"Aku sudah bertunangan dengan temanku 6 bulan semenjak aku masuk kuliah dan tunanganku mengikuti pendidikan. Dan 5 bulan yang lalu tunanganku mengharapkan untuk pengajuan nikah ke kesatuannya. Dan surat-surat pengajuan juga udah aku kirimkan. Hingga sekitar 4 bulan yang lalu tunanganku mengalami kecelakaan. Kata orang tuanya kondisinya baik-baik saja,karena beliau berdua yang menjenguk ke sana. Tapi anehnya sampai saat ini kami justru los kontak. Beberapa surat yang aku kirim ke dia sama sekali tak ada balasan.." jelas Rose. Helaan nafas berat Rose menjeda perkataannya. Dan nampak butiran kristal bening tengah bermain di pelupuk matanya.
Satya meraih tangan Rose yang ada di atas meja. Di tepuk-tepuknya dengan lembut punggung tangan Rose,seakan menyalurkan kekuatan untuk Rose. Dan rasa perih di hati Rose justru semakin menyayat,manakala mendapat perhatian dari Satya.
"Aku saat ini benar-benar merasa harapanku sedang di gantung oleh Nugraha. Aku mencoba menghubunginya lewat telephon,tapi selalu saja mendapat jawaban jika Nug sedang dinas di luar daerah." Rose memejamkan matanya,dan kini buliran kristal bening meluncur tak terbendung di pipi mulusnya.
"Sat......apa aku boleh minta saranmu. Aku harus bagaimana ?" tanya Rose yang merasakan beban pikirannya benar-benar menghimpit dadanya.
"Maafkan aku yang justru menambah beban pikiranmu mba....." jawab Satya yang merasa sangat bersalah karena menambah beban pikiran Rose selama ini.
Satya tidak tahu jika selama ini Rose mempunyai masalah yang begitu berat. Dalam wajah tegarnya ternyata memiliki sisi hati yang rapuh. Dalam ketegasannya ternyata ada hati yang tengah bimbang.
__ADS_1