
Hari ini konsentrasi Rose benar-benar bermasalah. Setiap pekerjaan yang di lakukan selalu lepas dari rencananya. Seperti saat ini,makanan yang akan di santapnya tiba-tiba tumpah begitu saja.
"Ada apa ini sebenarnya....kenapa dari tadi selalu saja salah ." monolog Rose dalam hati. Di bersihkannya makanan yang berserak di lantai.
"Auch......!" jerit lenguh Rose,karena jarinya terkena beling pecahan piring. Darah menetes dari jari manisnya yang tersemat cincin pertunangannya dengan Nugraha.
"Nug......ada apa denganmu. Ya Allah semoga dirimu dalam.kondisi baik-baik saja." kata Rose dalam batinnya. Tiba-tiba hatinya berdesir perih, firasatnya mengatakan ada sesuatu hal yang terjadi dengan Nugraha.
"Kenapa to Yu.....koq bisa tumpah seperti itu,ngelamunin apa?" tanya Janti sahabatnya. Hari ini Jantipun merasakan jika konsentrasi Rose tidak seperti biasanya. Sambil meraih tangan Rose yang berdarah.
"Sudah bangkit saja,biar aku yang bersihkan, dan obati tanganmu Yu....!" perintah Janti sambil memperhatikan wajah Rose.
"Apa kamu sakit Yu....?" tanya Janti lagi sembari menyentuh dahi Rose dengan punggung tangannya.
"Nggak tahu Janti....kenapa koq hari ini alu selalu saja membuat kesalahan. Hatiku merasa nggak tenang." jawab Rose sambil mencuci tangannya di air mengalir. Lukanya terasa sakit. Wajah Rise nampak lesu dan senyumnya sangat-sangat irit hari ini.Janti mengelus pundak Rose,seakan mencoba untuk menenangkan kegundahan Rose.
"Mungkin Yu Rose lelah. Kita kan akhir-akhir ini sedang di sibukkan dengan banyak tugas." kata Janti dengan penuh perhatian.
"Mungkin juga Jan....tapi aku koq kepikiran Nugraha ya. Apa dia baik-baik saja di sana?" kekhawatiran Rose begitu kentara. Apalagi lebih dari 2 bulan tidak ada komunikasi. Surat yang di kirimkan Rose pun tidak berbalas sampai hari ini.
"Sini aku bantu menggunakan plesternya." kata Janti menarik tangan Rose yang sudah di bersihkan dan dileringkan. Di pasangkannya kasa steril yang sudah di beri desinfektan dan di balut dengan plester putih.
"Jangan terlalu kenceng plesternya Jan.....terasa banget cekot-cekotnya di lukaku." kata Rose sambil mendesis dan meringis menahan sakit.
"Kalau nggak kenceng takut darahnya nggak berhenti Yu....udah manut. Rewel banget jadi pasien !" kata Janti sambil terkikik.
__ADS_1
"Mba Rose....ada telephon ." kata adik tingkat Rose. Weni baru saja menerima sambungan aiphone.
"Telephon apa aiphon Wen...."tanya Rose. Tak seperti biasanya ada telephon untuknya tidak di hari libur.
"Telephon Mba......" jawab Weni.
"Ok....makasih Weni." jawab Rose dan segera berlalu dari ruang makan menuju kantor asrama.
Sesampainya di kantor asrama,Rose agak ragu untuk masuk. Karena ternyata telephon sedang di gunakan bu Ati. Beliau tampak sedang serius dengan lawan bicaranya. Hingga beliau tersadar dengan kehadiran Rose.
"Oh ini Rose sudah sampai Nak...." kata bu Ati dengan lawan bicaranya.
"Rose.....ini nak Nugraha menelphonmu,barusan ibu ngobrol dulu sambil menunggumu datang." ucap bu Ati sambil menyerahkan telephon di tangannya . Namun tangan beliau tak lupa menghidupkan tombol loudspeaker pada pesawat telephon itu.
"Makasih Bu....." jawab Rose,sembari duduk di kursi dekat pesawat telephon. Saat ini di kantor asrama ada dirinya,bu Ati dan Janti yang ikut mendengarkan perbincangan antara Rose dan Nugraha.
