
Dengan lemah Rose keluar dari wartel. Tubuhnya terasa lemas. Hatinya merasakan sangat lelah. Rose tak menyangka dengan kecelakaan yang me nimpa Nugraha. Belum ada hitungan hari dirinya membicarakan banyak hal dengan Nugraha,tentang sekolahnya,tentang niat pengajuan nikahnya,tentang cintanya dan semua rajutan impian yang akan mereka wujudkan bersama-sama.
Hatinya merasakan begitu rumit hubungan yang di jalaninya. Dengan jarak yang begitu jauh memisahkannya dengan Nugraha,dengan minimnya komunikasi, yang acap kali membuat keduanya saling salah paham. Tidak di pungkiri oleh Rose.....terkadang dirinya merasa lelah untuk berfikir. Terkadang bayangan yang tidak semestinya hadir menghantui perjalanan kisah cintanya. Dan yang paling mengganjal di hatinya adalah perbedaan keyakinan di antara Rose dan Nugraha.
Rose kembali menangis tanpa suara. Air matanya menganak sungai.Satya yang duduk bersisian dengan Rose, di bangku panjang sebelah wartel,hanya mampu diam melihat Rose. Pikiran Satya sedang menata hatinya yang terbakar cemburu, yang Satya sadari tidak pada tempatnya.
Tiba-tiba Rose menyandarkan kepalanya di bahu kiri Satya. Air mata Rose yang menganak sungai terasa membasahi bahunya. Tubuh Rose bergetar,menahan tangis yang pastinya sangat menghimpit di perasaannya.
" Lepaskan tangismu mba....jangan kau tahan seperti ini. Nanti dadamu terasa sesak. Keluarkan unek-unekmu supaya kamu merasa sedikit lega." saran Satya. Perlahan di genggamnya tangan kanan Rose,seakan dirinya ingin menyalurkan kekuatan untuk Rose.
__ADS_1
" Aku lelah Sat.....hubunganku akhir-akhir ini begitu rumit. Nugraha menginginkan segera menikah,sedangkan kau tahu sendiri,kuliahku masih 1 tahun lagi. Aku tak ingin orang tuaku bersedih.....melihatku putus kuliah hanya untuk menikah. Pasti bapak ibuku akan sangat-sangat kecewa. Apalagi ini adalah cita-citaku. Mungkin aku egois.....tapi aku belum bisa berkorban walaupun untuk sebuah cinta." jawab Rose.
"Mungkin ini penyebabnya,Rose mau membantuku yang ingin keluar kuliah gara-gara si May yang gila itu. Ternyata aku dan Rose mempunyai keinginan yang sama. Sama-sama meraih cita-cita dan membahagiakan keluarga. Jika dia bisa begitu kuat,kenapa aku kemarin hampir menyerah. Ya Allah.....terimaksih Engkau telah menghadirkan bidadari yang baik untuk membantuku. Semoga gadis ini mendapatkan kebahagiaanya kelak" monolog Satya dalam hatinya.
Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Rose dengan hubungan rumitnya dan dengan segala pernak-pernik permasalahannya. Dan Satya dengan kekagumannya pada Rose,dan diam-diam cintanya tumbuh subur di hatinya. Walaupun tak terucap dengan kata namun tersirat dengan perhatiannya untuk Rose.
Rose mengangkat kepalanya dari pundak Satya. Dan menoleh ke arah Satya. Merasakan gerakan Rose,Satyapun menoleh. Pandangan mata mereka bertemu dan saling mengunci. Entah apa yang di bicarakan oleh mata mereka,namun perasaan hangat mengalir di masing-masing pemilik hati. Satya tiba-tiba mendekatkan bibirnya di kening Rose,dan menciumnya dengan dalam. Seakan Satya sedang menyalurkan kasih sayangnya yang mengalir begitu deras untuk Rose. Dan Rose seakan terhipnotis merasakan curahan kasih Satya,Rose seakan lupa dengan kesedihannya yang beberapa waktu lalu menghimpitnya.
"Apa yang aku lakukan.....disaat tunanganku terkapar,entah bagaimana kondisinya saat ini,di sini aku justru mencari ketenangan bersama laki-laki lain. Jangan-jangan Satya akan menganggapku sebagai wanita murahan dan gampangan. Ini sungguh-sungguh memalukan. Rose.......kenapa kamu tak mampu mengendalikan perasaanmu. Dan mengapa aku nisaerasakan senyaman itu barusan. Hentikan kegilaanmu Rose....." kata hati Rose ingin sirinya segera sadar dari kekeliruan yang terjadi.
__ADS_1
"Mengapa aku melakukan itu ke Rose.....dorongan setan dari mana yang menggerakkan hatiku untuk menyentuhnya. Jangan-jangan Rose beranggapan aku mencari kesempatan di dalam kesedihannya. Aku harus minta maaf sebelum Rose salah paham." monolog hati Satya.
" Maaf " dengan bersamaan keduanya mengucapkan kata yang sama. Keduanya kembali saling berpandangan. Rose memutus pandangan itu,Rose mengalikan pandangannya ke obyek yang lain. Wajahnya terasa memanas karena menahan malu.
"Maafkan aku mba....aku nggak sengaja. Barusan terjadi karena spontanitas tanpa ada maksud apapun." kata Satya masih memandang Rose.
Merasa sedang di perhatikan,Rose menoleh ke arah Satya dan lagi-lagi dirinya merasa malu.
" Nggak mengapa. Anggap saja tidak pernah terjadi apapun. Dan tolong lupakan." jawab Rose sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kita pulang...." kata Rose sambil bangkit dan akhirnya mereka kembali ke asrama.