
Pemilik sepasang netra yang sedari tadi mandang keberadaan Rose,kini merasa sangat lega. Ada senyum tersungging di bibir Rose yang tertangkap netranya.
"Jangan bersedih lagi wanita hrbatku.....semua harus kamu hadapi,bukan untuk kamu tangisi,berbahagialah karena itu hakmu." monolog Satya. Bibirnya nampak melengkung mengulas senyum.
Sesaat Rose merasa ada yang tengah memperhatikannya. Namun netranya tak menangkap bayangan siapa-siapa di bawah sana.
Di edarkannya sorot kornea hitam beningnya,menelisik sudut-sudut ruangan di bawahnya,berharap mendapatkan obyek yang tengah memperhatikannya.
Sedang pemilik netra di bawah sana beringsut pelan menjauh dari areanya. Walaupun hari ini tak bisa mengajak pujaan hatinya pergi,namun rasa bahagia muncul walaupun hanya mampu memandang sosok gadia yang mampu membawa separuh perasaannya.
"Mencari siapa Yu.....?" tanya Janti yang menyadari Rose sedang celingak-celinguk seakan mengamati sesuatu di bawah sana.
"Nggak ada....." jawab Rose singkat.
"Nggak ada,tapi pandangan mata seperti sedang mencari sesuatu....!"jawab Janti.
"Tadi aku merasa seperti ada orang yang sedang memperhatikan kita dari arah bawah sana...," jawab Rose menjelaskan.
"Paling juga penggemar rahasiamu Yu......!" jawab Janti menggoda Rose sambil terkekeh.
"Mana ada.....mungkin hanya perasaanku saja. Sudahlah ayo kita masuk. Aku mau sholat Maghrib dulu." lajut Rose sambil berjalan menuju kamarnya. Dan Janti mengikutinya.
Di asrama putra,setelah sholat maghrib,Satya duduk di taman kecil depan kamarnya bersama Indra dan Adi.
"Bagaimana Sat.....kelihatannya May sudah nggak gangguin kamu lagi. Sudah lama nggak kedengeran ada yang ketuk-ketuk pintu." tanya Adu.
"Alkhamdulillah aman mas Adi......aku bisa belajar tenang." jawab Satya sambil tersenyum hingga menampakkan lesung pipinya dan gigi gingsul yang menambah daya tariknya.
"Udah nggak ada keinginan keluar dari kuliah berarti ya....?" tanya Adi lagi.
__ADS_1
"Mana bisa dia keluar dari kuliah,malah justru semakin semangat dia,kan udah ada pawangnya di sini." kata Indra sambil tersenyum menggoda Satya.
"Emang aku binatang buas apa.....yang harus di jinakkan pakai pawang." sungut Satya.
"Tapi bener juga kata Indra,semenjak dekat dengan Rose,sekarang Satya beda." timpal Adi.
"Jadi tambah semangat dan full senyum..!" lanjut Adi menggoda Satya.
"Berarti perubahan baik kan....harusnya kalian bangga lah.....sama aku....." jawab Satya sambil tersenyum..Rose memang telah membawa perubahan suasana hatinya. Terutama hari-hari efektif kuliah. Karena bisa setiap hari bertemu dan ngobrol walaupun obrolan seputar mata kuliah.
"Aku ikut senang koq Sat....aku mendukungmu. Semoga kelak kalian berjodoh." kata Adi mendoakan.
"Aamiin..." jawab Satya meng aminkan doa Adi untuknya.
Keesokan harinya di kampus. Rose tengah duduk bersama teman-teman seangkatannya. Ada materi yang sedang di bahas dan tentang tindak lanjut untuk kegiatan praktek lapangan ke rumah sakit jiwa.
"Udah dapet bayangan tempat,dari hasil survey ada 2 tempat,rumahnya bagus hanya saja lokasinya agak jauh dari RSJ nya.
Ada yang dekat dengan RSJ, bisa di jangkau dengan jalan kaki,tapi rumahnya sederhana." jawab Seno.
"Kemarin kamu sudah survey ke masing-masing rumah yang di maksud belum Sen....?" tanya Rose lagi.
"Belum sich....kan nanti kita harus komunikasikan dengan pihak kampus dulu,siapa tahu pihak kampus sudah chaneling ke sana." jawab Seno.
"Benar juga.....baiknya kita konsul ke dosen pembimbing untuk prosedurnya. Kita jangan gegabah dulu ambil keputusan untuk rumah kost. Kecuali dari pihak kampus di serahkan ke kita. Kalaupun di serahkan ke kita,pas kita ke tempat yang mau kita tempati juga harus ada pendampingan dari pihak kampus. Supaya kita lebih aman.."jawab Rose.
"Iya bener.....yang jelas kita nyaman dan aman. Syukur-syukur tempat kost nanti di fasilitasi dengan makan dari sana. Supaya nggak ribed masak dan beli sendiri. Masalah harga ikut aja." sahut Candra.
"Ok...sepulang kuliah kita ke kantor dosen buat bicarakan hal ini. "sahut Yola
__ADS_1
"Urusan negosiasi dengan dosen pembimbing,kita serahkan ke yu Rose....." sambung Tya.
"Untuk asrama putri yes....tapi asrama putra biar diurus sama mereka para bujang." jawab Rose dengan tersenyum.
"Untuk kelompok putra biar aku sama Seno yang urus." jawab Budi.
"Nha bagus itu. Berarti kita sudah sepakat. Nanti kita maju bareng ke dosen pembimbing,Okey....." jawab Rose sambil meninju lengan Budi.
"Jangan sentuh-sentuh aku....nanti Satya marah.!" kat Budi sambil tergelak.
"Hah......marah knapa?"tanya Rose bingung.
"Lha dari tadi udah curi-curi pandang ke sini. Tapi yang di lihatin nggak peka." jawab Surya.
Mata Rose melirik ke arah kelas Satya. Dan benar saja Satya tengah melihatnya. Untuk menetralkan suara teman-temannya yang mulai menggoda dirinya dan Satya,Rose melambaikan tangannya ke arah Satya supaya mendekat.
Begitu Satya sampai di antara mereka,Rose mengangsurkan buku kepada Satya.
"Ini kemarin buku yang mau kamu pinjam sudah aku bawa." kata Rose. Satya yang paham maksud Rose supaya teman-temannya tak menggunjingkan dirinya dan Rose, menerima buku yang di angsurkan kepadanya.
"Makasih mba...." jawab Satya sambil tersenyum.
"Dari tadi mau aku minta,tapi kelihatannya lagi serius diskusinya. Maaf kalau mengganggu kalian." lanjut Satya.
"Oh....aku pikir curi-curi pandang karena merindu...ternyata mau pinjam buku. Pinjam hatinya sekalian nggak Sat.....?" tanya Budi.
"Kalau pinjam harus aku balikin mas....kalau boleh aku minta aja." jawab Satya terkekeh sambil berlalu.
Rose yang mendengar itu hanya tersenyum. Tidak sekali dua kali Satya menggoda dengan kat-katanya. Namun Rose merasa itu hanya candaan biasa.
__ADS_1