
Menjelang makan siang,Rose dan teman-temannya sedang berkutat membuat ayam bakar dan ikan bakar di halaman pendopo. Perapian untuk membakarvayam dan ikan sudah di siapkan. Sebagian lagi telah selasi membersihkan ikan dan sudah di bumbui. Tungku perapian untuk membakar ada 2 tempat. Satunya untuk bakar ayam dan yang satunya lagi untuk bakar ikan.
Asap mengepul,aroma bumbu bakar menguar menyajikan aroma yang begitu harum menggoda. Bumbu bakar sudah di siapkan Rose tadi pagi sebelum pergi ke pantai. Sedangkan ayam sudah di kirim dari peternakan milik Tya dalam keadaan sudah si bersihkan. Dan ayam sudah di ungkep dengan bumbu yang di buat Rose.
Gelak tawa berderai di halaman rumah Budi. Pak Yusuf dan istrinya juga mba Diah kakak perempuan Budi ikut nimbrung diantara kami. Sedangkan Rose sedang menyiapkan sambal mentah seperti keinginan teman-temannya.
Janti,Tya dan Ima menyiapkan lalapan sebagai pelengkap sambal ikan bakar dan ayam bakar. Dian,Dewi dan dua teman lainnya menyiapkan daun pisang untuk alas makan. Rencana mereka akan makan bersama dengan beralaskan daun pisang yang di tata memanjang. Menu yang sudah ada,sedang di bagi sesuai jumlah orang yang ada di kediaman pak Yusuf,orang tua Budi. Mereka menyantap makanan bersama-sama seperti orang sedang mengadakan kenduri.
Percakapan mengalir diantara mereka. Dan rata-rata menyanjung masakan yang di buat bumbunya oleh Rose.
" Mba....pedes banget sambalnya." kata Satya yang duduk di samping Rose. Spontanitas Rose mengangsurkan air minum dalam gelasnya yang masih utuh. Momen itu tak lepas dari jepretan kamera Jati.
" Coba kamu pakai sambel terasinya aja....kalau ini nggak terlalu pedas karena ada campuran tomatnya. Kalau sambel koreknya pasti pedes karena buatnya pakai lombok setan. "kata Rose sambil menunjuk Janti yang ada di sebelah kananya.
" Ich yu Rose.....kenapa ngomong setannya nunjuk ke aku. Emang aku setan ?" sungut Janti. Dan kelakar Rose mengundang tawa semua yang ada di sana.
"Iya....kamu setan diantara Rose dan Satya. Katanya jika ada tiga orang yang sedang berdua,satu diantaranya adalah setannya." jawab Budi menyahut pembicaraan Janti.
"Nyamber aja luh Bud......kaya petir" jawab Janti.
__ADS_1
" Anakku bukan petir ya....dia cowok ganteng kesayangan ibu." jawab Bu Yusup ikut menimpali. Tidak ada kemarahan di wajahnya,beliau hanya ikut memeriahkan suasana keakraban teman-teman Budi.
"Hehehe....iya maaf Bu.....Janti hanya bercanda saja." jawab Janti cengengesan.
" Ganteng sich....cuma sayangnya masih jomblo." komentar mba Diah memperolok adik kesayangannya.
" Jangan buka kartu lah mba.....apa nggak malu,punya adek gegana sepertiku ?" jawab Budi sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Apa itu gagana Bud...?" tanya pak Yusup ingin tahu istilah yang di pakai putranya. Budi tidqk menjawab tapi malah tertawa terkekeh.
"Ganteng ganteng merana Pak.....!" kata Jati nyeplos. Dan jawaban Jati lagi-lagi mengundang tawa mereka.
"Kebetulan di acara ini bapak dan ibu lagi menseleksi calon mantu. Ada 8 cewek. Tapi kelihatannya yang belum berpasangan ada 3 orang. Dan bapak mau pilih salah satu diantara mereka. ." kata pak Yusuf menjeda perkataannya.
" Ayo pak....pilihkan gadis buat jagoan kita. Coba apa kita memiliki pilihan yang sama." jawab Bu Yusuf menyemangati suaminya.
"Dek....namamu siapa ?" tanya pak Yusuf dan menunjuk Satya.
"Satya pak....namaku Satya..." jawab Satya lantang. Namun Satya heran karena pak Yusuf menunjuknya.
__ADS_1
"Masa bapak pilih Satya buat aku. Satya kqn cowok. Aku laki-laki normal pak.....!" rajuk Budi.
Kembali pendopo itu ramai dengan celoteh teman-teman Budi.
" Diam dulu.....bapak juga masih waras. Masa milih cowok buat kamu." kata pak Yusuf. Semuanya terdiam. Dan kembali fokus ke pembicaraan pak Yusuf.
"Nak Satya....apa boleh bapak melamar mbakyumu buat jadi menantu bapak?" tanya pak Yusuf.
Satya bingung dengan arah pembicaraan pak Yusuf. Karena bingung Satya memgajukan pertanyaanya.
"Mbakyuku yang mana ya Pak....saya anak pertama dan mempunyai dua adik. Trus yang di maksud bapak mbakku, diantara para bidadari ini yang mana ya Pak?" tanya Satya bingung.
" Sebentar-sebentar.....itu yang pinter masak buaknnya mbakmu ya.....sapa namanya mba?" tanya pak Yusuf sambil menunjuk Rose.
" Oh saya pak....nama saya Rose pak.....saya memang mbakyunya Satya. Mbakyu tingkat." ceplos Rose sambil menyenggolkan lengannya ke lengan Satya.Jawabannya membuat teman-temannya memandang Rose. Jawaban lugas tanpa senyum tapi juga tanpa kemarahan. Datar seperti tembok.
"Ealah....lha wajah kalian mirip. Jadi bapak pikir kalian berdua kakak beradik. Mungkin kalian adalah berjodoh di kemudian hari.." kata pak Yusuf mendoakan Satya dan Rose.
"Aamiin...ya mujibasaillin" jawab Satya sembari mengusapkan tangan kirinya ke wajahnya.
__ADS_1
Rose spontan menoleh ke arah Satya. Dan Satya yang ingin melihat reaksi Rose juga memandang manik mata Rose. Keduanya saling pandang dan pandangan mata mereka sesaat terkunci. Masing-masing seakan sedang mencari sesuatubyang bisa di nilainya.
"Malah saling pandang....udah di lanjutkan makannya. Anggap saja tadi sebagai selingan. Ayo makan lagi. Bapak mau menikmati masakan calon mantu yang nggak jadi" jawab pak Yusuf. Mereka kembali menikmati makan siang dengan lahap namun santai.