Mencintai Dalam Diam

Mencintai Dalam Diam
MDD episode 64


__ADS_3

Sementara itu,di ruang inap dimana Nugraha dan anggota lain di rawat. Nugraha mengalami demam tinggi. Terdengar dari mulut Nugraha memanggil-manggil seseorang. Kala itu,Ana yang akan berpamitan, kepada anggota yang bertugas menjaga Nugraha dan dua orang rekannya yang sakit,mendengar Nugraha memanggil-manggil nama seseorang. Ana mendekat, dan duduk di kursi di samping tempat tidur Nugraha. Di genggamnya tangan Nugraha,tangan yang biasanya nampak kokoh,kini terkulai lemah di tempat tidurnya.


"Rose.....jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu Rose.....dekap aku......"racau Nugraha di bawah alam sadarnya. Di genggamnya tangan Ana dan di tariknya dalam dekapannya. Mungkin Nugraha merasa yang di genggamnya adalah tangan Rose.


"Di alam bawah sadarnyapun kau selalu menyebut nama kekasihmu."monolog Ana dalam hati.


Ana menempelkan tangan kirinya di dahi Nugraha. Suhu tubuh Nugraha di rasakan begitu panas. Saat itu kebetulan ada perawat yang tampak melintas dan melongok ke kamar inap Nugraha. Ana memanggil dengan bahasa isyarat supaya perawat itu mendekat.


"Maaf Suster....bisakah minta air hangat untuk mengompres?" tanya Ana dengan sedikit berbisik. Ana tidak mau Nugraha terganggu dengan suaranya.


"Baik mba...tunggu sebentar saya ambilkan." jawab perawat tersebut. Dan berlalu untuk menyiapkan air hangat untuk kompres.

__ADS_1


Tak berselang lama,perawat yang tadi diminta tolong oleh Ana,kembali datang dengan mbawa baskom berisi air hangat dan dua waslap, untuk mengompres. Di ukurnya suhu tubuh dan tanda vital yang lain,untuk mengetahui kondisi Nugraha .


Sedangkan Ana perlahan melepaskan tangannya yang digem Nugraha, namun Nugraha secara reflek menggenggam lebih erat tangan Ana. Seakan tak ingin terlepas. Ana mengompres dahi Nugraha dengan tangan kirinya. Sedang tangan kanannya masih dalam genggaman Nugraha.


Ada desir menghangat di hati Ana." Seandainya ini kenyataan dan diriku bukan hanya sekedar bayangan Rose kekasih Nugraha,pastinya aku akan sangat-sangat bahagia. Tuhan.....bisakah aku memiliki hatinya dengan utuh......?" keluh Ana dalam hati.


Di pandangnya wajah Nugraha. Di susurinya garis tegas wajah Nugraha dengan jemari tangannya. Sentuhan lembut Ana mampu meninabobokan Nugraha,demam tubuhnya berangsur turun,setelah di kompres dan mendapat infus penurun panas sesuai dengan perintah dokter.


"Uch.......kepalaku berasa berat dan pusing." lenguh Nugraha. Ketika tangannya akan diangkat untuk memijat kepalanya,Nugraha terkejut,karena tangannya bertautan dengan tangan seorang gadis tapi bukan tangan Rose.


" Siapa kamu.....kenapa ada di sini ?" sentak Nugraha sembari menarik tangannya. Tubuhnya beringsut menjauh ke arah sisi tempat tidur.

__ADS_1


"Eh....kak Nug sudah bangun. Bagaimana sudah berasa lebih baik ?" kata Ana sembari ingin menyentuh dahi Nugraha.


"Stop....jangan sentuh aku. Jangan kau ambil kesempatan untuk mendekatiku di saat aku sakit. Mengapa juga kamu di sini dan menungguiku. Bukankah sudah ada temanku yang menjaga. Dan kenapa kamu memegang tanganku ?" kata Nuhraha marah. Ia tumpahkan kekesalannya karena merasa Ana sudah mengambil kesempatan untuk dekat dengannya di kala dirinya sakit.


"Maaf kak Nug.....tadi kakak demam tinggi dan mengigau memanggil nama seseorang. Tadi aku membantu mengompresmu,tapi tiba-tiba kak Nug meraih tanganku dan menggenggamnya. Bahkan kak Nug bilang....untuk tidak meninggalkan kakak. Apa aku salah jika aku menemanimu kak.....


Kenapa kak Nug begitu bencinya ke aku. Apa sebenarnya kesalahanku....." jawab Ana. Dirinya pura-pura marah dan berargumentasi jawaban walau tidak semuanya benar.


"Tidak mungkin aku melarangmu pergi,pasti kamu memanfaatkan aku di saat aku tak sadarkan diri. Sekarang pergilah,jangan kembali lagi ke sini." perintah Nugraha masih dengan kekesalannya. Nugraha tidak perduli sekalipun Ana adalah putri komandannya. Namun hatinya menjadi kacau karena merasa Ana menggunakan kesempatan untuk mendekatinya di kala sakit. Saat ini yang ia harapkan adalah Rose. Bukan yang lain.


Ana berlalu dari ruang inap Nugraha dengan menyambar tasnya. Hatinya sakit. Walapun sebenarnya rasa sakit itu dia sendiri yang buat.

__ADS_1


"Awas saja.....kamu akan aku buat bertekuk lutut untuk mencintaiku,dan melupakan gadis sialan itu !" rutuk Ana dalam sepanjang perjalanannya meninggalkan Nugraha.


__ADS_2