
Di saat Nugraha mengalami dilema. Ada sebuah hati yang merasa sangat bahagia karena usahanya berhasil. Harapannya untuk duduk bersanding dengan lelaki pujaannya akan segera terwujud.
******
"Mba.....setelah dari sini,mau nggak kalau mba Rose temenin aku." tanya Satya. Saat ini Satya tengah menemani Rose mencari rumah kost untuk praktek keperawatan jiwa. Dan mereka sudah mendapatkan tempat yang di harapkan.
"Kamu mau kemana?" tanya Rose.
"Aku mau ke tempat Bulik. Ambil mesin ketik buat bikin laporan." jawab Satya. Maklum pada jaman autor dulu masih jadul. Alat -alat masih menggunakan mesin manual,belum ada hp juga. Mungkin selama ini pembaca bertanya-tanya.
"Boleh....nggak lama kan disana ?" tanya Rose.
"Nggak mba.....sebentar aja.Memangnya kenapa kalau lama?" tanya Satya sambil terkekeh.
"Nggak enak aja......cewek main ke rumah cowok. Takutnya di gunjing orang ." jawab Rose. Dirinya memang selalu menjaga privacy. Selama ini tidak pernah bertandang ke rumah teman lain jenis jika tidak bersama teman-teman yang lain. Kehidupan di desa yang masih kolot,membuatnya menjag batasan-batasan dalam bergaul. Walaupun sekarang hidup di kota,namun Rose tidak ingin merubah tata krama yang diajarkan orang tuanya.
__ADS_1
"Santai mba....keluarga Bulikku selalu welcome kepada siapapun. Dan jangan takut di gunjing,toh kita datangnya siang hari. Atau nanti kalau mba Rose merasa sungkan,mba Rose nggak usah masuk. Mba Rose menunggu di luar saja. " sahut Satya. Keduanya saat ini sedang dalam perjalanan pulang dari mencari lokasi kost. Dan mereka berdua berboncengan dengan motor dengan kecepatan sedang,menyebabkan mereka bisa sambil ngobrol sepanjang dalam perjalanan.
" Ya....itu ide yang baik. Maaf ya....bukan apa-apa. Aku nggak enak aja bertemu keluargamu." jawab Rose. Sebenarnya Rose merasa tidak nyaman karena Satya pernah bercerita kepadanya,jika keluarganya ingin bertemu Rose yang sudah membantu Satya. Menurut Rose,Satya terlalu berlebihan menceritakan tindakannya yang membantu Satya terlepas dari May,sehingga keluarga Satya merasa berhutang budi kepada Rose.
" Ok mba....nanti mba Rose bisa berhenti di masjid tak jauh dari rumah Bulikku,mba menunggu di sana sambil sholat dan istirahat,sembari menungguku." jawab Satya memberikan solusi buat Rose.
Hampir 45 menit perjalanan keduanya sampai di tempat tujuan. Rose turun di depan sebuah masjid dan sekalian akan menunaikan sholat Dzuhur yang sudah sedikit terlewat. Rose dan Satya sama-sama menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim. Di saat Rose tengah duduk santai di teras masjid,Rose merasa seperti mendengar namanya di panggil oleh seseorang,tapi bukan Satya. Karena yang Rose tahu,Satya masih berada di dalam masjid.
"Mba Rose.......!" suara seorang perempuan memanggilnya. Rose agak terkejut karena namanya di panggil,pandangannya di edarkan ke rumah-rumah di sekitar masjid.
Ada seorang ibu menggendong putri kecilnya,memandangnya sambil tersenyum. Dan Rose menjawab senyuman itu sambil menganggukkan kepala.
"Mba Rose.....sini......!"
"Ba Lose.....cini.....!" suara panggilan itu bergantian. Atensi Rose kembali teralihkan.
__ADS_1
Penasaran Rose memandang ke arah ibu dan anak kecil dalam gendongannya yang sudah mulai belajar bicara,yang tadi melemparkan senyum mepadanya. Dan kali ini di sana nampak 2 orang wanita dewasa yang hampir seumuran dan seorang laki-laki tinggi besar,bersama gadis kecil yang tangannya melambai ke arahnya.
" Siapa mereka,kenapa tahu namaku.Apa salah satu dari mereka adalah pasienku di rumah sakit saat aku praktek ya..." pikir Rose dalam mode bingungnya.
"Mas.....ajak mba Rose kesini " kata seorang ibu yang tengah menggendong putrinya..
" Ya Bulik....." jawab Satya dari belakang Rose.
Rose menatap ke arah Satya yang baru keluar dari masjid.
"Mba...maaf. Kedua orang tuaku dan bulikku sudah mengenali mba Rose. Baiknya kita kesana." kat Satya sambil mengulum senyum.
"Ish.....kamu menjebakku....," kata Rose mendesis sambil menajamkan matanya ke arah Satya,suaranya tak terdengar keras namun bisa di terima dengan baik di telinga Satya.
Satya hanya tersenyum simpul ke arah Rose. Keduanya berhadapan muka karena Satya sudah sampai di pelataran masjid san sedang menggunakan sandalnya.
__ADS_1
"Maaf....." kata Satya tersenyum memamerkan lesung pipi dan gigi gingsulnya sembari mengacungkan dua jari di depan dadanya.
Rose mau tak mau akhirnya ikut bangkit dan menyusul Satya yang menghampiri keluarganya.