
Keduanya membisu. Seakan mereka berdua tengah berada dalam pemikirannya masing-masing.Hingga mereka selesai dengan transaksinya masih terdiam namun berjalan beriringan. Sepanjang koridor rumah sakit yang mereka lalui hanya ada kebisuan. Hanya suara sepatu dari keduanya bagaikan irama nada dengan ketukan yang sama. Hingga terdengar hembusan halus kasar Rose yang seperti melepaskan beban di hatinya.
Satya tidak ingin merusak moment kebersamaanya dengan Rose selama ini. Untuk mengurai diam yang tercipta,Satya mencoba mencairkan suasana.
"Masih suka masakan super pedes nggak mba.....?" tanya Satya sambil memandang Rose.
"Kira-kira masih suka nggak menurutmu ?" tanya Rose balik sambil tersenyum memamerkan lesung pipinya.
"Ada kuliner baru di belakang Nevada,model penyetan. Murah meriah dan antriannya panjang. Ramai di jam makan malam. Aku tantang mba makan di sana. Nanti selepas maghrib kita keluar . Berani nggak?" tantang Satya.
"Nggak nolak.....ok kita capsus nanti selepas maghrib ." jawab Rose menerima tantangan Satya. Rose kembali ke mode jaman waktu SMA,bersahabat dengan kaum adam yang dirasa simple dan tidak perlu bermain dengan perasaan.
"Mantep....nanti aku samper ke asrama putri. " sambung Satya. Keduanya terpisah di gang menuju asrama masing masing-masing.
Urusan perkuliahan dan rencana parktik ke rumah sakit jiwa sudah di tetapkan. Agenda minggu ini adalah mencari kost untuk menginap selama mengikuti praktik keperawatan jiwa. Dan Rose bersama teman-temannya di tugaskan dari kampus untuk mencari tempat tinggal sementara selama kegiatan berlangsung.
__ADS_1
Sore menjelang,Rose bertekad untuk fokus pada dirinya sendiri dan hal yang akan di jalaninya berkaitan dengan mata kuliah. Rose tak mau lagi memikirkan hubungan pertunanganya untuk sementara ini.
Senja kembali datang. Setelah sholat Maghrib,Rose teringat akan ajakan Satya untuk memanjakan lidahnya dengan makanan pedas kesukaannya. Dengan pakaian santai,kulot warna hitam, yang di padu dengan kaos lengan pendek warna misti, serta kardigan yang senada dengan warna celanya,Rose keluar dari kamarnya.
Janti yang sore ini berada di balkon menikmati senja,menyapa Rose.
"Yu.....mau kemana?" tanya Janti.
"Mau keluar. Cari angin segar. !" jawab Rose santai.
"Terima aja.....jawab kalau aku lagi pergi. Kalau urusan penting suruh hubungi kembali besok ." jawab Rose.
"Okey.....jangan lupa oleh-olehnya ya....buat camilan kita nanti malam." seru Janti dan Alexa berbarengan. Dan hanya di jawab dengan acungan jempol dari Rose sembari berlalu.
Bersamaan dengan Rose yang turun dari tangga lantai dua kamar asramanya,Satya telah sampai si ruang tamu asrama putri sedang berbincang-bincang dengan teman-teman seangkatannya yang tinggal di asrama putri.
__ADS_1
Begitu Rose turun,mereka terdiam tak ada lagi yang berbicara. Satya hanya tersenyum melihat aksi teman-temannya. Ternyata Rose masih sangat di segani oleh teman-teman Satya.
"Berangkat sekarang atau masih mau ngobrol ?" tanya Rose kepada Satya.
" Sekarang saja. Takut semakin rame. " jawab Satya sambil tersenyum.
" Gandeng dong Sat.....mba Rosenya,nanti di bawa kabur orang lho.....!" kata Fuji. Teman seangkatan Satya yang berasal dari Papua.
Satya yang menangkap bayangan May sedang memperhatikannya dan Rose dari lantai dua justru merangkul pundak Rose. Rose tidak maeah,karena ini sebagian skenarionya untuk meyakinkan May kalau Satya memang kekasih Rose.
"Okey Fuji.....nanti kamu aku belikan oleh-oleh ya...." kata Satya sambil terkekeh menggoda Fuji temannya.
"Mantap Satya.....aku tunggu oleh-olehnya." jawab Fuji dengan girang.
Sepeninggal Satya dan Rose mereka memperbincangkan hubungan keduanya. Yang mereka nilai hubungan sehat yang tak mengumbar kemesraan seperti pasangan lainnya. Dan tak sedikit mendoakan keduanya menjadi pasangan abadi.
__ADS_1