"Waalaikumusallam sayang......bagaimana kabarmu,apa baik-baik saja?" tanya Nugraha.
"Alkhamdulillah aku baik-baik saja. Selalu sehat. Tenang saja.....di sini aman dan terjamin Nug......" jawab Rose sambil terkekeh.
"Bagaimana tugas ke daerahnya,lancar dan aman kan?" tanya Rose.
"Berakhir aman. Tapi terlalu lama. Dan tidak ada akses untuk berkomunikasi. Maafkan aku ya sayang.....lama tidak bisa mengabarimu." jawab Nugraha lagi. Terdengar suara sedihnya dari seberang telephon.
"Nggak papa Nug.....aku paham akan tugasmu. Jangan khawatir,aku tak akan pernah menuntutmu untuk sering-sering telephon. Yang penting kita saling percaya akan hubungan kita. Dan kita saling setia dengan janji kita. Suatu saat nanti jika Allah mengijinkan,pasti kita akan bersatu dan tak akan terpisahkan . Kecuali karena Allah dan maut yang memisahkan." jawab Rose dengan lembut namun menyiratkan harapan yang dalam.
__ADS_1
"Sayang.....apa kamu marah ke aku ?" kata Nugraha. Suaranya terdengar sendu.
"Kenapa harus marah kalau kamu nggak melakukan kesalahan. Seandainyapun kamu berbuat salah dan kesalahan itu masih bisa di toleransi,apa aku juga harus marah?"
"Apa kamu sudah lupa dengan tabiatku Nug....
Rose masih seperti Rose yang dulu. Tak pernah mendendam,yang terpenting kita saling terbuka dan saling komunikasi dengan baik. Ada apa sebenarnya dengan kamu Nug.....tak seperti biasanya kamu seperti ini." selidik Rose. Perasaannya menangkap sesuatu hal yang terjadi dengan Nugraha.
"Kamu sekarang dimana Nug.....sepertinya saat ini kamu di dalam ruangan. Kamu baik-baik saja kan Nug......kamu sehat?" tanya Rose bertubi-tubi. Rose merasa Nugraha dalam kondisi tidak baik-baik saja.
"Sayang.....kapan liburan semester,datanglah ke sini ya sayang......aku sangat rindu?" kata Nugraha mengalihkan pertanyaan Rose.
"Nug......aku Rose....nggak ada yang bisa kamu tutupi dari hatimu,sekalipun kita berjauhan." jawab Rose. Nalurinya mengatakan jika Nugraha saat ini ada masalah yang di tutupinya.
"Nug......apa sekarang kamu sudah mulai main rahasia-rahasiaan denganku?" nada suara Ross sudah semakin tegas.
"Baiklah kalau kamu sudah mulai tidak jujur denganku. Aku paham dan aku mengerti. Aku akan ikuti kemauanmu,semuanya tergantung padamu." jawab Rose lagi. Dan Nugraha sudah tahu pasti tabiat Rose. Jika bicaranya sudah terdengar formal,itu menandakan jika Rose sudah mulai emosi.
"Sayang.....aku sedang di rawat. Aku sakit. Sepulang dari daerah aku tepar,dan sudah 3 hari ini aku dirawat.."jawab Nugraha berjeda dan menunggu reaksi dari Rose. Namun yang di tunggu seakan enggan untuk berkomentar. Rose masih menunggu kelanjutan cerita Nugraha.
Jika hanya sakit,Nugraha tidak akan bereaksi seperti ini. Pasti ada sesuatu yang di sembunyikannya.
"Sayang......kamu masih mendengarkan aku kan....?" tanya Nugraha.
"Lanjutkan ceritamu Nug.....aku kenal kamu tak semanja ini,walaupun sakit separah apapun."lagi-lagi jawaban Rose begitu tegas. Tak ada raut kemarahan,namun Rose sangat tidak suka dengan hal yang bertele-tele.
__ADS_1
" Iya sayang.....maafkan aku. Aku hanya takut sayang akan marah padaku. Aku akan ceritakan semuanya,dan aku yakin sayang bisa menilai ceritaku nanti." jawab Nugraha. Terdengar suaranya yang terdengar gamang.