Mencintai Dalam Diam

Mencintai Dalam Diam
MDD episode 111


__ADS_3

"Papa.....papa harus bantuin Ana dong Pa......


Kapan keluarga Kak Nug di panggil ke sini buat ngelamar Ana. Aku nggak mau kalau kak Nug sampai terlepas lagi lah pa......." rengek Ana. Usahanya selama ini sudah maksimal. Tapi Ana ingin juga memggunakan kekuasaan orang tuanya supaya usahanya berhasil sempurna.


"Kamu itu......Papa dari awal sudah bilang,taklukkan Nugraha dengan supportif. Bagaimana nanti kalau amnesianya sembuh total,apa kamu nggak akan malu. Jangan terlalu merendahkan diri untuk urusan cinta An....." jawab pak Ilyas. Beliau sangat menyayangkan perbuatan putrinya yang dianggapnya terlalu gegabah.


"Tapi kalau tidak seperti ini kak Nugraha sulit di jerat Pa.....padahal papa tahu sendiri aku sangat mencintainya." rajuk Ana.


"Tapi tindakanmu terlalu ceroboh....papa nggak suka akan hal itu. Kamu seperti perempuan liar yang nggak punya tata krama sama sekali. Tindakanmu sangat-sangat memalukan.." hardik pak Ilyas kepada putrinya.


"Sudahlah Pa.......semuanya sudah terjadi. Mau di kembalikan seperti sebelumnya juga sudah tak bisa. Anak kita yang salah dan sudah......." jawab Fitria sambil tertunduk tak mampu melanjutkan perkataannya.


" Bagaimanapun juga kita harus tetap menjaga harga diri keluarga kita. Jangan sampai aib ini menyebar ke luar Pa......" sambung bu Fitria.


"Iya.....Ana memang salah. Toh nggak ada yang tahu selain keluarga kita dan kak Nugraha. Dan aku yakin kak Nugraha juga tak akan bercerita ke siapapun,karena itu juga aibnya. Bahkan Ana bisa mengatakan kalau kal Nugraha yang sudah memaksaku." jawab Ana dengan entengnya.


" Benar-benar urat malumu sudah putus An.....


Papa sangat kecewa dengan tindakanmu." sentak pak Ilyas. Namun dalam hatinya beliau mengatakan kalau dirinya harus menyelamatkan harga diri keluarganya. Mau tidak mau beliau haris menggunakan kekuasaannya walaupun itu bertentangan dengan norma.

__ADS_1


"Tolong kamu panggil Nugraha untuk menemuiku sore nanti ." perintah pak Ilyas kepada putrinya Ana.


"Iya Pah......" jawab Ana.


" Bagaimana surat-surat yang dikirim gadis itu untuk Nugraha. Kamu apakan surat-surat itu. ?" tanya Pak Ilyas.


"Ada sama Ana Pah....aman." jawab Ana lagi.


"Untuk menutupi aib keluarga kita yang kamu buat. Papa terpakasa menuruti keinginanmu kali ini. Tapi kamu harus tanggung resikonya nanti, kalau terjadi sesuatu di luar prediksimu. Lambat laun Nugraha akan mengingat semuanya,kamu harus siap mental, jika kejadian ini akan menjadi bumerang untuk dirimu sendiri." kata pak Ilyas mengingatkan putrinya.


Ana mengangguk mendengar perkataan papanya. Semuanya sudah terpikirkan olehnya, kemungkinan yang akan terjadi sepahit apapun akan di terimanya.


Sore harinya Nugraha menghadap pak Ilyas komandannya.


"Selamat sore Ndan ." sapa Nugraha sembari memberikan hormat kepada pak Ilyas.


"Duduk Nug.....ada yang akan aku sampaikan." perintah pak Ilyas. Keduanya duduk satu meja di kediaman pak Ilyas komandannya.


"Bagaimana hubunganmu dengan putriku. Apa rencana kedepannya. Saya berharap kamu menjadi kesatria yang mampu mempertanggung jawabkan perbuatanmu." pertanyaan pak Ilyas kepada Nugraha.

__ADS_1


"Saya sangat kecewa denganmu Nug... Kamu telah menyalah gunakan kepercayaanku dengan menghancurkan nama baikku,dengan cara menghancurkan masa depan putriku.." kembali pak Ilyas menyampaikan unek-uneknya. Walauoun pak Ilyas tahu,kesalahan tidak mutlak di tangan Nugraha,namun beliau tidak ingin di rendahkan harga dirinya.


Nugraha hanya duduk terpekur mendengar perkataan pak Ilyas. Walaupun perbuatan yang di lakukan imbas dari kelakuan putri momandannya,namun jiwa kesatrianya mengatakan kalau dirinya tidak boleh jadi pengecut.


"Apa yang akan kamu lakukan untuk mempertanggung jawabkan kesalahanmu Nug?" tanya pak Ilyas.


"Siap Ndan. Saya akan mempertanggung jawabkan perbuatan saya dengan sangsi apapun saya terima." jawab tegas Nugraha.


"Sangsi kode etik pasti akan kamu terima,tapi hanya dengan sangsi kode etik,apa bisa mengembalikan harga diri putriku dan harga diriku?" hardik pak Ilyas kepada Nugraha.


"Siap komandan. Saya bersedia mempertanggungjawabkan perbuatan saya dan sangsi yang berlaku.!' jawab Nugraha.


"Saya minta kamu menikahi putriku. Sambil nanti kita ikuti proses sidang kode etik untukmu."jawab Pak Ilyas.


"Saya menunggu itikad baik keluargamu untuk meminang putriku. Saya berharap keluargamu datang ke sini secepatnya. Karena saya tidak mau menanggung terlalu lama aib yang telah kalian lakukan." tegas pak Ilyas.


"Siap komandan. Kedua orang tua saya akan segera saya hubungi untuk memghadap komandan." jawab Nugraha.


Hatinya bergemuruh menahan emosi dan malu atas tindakannya. Dan ada rasa sesal karena telah mengecewakan kedua orang tuanya. Tapi sesal tak berguna karena semuanya sudah terjadi.

__ADS_1


__ADS_2