Mencintai Dalam Diam

Mencintai Dalam Diam
MDD 122


__ADS_3

Dengan tangan yang cidera Rose masih tetap bersemangat dalam kulah. Ujian semester ganjil sudah di depan mata. Untuk laporan berbentuk makalah masih selalu di tangani Satya. Dengan setianya Satya membantu mengerjakan tugas-tugas Rose di sela-sela tugas kuliahnya sendiri.


"Ini makalah yang kemarin udah jadi,teliti dulu kalau ada kekurangan supaya nanti bisa di perbaiki. " kata Satya sembari menyodorkan pekerjaan Rose yang telah selesai di ketiknya.


"Makasih ya......sebentar aku cek dulu. Besok senin mau aku konsultasikan ke dosen pembimbing. Semoga nggak banyak revisi." jawab Rose sembari membolak-balik lembaran tugas yang sudah di ketik Satya.


" Kelihatannya udah dech Sat.....besok aja kalau ada revisi kita perbaiki lagi. " jawab Rose.


"Masih sakit nggak tangannya....kapan jadwal lepas gips ?" tanya Satya. Di lihatnya balutan gips di tangan Rose..


"Udah hampir di lepas ini....seminggu lagi ." kata Satya mengamati tulisan jadwal lepas gips di tangan Rose.

__ADS_1


"Iya apa.........malah nggak pernah perhatiin. Alkhamdulillah dech.....sebentar lagi bebas dari belenggu ." jawab Rose sambil tersenyum.


" Rasanya udah lelah banget pakai gips seperti ini ." sambung Rose.


"Bukannya menikmati ya.....enak kan di belenggu. Nyatanya betah dan selalu bertahan ." sahut Satya.


"Di mana enaknya.... yang ada justru tersiksa tahu .....apa-apa merepotkan orang lain. Mau keramas dan sisir rambut aja minta tolong Janti ,mengerjakan tugas jadi kamu yang mengerjakan. Di mana enaknya coba ?" tanya Rose sembari memanyunkan bibirnya.


" Ich....kamu ngomong apa sich.....koq jadi keluar kontek...?" kata Rose sembari menyabetkan makalah yang tengah di pegangnya ke lengan Satya.


Satya hanya terkekeh melihat reaksi Rose. Tanpa di sadari Rose,Satya tengah menggiring perasaan Rose untuk kembali sadar dengan posisinya yang bertahan dengan kondisi yang tidak menguntungkan.

__ADS_1


"Hampir 6 bulan tak ada kabarmu Nug.....kamu benar-benar keterlaluan. Kamu tengah menguji kesabaranku Nug.....tapi sampai kapan aku harus bersabar tanpa kepastian." monolog hati Rose.


Beberapa bulan ini memang Rose benar-benar melepaskan bebannya yang berkaitan dengan pertunangan dan urusan hatinya untuk Nugraha. Kebersamaannya dengan Satya dan banyaknya tugas kuliah yang begitu banyak, mampu mengaburkan tentang perasaannya kepada Nugraha. Bahkan tentang rencana pernikahan yang menurutnya menyesakkan dada.


Apalagi komunikasi dengan Nugraha dan keluarganya yang putus begitu saja,membuat Rose sejenak lupa dengan masalah yang di hadapinya. Dan kali ini Satya justru yang membuka lembaran hidupnya yang hampir di lupakannya.


"Nggak usah di pikirkan.....jalani saja sesuai alurnya. Kalau memang rejekimu....pasti akan di pertemukan." kata Satya.


Rose nampak menyeka pelupuk matanya. Tiba-tiba rasa perih menggores kembali di hatinya. Kemarin sempat mengering dan hampir tak di rasakannya lagi. Namun sore ini luka itu kembali tertoreh dan berdarah lagi.


"Maafkan aku.....nggak ada maksud untuk mengungkit luka hatimu Rose....hanya aku merasa gemes dengan pola pikirmu yang bertahan dalam kondisi yang tak ada kepastian." komentar Satya.

__ADS_1


Dirinya merasa menyesal telah membuka memori yang berusaha Rose simpan. Namun Satya merasa bosan melihat kebodohan Rose yang tak tegas dengan perasaannya.


__ADS_2